jump to navigation

KEPADA GENERASI INI KUKATAKAN: MENULISLAH…! Februari 29, 2012

Posted by wawasanislam in budaya.
trackback

Oleh: Yulizal Yunus

Kepada generasi ini, kukatakan menulislah. Berlatih dan berlatih. Mereka 80 Guru Pendidikan Agama Islam SD dan SMK se Sumatera Barat yang saya daulat sebagi guru peneliti. Diinapkan di Hayam Wuruk Hotel yang cantik menhadap ke taplau Padang, dan mereka dihadiahi kesempatan dari 3 Februari – 11 Maret 2012. Diworkshop untuk menjadi terampil dalam Penelitian Tindakan Kelas sekaligus peningkatan kompetensi dan wawasan pendidik dan tenaga kependidikan. Dilaksanakan STAI YASTIS Padang dan STAI Yayasan al-Hikmah Pariangan Batusangkar. Mewah juga. Direktur Diktis Kemenag itu berdecak, hebat tuh! Sumbar. Masrial, Nasrul dan Syafruddin pemegang kendali pengarah dan pelaksana, bangga.
Kukatakan itu, merespon keluhan mereka, “spirit menulis tak menyala”. “Gimana cara menumbuhkan kemauan dan kemampuan menulis”. “Banyk takut, menulis itu sulit”. Ku bujuk mereka, “menulis itu tidak sulit”. “Mudah”. “Asal jujur”. “Jujur dengan perasaan dan jujur dengan pikiran sendiri”.
Tulisan itu secara kategoris ada dua. Ada tulisan sastra dan ada tulisan non sastra. Tulisan sastra ada dua wujud: (1) puisi (lirik, efik dan dramatik), dan (2) prosa (cerpen, novel dan naskah drama/ film). Tulisan non sastra itu boleh dimasukan kategori karya tulis ilmiah (mungkin artikel ilmiah populer, makalah, hasil penelitian dsb)..
Karya sastra unsur adominanya athifah (perasaan). Siapa yang tidak punya perasaan atau ada perasaan tapi tidak jujur dengan perasaan sendiri, pasti tidak bisa menulis sastra. Demikian pula karya ilmiah unsur dominannya fikrah (-pikiran – opini). Siapa yang tidak punya pikiran atau tak jujur dengan pikirannya sendiri, pasti tak bisa menulis karya ilmiah. Mereka semua terkikik tergelitik.
Kepada saya mereka bertanya, gimana caranya menuliskan perasaan dan pikiran dengan sejujurnya. sebagai nara sumber workshop dan koordinator pelatih penelitian tindakan kelas, saya katakan kepada mereka: “saya menulis perasaan dan pikiran dengan jujur”. “Supaya perasaan dan pikiran jangan terpengaruh, semua diskursus (wacana ilmiah) dan bacaan lainnya saya singkirkan”. “Saya tulis perasaan saya dengan jujur lahir draft karya sastra”. “Saya tuliskan pikiran saya dengan jujur lahir draft karya tulis ilmiah (mungkin bentuk artikel ilmiah populer atau esei)”.
Berikutnya draft karya tulis ilmiah itu misalnya saya baca ulang berfungsi editor/ redaktur. Saya temukan ungkapan eksplisit experience (pengalaman) yang saya alami dan sangat empiris. Tapi mungkin ungkapan yang sama, ad,a orang mengungkap dan berpendapat lalu menjadi teori yang sarat nilai filosis dan banyak dikutip orang. Saya yakin pasti ada dimuat dalam beberapa buku. Saya perkirakan dengan tepat, itu atau ini bukuya.
Saya ambil dari rak saya buku itu, ternyata saya temukan. Saya kutip, sebagai pengat pendapat saya sebagai fakta yang sangat-sangat empiris tadi. Apa artinya? Menulis itu belajar jujur. Yang ditulis itu sejujurnya yang saya pikirkan. Kalau ada ungkapan saya sama dengan pengarang lain sya ambil bukunya menjadi rujukan/ referensi menggaris bawahi pendapat saya. Saya bedakan dengan jelas, ini pikiran dan bahasa saya dan ini bahasa pengarang lain. Satu katapun yang menjadi karakter milik seorang pakar, saya katakan “meminjam kata si anu”, misalnya saya meminjam kata sastra profetik Kunto Wijoyo.
Artinya saya terus membebaskan diri dari godaan bahasa pengarang lain yang hebat, saya menjadi diri saya sendiri, tidak tergoda rayuan pembahasaan para pakar penulis buku yang saya jadikan rujukan, saya ambil pendapat pakar itu menjadi pendukung pendapat saya. Dan…saya menjadi diri saya sendiri, punya karakter dan identitas sendiri dalam menulis.
Pengalaman jadi guru. Saya punya pengalaman di koran pernah lebih satu dasawarsa. Redaktur halaman opini, biasa… enak saja mendadak berteriak, “halaman ini kurang satu artikel”, “you tulislah dan saya tunggu”. Saya pikir panjang, diseret mesin tik, dimasukan kertas bekas telex berita antara, langsung saja menulis. Mulai mengetik, saya singkirkan tanpa tipp-ex (cairan penghapus), supaya hati-hati, tidak salah ketik. Biasa kalau ada tipp-ex, lebih banyak menghapus dari mengetik.Kalau tipp-ex tak ada, kehati-hatian tinggi sampai selesai tulisan dua halaman. Artinya siap melatih diri berfikir cepat dan sistemik. Membiasakan diri menulis (berita dan opini) langsung tanpa mengonsep terlebih dahulu dengan konsep tulisan tangan.
Untuk memandu agar menulis plus berfikir urut dan dalam alur pikir, saya pandu, dengan menuliskan di sudut kiri atas dengan pensil. Yang saya tulis itu setidaknya 10 kata/ konsep yang saya keluarkan dari topik/ judul. Saya jelaskan konsep dan saya jawab pertanyaan itu dalam 10 kata itu dengan mengalimatkan secara jelas. Akhirnya terjawab dan jadilah tulisan opini. Saya berikan langsung ke redaktur opini, ketika itu ada pak Datuk Simalie (suhu dan guru dari semua guru menulis di Sumabar ketika itu). Ada juga Sukma Jaya sang Pemred dan Wapemred Rusli yang berpengaruhlah ketika itu di harian semangat Padang. Mereka buka dan baca tulisan saya…he he, mereka senyum tanda diterima, tapi digledek-in juga, “kamu ngarang ya”. “Tentu saja, kata saya dalam hati, sambil melempar senyum seulas. Besok keluar tulisan itu. Saya menulis seorang, redaktur seorang, tapi dampaknya banyak orang goyang, itu pengaruh sebuah tulisan seorang kuli tinta.
Gimana menulis tanpa teori tanya mereka. Asal mau di sana ada jalan. Gelar sarjana dan banyak ilmu tak menentukan, yang menentukan keterampilan menulis adalah kegigihan berlatih. Sejak awal saya berlatih secara otodidak, menulis tanpa bekal teori. Saya menulis terus, tiada hari tanpa menulis, setidaknya berita, justru ada 10 tahun lebih jadi wartawan dan menulis opini sampai sekarang, tak pernah berhenti.Sejak tahun 1974 sampai 1980-han halaman Remaja Minggu Ini (Minggu), lalu lahir Budaya Minggu Ini (Selasa) pada Surat Kabar Umum Haluan, kami rajin perang tulisan, polemiklah. Ada Zaili Asriel, Shofwan Karim, Emma Yohanna, Fachrul Rasyid, Adi Bermasa, Herman yang disebut Rusli penulis mazhab IAIN. Ada ditengahi senior seperti Darman Moenir, Rusli Marzuki, Edi Ruslan P.Aman Riza, Makmur Hendrik, Abrar Yusra, suhu Wisran Hadi, AA.Navis dll serta penulis muda lainya yang menjamur tumbuh dan gemar berpolemik. Yang muda Ini buah asuh penyair Rusli Marzuki Saria berfungi redaktur budaya Sku Haluan ketika itu, yang diungkap kawan-kawan sebagai pengawal sastra sekolah di Sumatera Barat.
Menciptakan budaya menulis, saya buat, tak ada jam kosong tanpa saya isi dengan menulis. Di kantor atau di rumah dan atau di mana saja. Di atas mobil saya sering menulis menggunakan HP-Komunikator-95, lebih banyak fungsi lattop dari pada fungsi HP. Enaknya, menulis dengan komunikator-95 ini cepat, selesai tulisan fit to print (layak muat) buka web – emil langsung ke koran yang meminta tulisan, dan lansung sent (terkirim) ke koran dan diterima redaktur. Besok pagi dimuat koran itu. Tidak sesuli dulu, mengetik dengan mesin tik, tak ada komputer seperti sekarang, hanya ada compugraphic dengan menggunakan kerta IBM mahal. Itu pun hanya digunakan oleh petugas inserting data tulisan wartawan dan penulis opini lainnya.
Sekarang dunia serba canggih alat tulis, ironis tak menggunakannya menulis. Ulama dulu dalam tekanan penjajah dan terbatas alat tulis dan kertas, namun mereka banyak melahirkan tulisan. Mereka ketika itu, jujur menuliskan pikirannya. Tak panjang pikir dan tak dibebani apakah tulisan saya berbobot atau tidak. Yang penting mereka menuliskan apa yang mereka pikirkan, mereka yakin pasti satu dua ada manfaat bagi umat sebagai warisan pemikiran dan ilmu pengetahuan. Bahkan hampir saja, tiadak ulama tanpa menulis sastra (puisi – prosa), fakta itu menunjukkan mereka jujur dengan perasaan mereka sendiri dan melahirkan karya dominan dengan unsur perasaan (sastra).
Karenanya, kepada generasi sekarang, berulang saya katakan, menulislah. Pasti bisa, asal jujur dengan pikiran dan perasaan sendiri. Menulis berarti belajar jujur dengan diri sendiri. Ia akan menghatakan raso jo pareso (perasaan dan pikiran) mereka sendiri. Ia akan jelas membedakan mana yang bahasa, pikiran dan perasaan sendiri dan mana yang ungkapan milik pengarang lain. Sebuah tulisan, adalah sumbang untuk pembaca. Saya pikir menulis dengan ikhlas juga ibadah. Generasiku marilah menulis, ciptakan tradisi dan budaya menulis. yy***
Padang, Hayam Wuruk, 9 Februari 2012

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: