jump to navigation

KEARAH BERDIRINYA MEMORIAL UNIVERSITY UIIMN Februari 22, 2012

Posted by wawasanislam in budaya.
trackback

Oleh Yulizal Yunus

Dr. Mochtar Naim, sesepuh Minang menggagas kearah berdirinya Universitas Islam Internasional Mohammad Natsir (UIIMN). Saya bersama Saifullah, Firdaus, Aditywarman dkk. dibawa. Saya gembira. Pak Mochtar menyebut Universitas itu merupakan sebuah “memorial univerity” , didirikan dalam upaya mengenang jasa-jasa pahlawan nasional Mohammad Natsir (1908-1993) di pentas politik, agama dan pendidikan, baik pada taraf nasional maupun internasional. Dalam mendukung gagasan ini, diperlukan dukungan besar keluarga Moh. Natsir serta para tokoh Minang, tokoh pendidik nasional dan internasional. Pak Mochtar telah pula berlang-lang buana mensosialisasikan gagasan besar ini. Banyak yang memberikan dukungan untuk gagasan UIIMN yang akan didirikan di Padang. Pendirian universitas dibuka jaringan di berbagai kota di Sumatera Barat, di Indonesia dan Dunia Melayu lainnya, dan bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri di belahan dunia manapun.

Pengabadian nama besar Moh Natsir, dalam diskusi perumusan kosnsep, diketahui dalam banya bidang terutama di di bidang pendidikan, tokoh Islam dunia ini boleh disebut pencetus ide dari sistem pendidikan yang bersifat integral-terpadu, yang tidak memisahkan antara pendidikan umum dan agama, seperti yang berlaku secara dikotomik-dualistik-sekuler-skolastik di masa penjajahan dan yang berlanjut ke masa kemerdekaan sampai saat ini, tetapi justeru memadukan keduanya dengan prinsip pendidikan Tarbiyah berbasiskan “Tauhid.” Dari kata “Tarbiyah” terkandung pengertian “Rabb” yang berarti Allah Yang Maha Pendidik; sementara dengan kata “Tauhid” berarti Allah Yang Maha Esa yang Maha Menguasai dan Maha Mengatur segala sesuatu sendiriNya.

Kendati karena berbagai kebutuhan akan ilmu yang memerlukan adanya pembagian pembidangan ilmu ke dalam berbagai cabang ilmu (fisika, sosial-budaya dan humaniora), namun semua ilmu bersumber kepada ilmu Allah yang menguasai seluruh dan seisi alam ini. Ilmu Allah menjiwai seluruh kegiatan keilmuan di bidang apapun bagi manusia dan kemanusiaan di permukaaan bumi ini di manapun dan kapanpun.

Dengan menolak pemberian beasiswa dari pemerintah Belanda untuk melanjutkan studi setelah lulus AMS di Bandung, tahun 1930, baik ke negeri Belanda (Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam) maupun di Indonesia ini (Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, Jakarta sekarang), Mohammad Natsir mendirikan sekolah Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung untuk menerapkan konsep pendidikan Tarbiyah berlandaskan Tauhid yang bersifat integral dan terpadu itu. Beliau memimpin sekolah Pendis ini sampai masuknya Jepang di awal Perang Dunia Kedua tahun 1942. Namun, kendati sempat berkembang ke berbagai kota di Jawa Barat sebelum Perang Dunia Kedua, sekolah ini terhenti, walau idenya tidak mati tetapi hidup terus dan berkembang kembali belakangan ini. Pak Natsir, bagaimanapun, juga dicatat oleh sejarah pendidikan sebagai pencetus ide dan penggerak dari berbagai universitas Islam di Indonesia ini, termasuk UII di Yogya, Unisba di Bandung, Ibnu Khaldun di Jakarta dan Bogor, Yarsi di Jakarta, UMMI di Makassar, UISU di Medan dan UIR di Pekanbaru.

Dalam rangka menghidup-suburkan konsep pendidikan Tarbiyah-Tauhidiyah yang bersifat universal-integral-terpadu oleh bapak bangsa dan sekaligus bapak ummat di Indonesia ini, Universitas Islam Internasional Mohammad Natsir (UIIMN) yang kita bersama dirikan ini kita persiapkan untuk menjadi think tank  bagi sistem pendidikan integral-terpadu yang tidak hanya bersifat nasional dan internasional tetapi juga universal-islamy. Melalui UIIMN ini juga kita ummat Islam belajar berfikir, berorientasi dan berbuat global seperti halnya Islam itu sendiri, seperti yang juga diterapkan oleh Natsir sendiri, sembari tetap berpijak di bumi Allah yang nyata, dengan bimbingan wahyu dan sunnatur rasul.

Konsep pendidikan integral-terpadu dari Natsir yang dicetuskan masih di zaman kolonial di tahun 1930an di Indonesia, ketika beliau baru berumur 20an tahun, belakangan, setelah kita memasuki era abad ke 15 H dan 21 M ini, mulai bersipongang kembali sampai ke mancanegara dan dunia maju di Amerika dan Eropah sekalipun. Di Amerika dengan digerakkan oleh para muallaf dan penganut Islam lainnya bahkan mulai berkembang konsep pendidikan Tarbiyah dengan program Tarbiyah Projects yang digagas dan dipicu mengembangkannya oleh muallaf bule dari Philadelphia, Dawud at Tauhidy (meninggal tahun 2010 yl), yang dia mulai mengembangkannya di kawasan negara bagian Michigan dan Illinois  dan sekitarnya yang Islamnya sudah mulai kuat dan berkembang. Tarbiyah Projects membagi faset pedidikan ke dalam 7 pembidangan yang saling terkait dan bersinergi satu sama lain, yaitu faset fisikal, spiritual, intelektual, emosional, kultural, sosial dan individual.

Walau tumbuh di dua bagian dunia yang berbeda, konsep Natsir dan Dawud at Tauhidy ternyata sejalan dan nyambung- bersinergi  walau ada jarak waktu yang cukup panjang antara zaman Natsir di Bandung sebelum Perang Dunia Kedua dan zaman Dawud at Tauhidy belakangan ini. Ini dimungkinkan karena sifat Islam itu sendiri yang memang universal yang sumbernya berasal dari wahyu Allah, Al Qur’anul Karim, yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah saw.

Dalam kita mempersiapkan UIIMN ini kitapun sebagai bagian tak terpisahkan dari Dunia Islam sedang memasuki “Era Gelombang Ketiga” dari Tamaddun Dunia Islam, setelah mengalami masa naik 7 abad pertama, masa menurun 7 abad ke dua, dan sekarang masa menaik lagi sekurangnya untuk 7 abad ke depan pula. Tujuh abad pertama adalah sejak lahirnya Islam di padang pasir Arabia di bawah tuntunan Rasulullah Muhammad saw sampai ke tingkat zenith tertingginya di masa keemasan Baghdad dan Kordoba. Tujuh abad kedua adalah masa menurunnya tamaddun Islam sampai ke tingkat nadirnya di mana semua negara-negara Islam berada di bawah pengaruh dan bahkan penjajahan Eropah. Baru setelah Perang Dunia Kedua, Dunia Islam mulai bngkit kembali dan memasuki era kegemilangan kembali gelombang ketiga yang akan berjalan insya Allah sedikitnya 7 abad pula. Ini sesuai dengan fitrah sejarah yang digariskan oleh Allah sendiri: “Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia-manusia” (Q. S. Ali ‘Imran 140).

Di Indonesia sendiri dan di Dunia Melayu umumnya gerakan untuk mengangkatkan kembali tamaddun Islam dengan mengedepankan konsep-konsep kehidupan dengan roh Islam mulai menggeliat kembali. Di bidang ekonomi, misalnya, siapa mengira jika sistem perbankan dan perekonomian syariah tanpa bunga dan riba dan dengan prinsip bagi hasil berkeadilan diterima secara spontan dan terbuka di mana praktis semua bank-bank, milik pemerintah maupun swasta, memiliki dan mengembangkan cabang perbankan syariahnya. Konsep “syura” dalam ber “majelis” dengan mengedapankan pada keadilan, kesamaan dan kebersamaan, yang menjadi inti demokrasi dalam kehidupan berpolitik menurut ajaran Islam, diterima bukan hanya di Indonesia dan Dunia Melayu tetapi bahkan juga secara internasional di badan-badan dunia. Sekarang di bidang pendidikan sendiri juga muncul dan mulai diterapkan secara global pula konsep tarbiyah yang integral dan terpadu itu, yang di Indonesia di zaman moderen ini dipicu dan digerakkan oleh tokoh perubah dan pembaharu: Mohammad Natsir.***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: