Kesultanan Indrapura April 30, 2008
Posted by wawasanislam in sejarah.trackback
Naskah Ringkasan Penelitian
//Oleh: Yulizal Yunus
Indrapura, Kesultanan (Kerajaan Islam Malayu, 1100 – 1911) terletak di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat sekarang. Pernah jaya abad XVII – XVIII, karena posisinya sebagai kota pantai, pusat perdagangan dengan komiditi unggulan emas dan lada, berbasis pelabuhan Samuderapura dengan armada kuat, ramai dikunjungi kapal dagang dan jadi rebutan pengaruh kekuatan asing (Yulizal Yunus, 2002).
Kesultanan Indrapura berdiri di atas keruntuhan Kerajaan lama Indrapura yakni periode Kerajaan Teluk Air Pura abad IX sm – XII m (80 sm – 1100 m). Kerajaan Indrapura lama didirikan anak cucu leluhur Iskandar Zulkarnaini (356-324 sm, putra Pilipeaus raja ke-2 Masedonia, 382-336 sm). Tidak disebut nama pendirinya kecuali pimpinan adat. Ada disebut tahun 134 sm lahir Indo Juita (keturunan Iskandar Zulkarnaini) kemudian tahun 110 sm menikah dengan Inderajati moyang Indrapura (asal Parsi – Turki) dan melahirkan keturunan raja-raja.
Pada episode berikutnya Zatullahsyah (anak cucu Iskandar Zulkarnaini) datang ke Air Pura dan mendirikan Kerajaan Air Pura, Teluk Air Pura (awal abad ke-12). Wilayahnya adalah Muara Campa, Air Puding dan Air Pura dekat Muara Air Sirah dan Sungai Bantaian Indrapura sekarang. Basis perekonomian rakyat tani (ladang) dan nelayan serta mencari hasil hutan.
Masa pemerintahan Zatullahsyah datang 3 orang anak saudara kandungnya (Hidayatullahsyah) yakni Sri Sultan Maharaja Alif, Sri Sultan Maharaja Depang dan Sri Sultan Maharaja Diraja, dari Rum lewat Bukit Siguntang-guntang. Tidak lama di Air Pura, Sri Sultan Maharaja Diraja mendapat perintah Zatullahsyah, pergi ke Gunung Merapi, didampingi temannya Cati Bilang Pandai dan dibantu putra sepupunya Sultan Muhammadsyah (putra Zatullahsyah – Dewi Gando Layu). Di sana ia mendirikan kerajaan di Parhyangan (Pariangan) yang disebut sebagai nagari asal seperti juga Air Pura. Sri Sultan Maharaja Diraja kawin dengan Puti Jamilan dan melahirkan Dt. Ketumanggungan, setelah Sri Sultan wafat Puti Jamilan dikawini temannya Cati Bilang Pandai dan melahirkan Dt. Parpatih nan Sabatang.
Di Kerajaan Air Pura kepemimpinan berlanjut dalam empat episode sejarah. Dua episode I (Kerajaan Air Pura – Indrajati) dan dua episode II (Kesultanan Indrapura – Era Regen). Dua episode I Kerajaan Air Pura dilanjutkan kepemimpinan Kerajaan Indrajati (Indra di Laut) abad XII – XVI (1100 – 1500). Berawal dari datangnya Indrayana disebut putra mahkota Kerajaan Sriwijaya yang terusir karena masuk Islam, menetap di Pasir Ganting dan mendirikan Kerajaan Indrajati. Ia sendiri raja ke-1 dan raja ke-2 anaknya bernama Indrasyah Sultan Galomatsyah. Dlam perjalanannya kerajaan ini pernah diincer ekspedisi Pamalayu I (1247) di samping Darmasyraya, Siguntur yang kemudian menjadi Kerajaan Pagaruyung (1343).
Dua episode Kesultanan Indrapura berikutnya abad XVI – XIX (1500 – 1824) dilanjutkan era kepemimpinan Regen abad XIX – XX (1824 – 1911). Episode sejarah sampai naik tahtanya raja ke-11 Kerajaan Indrajati Cumatang Sultan Sakelab Dunia gelar Sultan Iskandar Johan Berdaulatsyah, kerajaan berubah menjadi Kesultanan Indrapura dengan raja ke-1 Cumatang sendiri. Penggalan sejarah berikutnya masa Sultan Usmansyah gelar Sultan Firmansyah, tahun 1550 dikukuhkan batas wilayah. Utara berbatas Airbangis-Batang Toru (Batak), Selatan berbatas Taratak Air Hitam Muara Ketaun, Timur berbatas Durian ditakuak Rajo, Nibuang balantak mudik lingkaran Tanjung Simeledu (sepadan Jambi) dan Barat berbatas laut leba ombak badebu (Samudra Indonesia). Wilayah semakin menyusut diawali berberapa daerah Kesultanan Indrapura pro Inggiris yakni Mukomuko, Banta, Seblat dan Ketaun memisahkan diri tahun 1695 jadi Kerajaan Anak Sungai dengan ibu negeri Mukomuko, dipimpin Sultan Gelomatsyah.
Organisasi pemerintahan Kesultanan Indrapura memakai sistem kabinet parlementer, dipimpinan tertinggi Sultan (Raja), didlaksanakan Perdana Mentri (Mangkubumi) dibantu Menteri Nan-20 dari para penghulu (6 di Hulu, 8 di tengah, 6 di Hilir). Raja-raja Kesultanan Indrapura banyak sekali, di antaranya keturunan asli Indrapura dan dianggap keturunan Iskandar Zulkarnaini (Marjohan, 2002 baca juga St. Sulaiman, 2002) menjadi raja ialah: (1) Zatullahsyah paman Sri Sultan Maharaja Diraja, (2) Daulat Jamal al- Alam Sultan Sri Maharajo Dirajo Muhyiddinsyah Sultan Muhammadsyah, (3) Sultan Jamal al-Alam Daulat Sultan Sri Maharajo Dirajo Alamsyah, (4) Sultan Jamal al-Alam Sri Sultan Firmansyah (5) Sultan Jamal al-Alam Sultan Daulat Alamsyah, (6) Sultan Jamal al-Alam Sultan Usmansyah Sultan Muhammadsyah (Tuanku Berdarah Putih), (7) Sultan Jamal al-Alam Sultan Firmansyah Sultan Mandaro Putih gelar Tuanku Hilang di Parit), (8) Sultan Jamal al-Alam Sri Sultan Muhammadsyah (Marah Muhammad Ali Akbar Sultan Muhammadsyah), (9) Iskandar Alam Daulat, (10) Sultan Alam Mughatsyah, (11) Sultan Bagagar Alamsyah, (12) Sultan Usman Sultan Muhammadsyah, (13) Sultan Jamal al-Alam Sultan Maradu Alamsyah, (14) Sultan Alidinsyah (15) Sultan Samejalsyah keturunan Putri Gembalo Intan anak Sultan Alidinsyah raja Indrapura (1513), (16) Sultan Baridinsyah (1520), (17) Dang Tuanku (1520 – 1524) beristeri Puti Bungsu, makamnya di Bukit Selasih Batangkapas, (18) Usmansyah Sultan Firmansyah (1534 – 1556), (19) Sultan Jamalul Alam YDD Sultan Sri Gegar Alamsyah Sultan Muhammadsyah (1560), (20) Sultan Zamzamsyah Sultan Muhammadsyah , 1600-1635, (21) Sultan Khairullahsyah Sultan Muhammadsyah (1635-1660), (22) Sultan Bangun Sri Sultan Gandamsyah, (23) Sri Sultan Daulat Pesisir Barat, (24) Inayatsyah (1640), (25) Sultan Mal(z)afarsyah Kerajaan Indrapura (1660-1687), (26) Marah Amirullah Sultan Firmansyah, (27) Raja Adil (1680), (28) Marah Akhirullah Sultan Muhammadsyah (w.1838), (29) Raja Perempuan Puti Rekna Candra Dewi, (30) Raja Perempuan Puti Rekna Alun (Tuanku Padusi Nan Gepuk), (31) Raja Gedang di Mukomuko, (32) Sultan Syahirullahsyah Sultan Firmansyah (1688-1707), (33) Sultan Zamzamsyah Sultan Firmansyah Tuanku Pulang Dari Jawa berhubungan dengan Kesultanan Jogyakarta (1707-1737), (34) Sultan Indar Rahimsyah Sultan Muhammadsyah Tuanku Pulang Dari Jawa (1774-1804), (35) Sultan Inayatsyah Sultan Firmansyah, 1804-1840, (36) Sultan Muhammad Jayakarma (1818 – 1824), (37) Sultan Takdir Khalifatullah Inayatsyah, (38) Abdul Muthalib Sultan Takdir Khalifatullahsyah (kemudian menajdi regen di Mukomuko, pensiun 1870). (39) Regen Marah Yahya Ahmadsyah (1825-1857), (40) Regen Marah Arifin (1857-1858), (41) Regen Marah Muhammad Baki Sultan Firman Syah (1858-1891), (42) Regen Marah Rusli Sultan Abdullah (1891 – 1911).Banyak lagi raja yang tidak dapat dicatat kebesarannya.
Pengaruh Kerajaan Indrapura amat luas. Bandaro Harun (Harunsyah Sultan Bengawan), ke Brunei (1625) disebut ayah Dato Godan salah seorang leluhur Dipetuan Sultan Haji Hasanal Bolkiah Mu’izzadin Waddaulah. Rajo Putih Indrapura ke Natal dan mendirikan Kerajaan Lingga Pura di sana kemudian dikenal leluhur dari Sutan Syahrir dan Sutan Takdir Alisjahbana (Putri Bulkis Alisjahbana, 1996:43-44). Dari asal Puti Indrapura pindah ke Mukomuko dan Bintuhan, terbuka pula tabir rahasia adanya hubungan Megawati Sukarno Putri dengan Kesultanan Indrapura, ketika event pemberian gelar Puti (dari Mukomuko dan Bintuhan dulu bagian dari Kesultanan Indrapura) kepadanya di Bengkulu tahun 2001. Taufik Kemas dalam acara itu memakai tutup kepala dari Bintuhan kemudian memakai yang dari Mukomuko (Agus Yusuf dari Sutan Aminullah, 2003).
Sebagai kerajaan bahari terbesar dan jaya, pernah menjadi ajang percaturan imperialisme asing berebut pengaruh, di antaranya secara kronogis dapat dicatat: (1) Aceh (ketika itu asing) tahun 1521 menguasai dagang lada dan emas di perairan Indrapura. 1625 Aceh menempatkan seorang wakilnya/ panglima (lihat juga Navis, 1984) di bandar Indrapura, secara de facto berakhir 1632, tetapi tetap bercokol sampai abad ke-17 dasawarsa ke-8 di Pantai Barat Sumatera. (2) Belanda (Rusli Amran 1985, lihat juga Errens 1931, baca Stibe 1939) memasuki wilayah Indrapura (1602, 20 Maret), Coen (VOC) mengirim kapal dagang (1616) merebut lada dan emas dari Aceh dan Inggiris, kandas dicegat raja Hitam, kemudian (1664) berhasil dan memungut pajak lada Indrapura, setiap 1200 bahar lada dikeluarkan 1 bahar, menghabisi wilayah kantong Aceh dan merebut kapal Inggiris di Indrapura (1656), terpaksa ke meja perunding damai di Sungai Bungin (Batangkapas) soal perdagangan lada Indrapura (1660), mendirikan Loji VOC 1662 di Pulau Cingkuk, tersayat dan terpaksa lagi ke meja perundingan Sandiwara Batangkapas disusul Perjanjian Painan (Painansch Contract, 6 Juli 1663), mendirikan Loji VOC di Indrapura (1664), hasut Air Haji (Bruins,1936) memberontak terhadap Indrapura (1682). Jacob Groenewegen mulai berkuku di Pantai Barat Sumatera mengawali kolonialisme, Januari 1685 Indrapura dinyatakan darutat, Batavia perintahkan hancurkan lada Indrapura untuk taklukan Indrapura. Rakyat marah, 6 Juni 1701, lonji VOC di Indrapura diserbu rakyat Pesisir, pegawainya dibunuh, kecuali satu orang dibiarkan mengadu ke kantor pusat VOC di Padang, Belanda marah dan hancurkan tanaman lada. 1740, Indrapura bersama Abdul Jalil raja Minangkabau memerangi Belanda dibantu Inggiris. Belanda dapat angin lagi pasca perjanjian masang 22 Januari 1824 Belanda (van den Berg) dan Pidari (Paderi) berdampak Indrapura bangkrut, semua kapal berkebangsaan apa saja bongkar muat barang di Padang tidak lagi di Indrapura bahkan tambang emas Salido dikuasai pasca pergantian Raff dengan Du Puy (1 Januari 1824). Tahun 1865 Belanda dirikan sekolah sejenis HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Indrapura dengan tujuan melumpuhkan Islam (de-Islamisasi), rakyat tahu niat jahat itu, lalu ditutup. (3) Inggiris terisolasi di perairan Indrapura (1618) dalam berdagang landa pasca 2 tahun monopoli, baru bisa meraut lada Juni 1684 dan mendirikan Loji di Indrapura. 1685 mendapat dukungan dagang dari Raja Ibarahim (bekas penghulu Pariaman, 1676) di Indrapura, juga dukungan keponakan raja Minangkabau Sultan Abdul Jalil Saruaso berunding dengan raja Indrapura, melawan misi Belanda hancurkan lada Indrapura, Juni 1685 East India Company (EIC) mendirikan kantor perwakilan settlement di Indrapura, Majunto, Taluk dll., menguasai Selebar, membakar kemarahan Belanda, baru reda pasca Perjanjian Paris (1763) membagi wilayah dagang: Inggiris ke selatan (Majunto – Silebar) dan VOC ke utara (Indrapura, Tiku, Air Bangis, Natal dll.). Tahun 1686, Kapal Royal James gagal raut lada, 30 dari 100 tentara meninggal diserang penyakit di Indrapura. 1687, Agustus kantor Inggiris diserang rakyat Indrapura, banyak korban di pihak Inggiris dan merampas meriam serta melumpuhkan 5 kapal yang datang kemudian dari Eropa, juga diserang kekuasaan Sri Sultan Ahmadsyah seorang calon raja Pagaruyung yang lari ke Bengkulu. (4) Cina tahun 1989 datang berdagang ke Indrapura 9 tahun pasca perjanjian pemuka kota pantai dari Ombak Ketaun (Pesisir Selatan) hingga Air Bangis (Pesisir Utara, Pasaman Barat sekarang) ditandatangani (1680) oleh Raja Adil dan Muhammadsyah (sultan Indrapura) sedikit memberi ruang gerak kepada VOC berdagang lada dan emas.
Bukti sejarah kebesaran Kesultanan Indrapura, tercatat 218 situs dari 7000 situs di Sumatera Barat. 44 situs diakui Cagar Budaya dan dikukuhkan Mendikbud RI. Di antaranya (1) bekas istana Raja/ Sultan (1824), (2) bekas istana Regen di Pasar Minggu dekat peninggalan meriam R.Gil Pin FE CIT.J768, (3) Rumah Mangkubumi (perdana menteri) Kesultanan, (4) Rumah Gadang Mandeh Rubiyah di Lunang, berfungsi museum penyimpan benda-benda peninggalan Bundo Kandung seorang raja putri Kerajaan Minangkabau yang mengirap (berjalan punya etape tertentu) kembali ke Lunang dari Kerajaan Pagaruyung pasca kalah perang melawan raja Tamiai Tiang Bungkuk (1520). Diakui Mendiknas sebagai Museum Lokal Sumatera Barat di Pesisir Selatan. Juga berfungsi tempat kediaman Mandeh Rubiyah Rakina (keturunan ke-7 dari Bundo Kandung). (5) Situs dalam bentuk arsitektur sakral (imarah diniyah) wujud Masjid Agung (1850) masa Regen ke-2 Marah Ripin. (6) Gobah komplek pemakaman raja-raja Kesultanan Indrapura seluar 0,5 Ha. (6) Makam raja Tuanku Badarah Putih. (7) Makam Bundo Kandung (Salareh Pinang Masak, raja perempuan Pagaruyung), (8) Makam Dang Tuanku, (9) Makam Puti Bungsu istri Dang Tuanku. (10) Makam Cindur Mato raja dan tokoh legendaries Minang.*** Yulizal Yunus.
Referensi
A.A. Navis,
1984 Alam Takambang Jadi Guru: Jakarta :PT. Pustaka Grafitipers.
Agus, Yusuf
2001 Sejarah Pesisir Selatan , Jakarta : PT. Arina Yudi
Bruins, B.A.
1936 Laporan ( Memori) Countroleur. Painan: Arsip Nasional
Errens, A.C.F. Van
1931 Memori Cuontroleur. Painan: Arsip Nasional
Marjohan. BS.c,
tt Sejarah Kerajaan Indrapura. Pancung Soal:
Puti Balkis, Alisyabana
1996 Natal: Ranah nan Data. Jakarta : Dian Rakyat
Rusli, Amran
1985 Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Jakarta : Sinar Harapan
———————,
1985 Sumatera Barat Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan
St. Chalifah, Djamuir
tt Sejarah Kerajaan Indrapura. Pancung Soal: Kacabdin Parsebuhub.
St. Sulaiman, Arbi
tt Sejarah Kebudayaan Indrapura. Pancung Soal; Kacabdin Parsebudhub
Stibe,
1939 Encyclopedie Van Nederlansch Indie. S. Graven Hage: Arsip Nasional
Yulizal, Yunus
2002 Kesultanan Indrapura dan Mandeh Rubiah di Lunan, Spirit Sejarah dari Kerajaan Bahari hingga Semangat Malayu Dunia. Padang: Pemkab Pessel – IAIN-IB Press.
Sebagai cucu buyut dari Indrapura, Muara Sakai ini, saya baru tahu
dan tertarik sekali untuk mempelajarinya lebih dalam. Karena saya
anak rantau yang sudah berusia 50 tahun sekarang.
Mohon beritakan ke alamat email yang tertera ini, kalau ada yang
lebih detail lagi. Wassalam.
Assalamu alaikum wr. wb,
terus terang sejarah kerajaan indrapura ini belum banyak yang mengetahui tentang hal ini. saya sebagai anak cucu dari ahli waris kerajaan Indrapura bersama orang tua saya ingin sekali membuat sebuah buku tentang sejarah kerajaan Indrapura ini agar dapat di publikasikan dan diketahui oleh masyarakat khususnya masyarakat melayu. untuk me-realisaikan hal ini banyak sekali kendala dan kurangnya dukungan. Kami mempunyai sejarah lengkapnya dari awalnya Sultan Iskandar Zulkarnain hingga masa Raja/Regent terakhir Sultan Marah Rusli. Kami dengan rendah hati ingin meminta saran dan masukan dari Bapak sebagai orang yang ahli dan mengetahui banyak tentang sejarah, apa yang harus kami lakukan agar sejarah ini dapat terungkap dan dapat diketahui masyarakat luas. jika perlu kita buat suatu komunitas masyarakat Indrapura yang jelas sangat beda budaya dengan masyarakat Minang Kabau
Assalamu alaikum wr. wb,
Terus terang kami sebagai warga indrapura ingin mengetahui tentang sejarah kerajaan indrapura, karena pada saat ini banyak diantara penduduk inderapura sendiri tidak begitu mengetahui tentang kerajaan indrapura. Wassalam.
silahkan kunjungi juga blog saya di http://sutanaldi.blogspot.com. belum sempurna betul, masih dalam tahap pengerjaan. setelah itu mohon memberi masukan dan kritikan siapa tau ada cerita yang tidak cocok atau ada kata-kata yang salah dalam penulisan. Karena tulisan-tulisan itu rencana nya akan diterbitkan dalam sebuah buku, agar bisa diketahui oleh masyarakat luas tentang dulunya di daerah Indrapura pernah berdiri suatu kerajaan besar
klo boleh tahu nama2 raja ini diperoleh dimana? apa Anda memiliku ranjinya ato pernah mengunjungi sultan firmansyah, Angku Burhanuddin di Padang?
“Assalamua’alaikum wr wb”
terus terang saya kelahiran indrapura dan juga keturunan anak cucu raja indrapura belum banyak mengetahui tentang sejarah di indrapura….. dgn adanya cerita dimuat di situs ini saya jadi tergugah ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah indrapura… dan ada juga nama raja Tuan Ku Balindung yang belum terdaftar di nama2 raja diatas. yang sampai sekarang ini pembangunan pembuatan istana raja Tuan Ku Balindung belum juga selesai.
saya juga orang inderapura (geti hilir) tapi bukan keturunan raja-raja, paling tidak sebagai orang inderapura asli saya pingin tahu tentang sejarah kerajaan di inderapura. Waktu kecil bapak saya sering cerita tentang raja-raja yang ada di inderapura saya pikir cuma dongeng untuk menyenangkan anak-anaknya saja.
halo teman2 semuanya, khusus inderapura
Dari semua tulisan tentang Kerajaan Inderapura tersebut belum dapat menjelaskan secara utuh tentang kerajaan kesultanan Indrapura. Sehingga Kerajaan indrapura tetap misteri dan tanda tanya bagi masyarakat di berbagai kalangan. Disini saya menyampaikan bahwa sampai dengan saat ini kami Memiliki dokumen penting yang nyata dan otentik sebagai saksi keberadaan Kerajaan Usali Kesultanan Indrapura di masa lalu. Barangkali hanya satu-satunya bukti Otentik tertulis tentang keberadaan Kerajaan Usali Kesultanan Indrapura di Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat. Dokumen tersebut Berupa Manuskrip yang secara tradisi disebut Ranji Melayu Tinggi, Ranji Tinggi Indrapura. Ranji Silsilah keturunan raja-raja Kesultanan Indrapura ini merupakan Manuskrip asli yang kami simpan sebagai ahli waris, sebagaimana keberadaan kaum, suku atau dinasti harus memiliki ranji silsilahnya sebagai bukti diri. Didalam Ranji tercatat Seluruh Sultan-Sultan yang memerintah Kerajaan Kesultanan Indrapura dari generasi ke generasi. Ada 33 Sultan, Raja atau Ratu diiringi catatan dan uraian singkat di bawah nama masing-masing. (Penulis Putra dari Putri Rahmi Hatifah. Putri Rahmi Hatifah kemenakan dari Sutan Boerhanoedin Gelar Sultan Firmansyah Alamsyah)
Saya sebagai orang indrapura sangat bangga sekali dg sejarah ini, rupanya msh banyak anak muda yg peduli tentang sejarah daerahnya.salam untuk semua
jika ada waktu, apa saya boleh melihat ranjinya-silsilaah kerajaan inderapura? karena kami juga mempunyai hubungan,keturunan, dari kerajaan indrapura. Dan sampai saat ini saya belum tahu banyak mengenai kerajaan itu. untuk keterangan lebih lanjut, Kakek buyutku bernama tengku lareh dan kakekku sendiri dari pihak ibu bernama marah makmur. Keluargaku pernah bercerita kalo diatas tengku lareh ada tengku regent dari sini saya ingin menelusurinya lebih jauh lagi.
saya yuli (geti-hilir) p’ uul, p’ marah indra, p’ rusdal p’ yunaldi, p’ aan, p’ yustian kenalan dong, inderapuranya di mana. biar kita bisa saling bertegur sapa, saling bersirahturrahhim dan berbagi cerita tentang kampung kita, dari kita2 anak rantau atau kirim alamat FBnya ya. Thank sebelumnya.
saya dengar cerita dari kampung, katanya di inderapura akan dijadikan kab.saya selalu berharap dan semoga benar, mari sama2 kita berdo’a semoga ALLAH mengabulkan & meridho’inya amin.
p’ yulizal yunus aslinyo mano pak, mano tahu kami kenal keluarga p’ yulizal di kampung.
Ibu yuli cr saja saya FB dgn nama indra marbais atau email iindra4@yahoo.co.id
saya sbg putra daerah indrapura didesa geti hilir,baru pertama x ini mengetahui adanya kerjaan indrapura yang begitu jaya,tapi saya rasa itu belum lengkap krn disini tertulis adanya makam dang tuangku knapa tidak disebutkan adanya makam sutan nan gombang,sutan pangaduan yang nota bene makamnya ada dimuara sakai tersebut…trimakasih,dan maaf kalau sekiranya koreksi ini salah
Pak Yunus kalo bisa gimana sejarah Kerajaan Indrapura bisa ada di Kerinci. Tolong perjelas bagi kami yang belum tahu ini.Sebab kami butuh informasi tentang hal itu untuk jadi referensi untuk kerinci.THX.
Setelah membaca komentar dunsanak, banyak yang mempunyai bukti sejarah berupa manuskrip atau ranji, kalau menurut pendapat ambo sebaiknya dokumen tersebut di terbitkan dalam bentuk buku biar tersebar luas, dan dari publikasi tersebut akan ada masukan dari berbagai kalangan, yang nantinya akan memperkaya. Nilai sejarah masa lalu memang akan tercecer dimana-mana, maka untuk menghimpun yang terserak itu tekniknya adalah memublikasikan yang ada di beberapa dunsanak turunan Kesultanan. Majalah Forum Lintas Rantau tahun 2002-2003, pernah memuat anak cucu keturunan Kesultanan Indrapura, Sutan Syahrir Perdana Menteri RI), Sutan Takdir Alisyahbana (satrawan), Puteri Balqis (jurnalis),dan Megawati Sukarno Puteri ada darah Kesultanan Indrapura dari pihak Ibu Fatmawati.
wassalam
anM
Yuliati, kalau ndak salah ambo punyo kawan namo iko, wakatu di SMP apo iyo nyo ko? tingganyo di Geti Ili juo…
email ambo edalmen@yahoo.co.id.
Saya orang Batangkapas Pesisir Selatan, dari salah satu tulisan Pak Yulizal Yunus menyebutkan Raja Inderapura ke 17 adalah Dang Tuanku (1520 – 1524) beristeri Puti Bungsu, makamnya di Bukit Selasih Batangkapas. Memang saya tahu bahwa kuburan itu ada, kami menyebutnya ” TAMPAT “. Yang saya tanyakan ; apakah suatu kebetulan nama itu adalah nama-nama dalam cerita Cindur Mato yang diyakini orang Minang sebagai ” sepenggal episode ” dalam sejarah Minangkabau. Dalam Curai Adat Paparan Alam Minangkabau juga disebutkan juga hal tersebut. Saya makin bingung – kalau Dang Tuanku yang disebut pak Yulizal itu adalah orang yang sama yang diceritakan dalam cerita Cindur Mato dan Curai Adat tersebut – sebab Dang Tuanku yang jadi raja di Inderapura tahu tahun dan tarikhnya, sementara Dang Tuanku dalam cerita Cindur Mato indak tahu zaman jo kurunnyo. Mudah2an saya memang bingung, oleh karenanya ada yng bisa menjawab kebingungan saya ini nggak ? Wassalam.
Indopuro bahasa loka e..
[...] http://wawasanislam.wordpress.com/2008/04/30/kesultanan-Inderapura/ [...]