jump to navigation

“Jujur” Tanpa Bekal Pengalaman Empiris “Jujur” Tanpa Bekal Pengalaman Empiris Juni 6, 2008

Posted by wawasanislam in opini.
trackback

/ Yulizal Yunus

Banyak pengalaman dan pengetahuan menunjukkan, budaya luruih tabuang (“jujur” tanpa bekal pengalaman empiris) tak jaminan dipercayai. Budaya itu suatu kali kalau tidak menciderai (menzalimi) teman, paling tidak dirinya akan terciderai (zhalimun linafsihi/ menzalimi diri sendiri). Karena “jujur” tanpa kontrol pengalaman, suatu kali “jujur”nya (luruih tabuang) itu dimanfaatkan para pihak yang berkepentingan, tak disadari, ia sudah dimasukan ke proses pembusukan.

Dalam perspektif manajemen dan kepimpinan politik, memimpin memerlukan kejujuran yang ditunjang pengalaman. Kejujuran plus pengalaman akan melahirkan enegri keberanian. Artinya memimpin tidak cukup dengan modal “jujur” saja tanpa pengalaman. Ia jujur, lalu diputuskan sepihak: pilih saja dia!, bisa salah menjatuhkan pilihan. Si Dia itu memang pandai dan punya keahlian satu bidang ilmu dan punya gelar akademik yang meyakinkan. Namun si dia itu dalam perjalanan hidupnya tidak pernah punya pengalaman organisasional atau tak pernah berorganisasi. Ia tidak punya pengalaman menejerial yang kuat, tidak punya pengalaman politik atau tidak pernah mengikuti trik-trik politik dalam memenej in group-nya meraih kemenangan dalam suksesi kepemimpinan sebuah lembaga atau organisasi (partai, lsm, lembaga akademik). Kalau minus pengalaman seperti ini, suatu saat terpilih dan menjadi top menejer, ia berpotensi kacau beliau. Integritas pimpinan kolektif tidak akan terurus. Di dalam kolektifitas pimpinan itu akan lahir kelompok-kelompok baru. Kelompok yang tak peduli, tindakannya asal senang saja (abs/ asal bapak senang), di permukaan tetap setia. Yang kurang senang menjarak, bahkan oposisi. Segala usulan dan tindakan top leader dimatikannya, puncaknya pimpinan akan dijadikan permainan para pihak berkepentingan.

Menjatuhkan pilihan kepada si dia yang jujur jadi pimpinan tapi tanpa bekal pengalaman empiris itu, sama menanam buah pahit. Ia akan tumbuh jadi pohon, berdahan, beranting, bedaun, berbunga, berputik dan berbuah maka buahnya itu akan pahit. Jangankan orang lain dirinya pun akan terzalimi akan cidera dalam pergaulan. Apalagi nanti ia punya budaya sectarian, anti palangis (berbeda kelompok dalam pimpinan kolektifnya), ia tak mau berbeda pendapat, orang memberinya input gelasnya pun penuh, ditambah juga lalu tumpah. Kontribusi pikir sedikit menyentuh kekurangannya langsung alergi, bahkan tak mau bertanya sama sekali, pada gilirannya jadi pimpinan gawat dan tidakannya selalu darurat alias trik pemadam kebakaran, reaksioner yang penting api padam.

Kalau ia pejabat dalam kekurangan seperti tadi tidak saja berpotensi melakukan kesalahan, bahkan bisa merusak tatanan yang telah baik karena “kebodohan” (kekurangan bekal pengalaman empiris). Demikian pula dalam penyegaran staf/ pimpinan akan berpotensi melakukan manajemen politik amputasi, yang tak suka penggal saja. Aksinya tidak by design, menjalani komitmen tidak konsisten. Akan nyata dalam kepemimpinannya paradigma “like and dislike” (suka atau tidak suka). Akhirnya melahirkan konflik. Oke-lah kalau punya trik manajemen konflik, kalau tidak, safety valve (katup pengaman) konflik kearah integrasi akan terus kabur, pada gilirannya konflik berubah bentuk jadi perang, lalu jadi boomerang merusak image dirinya bahkan menjatuhkannya dari posisinya karena dinilai pada dirinya itu telah kehilangan komitmen nurani, dan janji (yang diprogramkan) sering tak terisi (tak terjalani).

Pemimpin yang terjebak dalam situasional seperti tadi akan mudah diintervensi tim suksesnya yang masih setia, ya intervensi politik (siapa yang akan diposisikan), intervensi finansial (membagi kue proyek) bahkan intervensi menejerial (perencanaan yang menguntungkan sepihak, organisional yang dikuasai orang awak, aktuiting (menggerakkan staf) dalam paradigma “suka tak suka”, control berada pada monev (monitoring dan evaluasi) pembisik dsb. Dalam memimpin ia tidak akan menjadi meneger yang baik, tetapi menjadi politisi yang kinerja beroreantasi kepada pemuasan kehendak pemilihnya (kalau tidak nanti tidak dipilih lagi), dan bila ia menghargai anggota (in groupnya) akan terlihat tidak professional dan diberikan tidak pada proporsi yang sebenarnya bahkan emosional. Kalau yang mengisi kepalanya jabatan, yang teringat menghargai teman in groupnya dengan jabatan. Pada hal belum tentu temannya ingin dihargai jabatan. Bagi sebagian temannya “sudi saja beliau itu berkomunikasi, bertanya kondisinya, apalagi minta sheering pendapat meskipun saat menghadapi kesulitan saja”, sudah dinilai sebuah penghargaan besar. Tidakkah komunikasi itu key (kunci) dari pembaharuan (inovasi). Artinya untuk memasuki “era baru” dan “dunia baru” yang maju, di samping konsolidasi program, anggaran, SDM dan kelembagaan yang terkonsolidatif, memerlukan komunikasi yang intens tidak saja dengan in groupnya tapi juga dengan out groupnya dalam/ luar lembaganya atau network yang luas.

Secara empiris, kalau dengan jabatan menghargai orang yang diakui secara jujur berjasa, apalagi ia tidak berambisi atau taroklah membutuhkan, semestinya tidak hanya menekankan pada perinsip sendiri top saja: “saya jujur-jujur saja, dia berjasa, harus diposisikan, meskipun dulu ia tidak menyatakan bargaining position (artinya anda saya menangkan, nanti di mana saya anda tempatkan)”. Tetapi, niat baik itu mesti secara jujur pula dikatakan kepada teman in group yang akan diberi jabatan itu dan punya interval waktu untuk berkomunikasi dengan teman in groupnya. Dan, kepada seluruh anggota in group yang menjadi tim sukses dulu semestinya juga dari awal diberi tahu. Sehingga ia boleh mempersiapkan kekuatannya, setidaknya ada waktu berfikir, justru berfikir itu pelita hati. Artinya jangan kepepet waktu pemberitahuan kepada orang katakanlah yang akan “digendong” (diberi jabatan balas jasa atau memenuhi komitmen bargaining position tadi) itu dan pendukung in group. Apalagi tidak memberitahukan kepada yang bersangkutan dan kepada pendukungnya. Sementara di out group, rival (saingan) ingin merebut posisi, ia sudah menyusun kekuatan. Ia sejak lama diberi tahu groupnya juga anggota pendukung dalam groupnya, sejak lama diusung dan dibidani pimpinan groupnya memenangkan anggotanya dalam sebuah pertarungan.

Terkesan kalau yang diusung top leader tidak diberi tahu, atau diberi tahu tapi tak cukup waktu baginya dan pendunkung in groupnya mengatur, sementara rival (lawan) sudah sejak lama lobbi menyusun kekuatan dan siap menang, berakibat fatal bagi yang diusung dan yang mengusung. Yang diusung akan kalah dan yang lebih besar lagi kekalahannya adalah yang mengusung (top leader). Secara skematis dapat dilihat dalam skema sbb.:

Dari skema ini terlihat, kekalahan yang diderita pengusung satu di antara kebodohan berpolitik. Yang diusung dikalahkan (tanpa ia tahu namanya diusung atau hanya diberi tahu saat akan berlangsung pesta demokrasi lalu ia tak setuju tapi pengusung memaksakan juga karena diakuinya secara “jujur”, ke-skillannya dan berhak menerima balas jasa, apa nyana yang diusung itu tak dipilih, ia kalah, berarti ia sedang terciderai kalau tidak tidak terzalimi, atau setidaknya sedang dijatuhkan imagenya dan reputasinya. Pertanyaannya kenapa namanya dicalonkan kalau tak diurus proses rekrut suara pemilih in group dan out group.

Ini namanya kata orang arif, “dikira bias membalas jasa dengan mengusung namanya oleh good father (top leader) tapi karena tidak diberi tahu dan pendukung juga tak diberi tahu, atau diberi tahu tapi tidak cukup waktu menyusun kekuatan dan besok pagi pesta demokrasi dimulai, justeru akan bertemu kenyataan sebaliknya, “balas jasa susu menjadi tuba”.

Simpul kecil dalam memimpin dan pemberian reward politis (dukung mendukung dan pemberian jabatan, dll) tak cukup hanya “jujur” tanpa pengalaman. Kalau tak cukup kuat pengalaman dan memiliki trik jitu (stategi) memenangkan kepemimpinannya, usulan dan tindakannya akan jadi boomerang bagi kepemimpinannya dan yang dipimpin. Demikian reward untuk yang dipimpin dan yang diunggulkan kalau tak diurus siapa pemilihnya, berlaku kamus tradisi politik praktis, kehebatan dan skill seseorang yang diunggulkan tidak jaminan kemenangan. Jaminan kemenangan adalah seberapa kuat good father dan tim suksesnya mengatur dalam lobbi dan seberapa bisa sang calon menyakinkan bahwa kepentingan timnya dalam kepentingan yang lebih besar akan dijamin sehingga ia memperjuangkannya. Kalau seorang pemimpin dalam groupnya saja sudah gagal memenangkan kepemimpinannya dan memberi dukungan kepada orang-orangnya sebagai reward, apalagi untuk memenangkan kepentingan yang lebih besar yang akan diperjuangkan groupnya, akan lebih gagal lagi. Dalam kondisioning pemimpin seperti ini, ketika itu pula image pendukung dan dukungan publik mulai beralih. Kiranya jadi pengalaman pagi partisipan pesta demokrasi kedepan. (1 Nov 2007)***

*** Yulizal Yunus, lector kepala bidang sastra, pengamat social budaya dan politik.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: