jump to navigation

BERBAHASA JERNIH REFLEKSI BAHASA AL-QURAN Februari 22, 2012

Posted by wawasanislam in islam.
trackback

/ Yulizal Yunus

Bahasa yang jernih bukan hanya sekedar berbunga kata, tapi sarat makna dan penuh kearifan. Salah satu dampak/ buah buruk reformasi di tanah air yang diwarnai political euphoria di antaranya kata kehilangan makna, bahasa kehilangan kearifan, muncul dalam kritik berapi-api. Teriak kerasnya mengatasnamakan orang banyak (rakyat) tapi hak yang diatasnamakannya itu dilibas juga, Fenomena ini pada gilirannya memicu disintegrasi sosial (nilai lama yang mapan ditinggalkan, serta merta menganut nilai baru yang belum dimengerti sepenuhnya). Sepertinya sukar berbahasa halus dan indah. Bahasa indah itu seperti hanya tinggal pada puisi yang tercetak di antologi atau pada bahasa yang paling indah dan syarat dengan esensi fikir (di mata umat Islam) yakni bahasa Al-Qur’an. Alternatif keluar dari fenomena ini, dengan cara merubah lidah umat dengan merefleksikan bahasa Al-Qur’an, biar tersosialisasi cara berbahasa halus, lembut, manis dan jernih.

Puasa momentum merefleksikan bahasa Al-Qur’an dalam bahasa tutur sehari-hari umat Islam. Karena di bulan Ramadhan ini umat sedang termotivisir dengan ajarannya, (1) hiasi Al-Qur’an dengan suaramu (hadis), (2) baca indah pahami (rattil) Al-Qur’an (QS Al-Muzammil 4), (3) kamu senantiasa berada dalam sikon yang baik sa’at belajar dan mengajarkan Al-Qur’an (HR. Al-Bukhari), (4) ibadat terbaik umatku adalah membaca Al-Qur’an.

Yang dimaksud dengan Al-Qur’an (bedakan dengan Koran) setidaknya ditandai lima indentitas (1) membacanya saja bernilai ibadat, (2) kalam Allah yang diwakyukan kepada Nabi saw. di bulan Ramadhan , (3) mu`jizat bagi Nabi saw, (4) ditulis dalam mushaf (dicetak dalam bentuk Kitab (Buku) Al-Qur’an Al-Karim juga dapat pula dalam bentuk lembaran elektronik menjadi satu file dalam made rirectory CD Al-Qur’an), (5) dirawikan secara mutawatir (yang membuatnya terpelihara sepanjang zaman).

Bahasa Al-Qu’an itu adalah bahasa Arab yang halus, lembut (layyinun) dan indah. Penyajian bahasanya liqaumi ya`qilun – ya`lamun – liyunzir al-ladzina zhalamu – yattaqun / ditawakan kepada mereka yang berfikir – yang beretos kerja dan beramal – peringatan bagi mereka yang serba tidak beres – harap mereka hati-hati dalam konteks takwa  (QS 1:2, 20:113, 39:28, 41:3, 42:7, 43:3, 46:12).

Artinya Al-Qur’an yang diwariskan kepada umat agar lan tudhillu abada – tidak akan sesat sepanjang masa (Hadis) itu, mengembangkan daya nalar dan berfikir rasional, merangsang etos kerja yang harus dirumus secara sophistecated (canggih) dan beramal (ibadat), membentuk sikap waspada dan hati-hati dalam konteks taqwa dan peringatan keras (dengan bahasa indah) bagi yang serba tidak beres (zalim). Al-Qur’an dalam mengeritik mencontohkan cara tutur bicara dengan gaya qaul ma’ruf (bahasa yang indah) – qaul sadid (bahasa yang halus) dan menganjurkan layyinun (lembut).

Al-Qur’an bahasanya yang halus dan lembut (layyinun) dan indah itu tak dapat dipungkiri kerena keluar dari masternya yakni Allah Jamil (Allah Yang Maha Indah) dan menyukai jamal (yang indah). Orang yang ingin taqarrub (dekat) dengan Allah Yang Maha Indah itu, dapat dipastikan memilih keindahan (jamal) sebagai canel. Karenanya umat yang merindukan dekat dengan Tuhan, sewajarnya menciptakan keindahan dalam tutur bahasa dan tingkah laku serta pola tindak (amal perbuatan). Sebab itu pula bagi umat patut bahasa Al-Qur’an yang indah itu direfleksikan dalam bahasa sehari-harinya, agar umat memiliki bahasa yang halus, manis dan indah meskipun dalam menyampaikan kritik keras kepada orang lain.

Dapat ditiru bagaimana halus dan indahnya bahasa Al-Qur’an dalam mengeritik berbagai fenomena di antaranya satu contoh fenomena saja dalam tulisan ini yakni ketika Al-Qur’an mengeritik fenomena orang yang prilakunya serba tidak beres (zalim) dan penuh kepalsuan (kemunafikan) seperti perangai Abdullah bin Ubai bin Salul (tokoh cerita sebab turunnya ayat  QS 2: 8 – 20),

Terhadap orang yang serba tidak beres – aniaya (zalim) dan penuh kepalsuan (munafik) itu Al-Qur’an masih menggunakan gaya bahasa smile (perumpamaan – tasybih). Di antara ayatnya, adalah …perumpamaan mereka seperti menyalakan api (nar), setelah api hidup –bercahaya (dhiya’), Allah menghilangkan sinar (nur) yang menerangi dan meninggalkan mereka dalam zhulumat (kegelapan). Mereka menjadi tuli, bisu dan buta, tidak bisa kembali ke jalan yang benar (QS 2: 17-18). Ceritanya Abdullah bin Ubai bin Salul merindukan pemimpin, tetapi setelah hadir Nabi saw sebagai pemimpin teladan ia tidak senang, merasa kalah gengsi, tak sportif lalu bersikap tidak patuh dan tidak setia. Di depan bermuka manis pura-pura patuh dan setia, di balakang mencibir dan mendengki menghasud ingin mencelakankan Nabi dan sahabat. Gambar munafik dan zalim cucu Salul di depan bukan main di belakang bermain inilah yang digambarkan dalam ayat dan menjadi sebab turun ayat.   

Diksi (pilihan kata- mufradat) ayat QS 2:17-18 ini di antarnya digunakan zhulumat (gelap) dipersandingkan dengan nur (sinar) dan dhiya’ (cahaya). Api dipersandingkan pula dengan air yakni shaib min al-sama’  (orang yang ditimpa hujan lebat dari langit). Air dapat memadamkan api. Tiga kata yang berlawanan gelap – cahaya/ api – air. Gelap (Zulumat) artinya sikap yang menyelimuti hidup gelap seseorang (seperti cucu Salul tadi) seperti dengki, hasud, jiwa goncang, hidup kacau (zalim)dll. Api (nar) menyala menjadi dhiya’ (cahaya) melahirkan nur (sinar). Sinar tidak dapat didengar, tidak dapat dicium, tidak dapat diraba dan dirasa, hanya dapat dilihat. Cahaya merupakan kode ordonansi penglihatan. Terjadinya gelap karena cahaya dan sinar dihilangkan dari mata alat indra dan mata hati. Gelap itu karena terhambat dan terhalang penglihatan mata dan hati  sebaga alat pemindahan dunia luar ke dunia dalam. Dalam kondisi ini, kegelapapan menjadi permanen, digambarkan dengan (1) telinga menjadi tuli artinya sakit telinganya mendengar ajaran Allah rasa mau terbuka saja rahasia buruknya, (2) mulut menjadi  bisu tak sudi saja lagi mengatakan yang benar secara baik kecuali yang kasar dan (3) mata buta perumpamaan, tidak suka melihat yang baik kecuali yang jelek saja, semua ini berakibat anak buah si munafik Abdulla bin Ubai yang serba palsu dan zalim itu tak bahkan bisa kembali kejalan yang benar. Mereka diliputi zhulumat (gelap dengan ditutup sifat buruk dengki-hasud), karena api (cahaya-sinar) padam, sebab tidak benar menggunakan air sebagai perumpamaan kebenar. Kata Mahmud bin Syarif, kebenaran yang ada padanya seperti api yang dipadampaksa disiram air mathar syadid dzu rih ‘ashif (hujan deras disertai badai) sehingga gelap (zhulumat) menyungkupnya. Tak ada lagi nur (sinar) kebenaran.

Hidup yang diselubungi kabut zhulumat, bahasa kehilangan makna dan kearifan, tidak sedikit pun bisa bertutur manis. Kritik bagai teriakan dan gaung pasti meskipun isi bahasa kritiknya tidak dipahami sepenuhnya. Atau kritiknya tidak pernah tergambar dirinya pernah dan akan bersalah seperti yang dikritik. Simaklah bagaimana Nabi saw menyadarkan, … jika ingin membuka borok orang lain, ingat juga diri apa tidak pernah dan tidak akan pernah punya borok yang sama (Hadis). Karena itu kritik boleh saja, tetapi diamanatkan jangan saling buka aib orang beriman. Artinya kritik itu membangun agar tidak lagi berbuat aib. Bahasa kritiknya makruf (indah) dan sadid (bagus) dan layyin (lembut) seperti refleksi bahasa Al-Qur’an.

Akhirnya, bacalah Al-Qur’an, agar terbiasa berbahasa benar. Sial sekali tak mau baca Al-Qur’an dalam tetap mengaku Al-Qur’an kitab sucinya. Sial juga umat yang katanya rajin membaca Al-Qur’an tetapi lidahnya tidak pernah berubah. Tidak ada kesan Al-Qur’an di lidahnya seperti pada sikapnya yang lain. Kata Nabi saw. …wailun liman qara’ Al-Qur’an walam yatadabbarhu – sial orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak berpengaruh dalam hidupnya (Hadis). Patut jadi catatan umat Islam.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: