jump to navigation

DARI NUMERA INDONESIA KE PAN-MELAYU Mei 31, 2012

Posted by wawasanislam in sejarah.
trackback

Oleh: Yulizal Yunus
(Dari Sku. Haluan Padang, 21 Maret 2012)

Temu budayawan (sastrawan – sejarawan) melayu dengan event seminar sejarah – kebudayaan “menelusuri sejarah dan benang merah rumpun melayu di Asia Tenggara” (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Philipian dll) dan seminar sastra dan identitas kultural “Nusantara Melayu Raya” (Numera) Indonesia diselenggarakan kerjasama Numera Indonesia – Dinas Budpar Pemko Padang, 16-18 Maret 2012 banyak catatan penting yang patut ditindaklanjuti kearah penciptaan persatuan budaya alam melayu di samping secara khusus mewujudkan keinginan penguatan jaringan forum masyarakat sejarah melayu dan forum sastrawan melayu dengan sekretariat ASEAN, yang secara substansial saya eksplisitkan dalam bentuk perwujudan gerakan Pan-Melayu, sebagai wadah dan polisi pengawal ketahanan budaya alam melayu itu dari intervensi arus deras pengaruh global.

Substansi gagasan ke arah Pan-Melayu itu saya lihat setelah mendengar pemikiran 52 pakar/ budayawan (sejarawan dan sastrawan) yang dihadirkan, termasuk 7 keynote speaker’s yakni: Dr. Siti Fatimah, MPd., MHum, Prof. Dr. Mestika Zed, MA, Prof. Dr. Nursyirwan Effendi, Prof. Dr. Ahmad Kamal Abdullah (Malaysia), Prof. Dr. Eka Budianta, Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan (Thailand) dan Dr. Nopriyasman, MHum. Gagasa itu semakin menguat dalam seni II seminar sastra dan identitas melayu yang saya pandu dan sesi III pada seminar sejarah – kebudayaan melayu yang saya dipercaya sebagai salah seorang nara sumber. Pada Sesi II seminar sastra “Sastra Melayu dan Identitas Kultural” itu, dihadirkan nara sumber: (1) Dr. A.Halim Ali (UPSI Malaysia) presentasi “Cara Berfikir tentang Estetika dalam Kesusasteraan Melayu”, (2) Fazilah Husein, PhD (UPM) mempresentasikan “Hubungan Teater Malaysia – Indonesia”, (3) Prof. Dr. Victor A. Pogadaev (seorang budayawan asal Rusia guru besar di Universiti Malaya) mempresentasikan “Taufiq Ismail, Penyambung Lidah Orang Miskin dan Tertindas”, (4) Zawawee Padaameen (Fakulti Kemanusiaan dan Sains Sosial Universiti Prince Songkla Thailand) mempresntasikan “Penggunaan Bahasa Melayu dan Aksara Jawi di Selatan Thailand”, dan (5) Arbak Othman mempresentasikan “Keperkasaan Estetik terhadap Sensitiviti Puitik Menelusuri Rahasia Cahaya”. Pada sesi III seminar penelusuran sejarah benang merah rumpun melayu di Asia Tenggara, menghadirikan nara sumber: (1) Dasman Djamaluddin SH, MHum/ mempresntasikan “Melayu Raya dalam Perspektif Sejarah Indonesia”, (2) Dra. Zusneli Zubir dan (3) Jannatul Husna bin Nuar (UM)/ Sejara Hidup dan Ketokohan Buya Mawardi Muhammad, (4) Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo/ Islam Minangkabau dalam Lingkaran Peradaban Dunia Melayu Dunia Islam, (5) Dedi Irwanto Muhammad Santun/ Tafsir Melayu atas Palembang pada Masa Sriwijaya, (6) Jumhari, SS/ Multikulturalisme Melayu – Bengkulu dalam Perspektif Sejarah”.

Dari sesi-sesi seminar ini yang menelusuri perkembangan sastra dan sejarah benang merah Negara-negara rumpun melayu di Asia Tenggara, hal yang amat subtansi dan dieksplisitkan sebagai gagasan perwujudan gerakan pan-melayu itu adalah sebuah kepentingan penguatan teras identitas cultural (sastra dan sejarah) melayu. Brunei misalnya mengukuhkan dan mengimplementasi teras identitas kemelayuannya yakni Melayu – Islam, tercermin dalam filosofinya yakni MIB (Melayu – Islam Beraja). Demikian pula di Indonesia pada subkultur Minangkabau mengukuhkan Islam sebagai teras identitas melayu seperti tercermin dalam konsesus (perjanjian Bukit Marapalam) dan menjadi filosofi yakni ABS-SBK (Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah) dilaksanakan dengan komitmen SM-AM (Syara’ Mangato – Adat Mamakai) dan ATJG (Alam Takambang Menjadi Guru). Pengukuhan teras identas melayu itu, diperlukan penguatan kelembagaan dengan fungsi yang jelas, di antaranya dimungkinkan dalam bentuk “pan-melayu”.

Terlepas dari kemungkinan generalisan gagasan ini dhaif di kalangan 200-san sastrawan dari negara tetangga yang hadir pada Numera (dari Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura dan Thailand, dan 70 % kawan-kawan sastrawan/ budayawan dari Sumbar, Riau, Aceh, Jakarta, Jambi, Kalimantan, Lampung, NTB dll), namun sebuah gerakan pembelaan dan menangkal ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan terhadap keberlanjutan integritas dan jati diri (identitas) budaya melayu, amat perlu dilembagakan. Gerakan ini kilometer nolnya dimulai dengan pemanfaatan momentum event Numera Indonesia ini dengan menindaklanjuti rekomendasi yang dilahirkannya. Kepala Dinas Pariwisata Padang Dr. Edi Hasymi sebagai penanggung jawab dan Sastri Yunizarti ketua pengarah temu budayawan (sastrawan dan sejarawan) Numera Indonesia ini berharap forum ini efektif memulai penguatan persaudaraan budayawan melayu dan gerakan penguatan kebudayaan melayu. Salah satu alternative kelembagaan dari perspektif gerakan melayu adalah sejenis gerakan dan kelembagaan pan-melayu itu.

Justru masyarakat alam melayu nusantara memerlukan wadah sebagai basis gerakan kemelayuan. Pandangan ini akan menguat bila kembali melirik ke abad-19, ketika Daulat Usmaniyah memproklamirkan diri sebagai Negara super power. Daulat ini meluaskan hegemoninya dimulai dari menyatukan umat Islam dan bangsa Arab dengan gerakan pan-Islamisme, yang kemudian mendapat respon positif dari masyarakat Negara-neara melayu. Pan-Islamisme berhadapan dengan kekuatan Barat yang ketika itu menjajah beberapa Negara-negara di kepulauan melayu seperti Indonesia dan Brunei dalam perspektif politik berhadapan praktis dalam tekanan Barat itu. Respon melayu ketika itu dieksplisitkan dengan hubungan surat menyurat dan kegiatan diplomatik serta pengiriman utusan/ delegasi ke Istambul pusat kekuasaan Usmaniyah ketika itu. Pergolakan timur – barat itu mempengaruhi iklim perkembangan budaya melayu.

Barat sampai saat ini masih masuk jauh ke kalbu budaya melayu, untuk melumpuhkan kekuatan rumpun melayu yang berpotensi menjadi kekuatan basis Islam dunia. Fenomena ini menimbulkan kekhatiran tercerabutnya nilai budaya melayu itu sendiri dari akarnya. Bahasa Indonesia saja sebagai salah satu negara yang budayanya berada dalam lingkaran peradaban melayu, betapa jauh pengaruh bahasa Inggiris, yang membuat negara melayu serumpun menggerutu, sulit sekali sekarang memahami bahasa Indonesia sebagai ordo bahasa melayu. Dari fenomena ini kita berfikir perlu perumusan bahasa dan ejaan melayu. Huruf arab melayu di subkultur Minangkabau saja misalnya sudah terkubur dalam pusara kelumpuhan rasa bangga menjadi masyarakat budaya melayu. Sementara di Malaysia, Thailand Selatan (Pattani) dan Brunei dll misalmya tulisan jawi (di Minang dulu disebut huruf arab melayu), masih ditempatkan sebagai salah satu teras identitas melayu, dieksplisitkan dalam budaya keseharian di samping dipakai dalam penulisan pada media masa dan buku pengetahuan, sampai ke hal praktek terkecil pembuatan label papan nama toko/ kedai, perkantoran pemerintah dan swasta/ perusahaan serta bangunan sipil, monument dan sakral lainnya, masih menempatkan tulisan jawi di atas tulisan latin.

Dari berbagai fenomena ancaman lingkungan strategis internasional/ global itu, masyarakat melayu memerlukan wadah yang menjadi basis dan sentra gerakan penguatan ketahanan budaya melayu, yang satu alternative adalah gerakan pan-melayu ini. Pan-melayu diwujudkan dalam bentuk ideology yang menggerakkan jiwa masyarakat melayu mempertahankan budaya melayu dari berbagai pengaruh yang merusaknya bernaung dibawah sistem pemerintahan masing-masing negara melayu. Visi dan matlamat/ tujuannya adalah menyatukan masyarakat melayu dengan pengukuhan teras identitasnya di antaranya roh Islam sebagai dinamo penggerak dan sumber energi menyalakan semangat bangkit masyarakat negara-negara melayu bersatu. Pan-Melayu difungsikan sebagai polisi negara melayu untuk menciptakan iklim damai mayarakat melayu – Islam. Dengan fungsi ini Pan-melayu akan menjadi lembaga basis dan modal menggelar berbagai kegiatan kebudayaan (dalam sistem sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan/ sejarah, filsafat, seni (sastra) dan sitem religi) serta menegakkan perinsip-perinsip paham melayu sebagai “arus dalam” yang kuat memintas kehanyutan melayu dalam arus deras pengaruh Barat dan global.***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: