jump to navigation

PENYEHATAN IKLIM BUDAYA DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in lingkungan.
trackback

/ Yulizal Yunus

Pertanian satu di antara sembilan struktur pembangunan di Pesisir Selatan. Pertanian berada pada pilar ekonomi, lingkupnya tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan dan perikanan. Sembilan struktur pembangunan di Pesisir Selatan itu adalah pertanian, pertambangan dan galian, industri dan pengolahan, listrik- gas dan air bersih, bangunan dan kanstruksi, perdagangan – hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan – persewaan dan perusahaan, serta jasa. Dua tahun terakhir pertanian menunjukkan perkembangan signifikan terutama dalam pembukaan lahan baru persawahan rakyat, pemanfaatan lahan tidur, pencarian jenis tanaman yang cocok dan pemberdayaan dalam bentuk penyediaan dana modal pendamping prtanian. Pada kegiatan pembukaan sawah baru itu saja, dipastikan ada amanat pembangunan, penyehatan iklim budaya (prilaku dan sikap mental) masyarakat yang kondusif, setidaknya menyadarkan rakyat, bahwa mereka semakin berkembang, sudah seharusnya (bersikap) mencari dan membuka lahan baru, tidak seharusnya berprilaku mentelantarkan lahan yang ada, sehingga lahan yang ada tidur dan tidak produktif”.

Iklim budaya yang sehat amat menentukan suksesnya pembangunan pada semua struktur pembangunan. Iklim budaya dimaksud misalnya dalam sistim pertanian, adalah prilaku dan sikap mental petani dalam bertani. Di antara budaya masyarakat tani dan menjebak mereka dalam kemiskinan di antaranya, (1) jangankan berfikir menambah pembukaan lahan baru, lahan yang ada saja sering ditelantarkan, tidur dan tidak produktif, (2) petani sawah punya pardigma yang memandang hanya padi yang bisa menghidupkan, kalau beralih ke yang lain, ada kesan bisa mati, pada hal menanam semangka pasca panen padi hasilnya juga besar dan bisa beli beras, setelah itu ditanam jagung, kemudian kacang panjang pasca panen jagung sekaligus memudahkan teknologi menjunjungkan kacang panjang dengan batang jagung yang sudah siap dipenen dst., (3) pasca panen padi sawah, berhenti berusaha tani, lebih banyak duduk di lapau sampai padi habis, tidak piker besok, pokoknya ”tali tali/ ijuk ijuk/ kini kini/ esok esok”. Habis padi mencari lagi, masih untung kalau kondisi alam menguntungkan, karena masih dominant tergantuang cuaca/ kondisi alam, kalau tidak menguntungkan cuaca bisa terjebak masa pecaklik dan kelaparan, (4) kelaparan di kampung, ancang-ancang merantau seperti burung mencari di mana kayu berbuah, sampai ke Malaysia, masih untung kalau nasib masih berpihak, bisa masuk dengan baik, kalau nasib malang diuber, disebut pentang haram, malang sekali, dsb.

Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit, bertekad pembangunan pertanian masih menjadi prioritas (Yunisman, Padek 20-01-08:30). Upayanya yang mengesankan mengajak masyarakat meningkatkan pemanfaatan dan produktifitas lahan tidur dalam kerangka program pengentasan kemiskinan, sehingga lahan terlantar semakin berkurang dan kemiskinan pun secara bertahap dapat dientaskan. Lahan tidur basah dan kering ada sekitar 20.844 Ha tersebar pada 12 kecamatan di Pessel di Kecamatan Linggo saja ada sekitar 1.500 Ha kata Arpen Abbas/ Kasub Dinas Diperta (Padek 28-01-08:30). Afrizon Nazar Kepala Diperta Pessel (Padek 28-01-08:30) memperkirakan sedikitnya ada 1000 lahan terlantar tersebar di Linggo Sari Baganti, Lusi, Ranah Pesisir, Pancung Soal, Basa IV Balai, Sutra dan Batangkapas.

Untuk memproduktifkan lahan tidur, upaya Pemkab di era Bupati Nasrul Abit (dengan trio Wabub Syafrizal dan Sekdanya Adril):

1. Mencarikan petani berbagai jenis tanaman yang cocok untuk dikembangkan baik tanaman pangan maupun holtikultura.

2. Membuka lahan baru, tahun 2007 dibuka sawah baru 121 Ha yakni di Sei Kuyuan – Pancuang Soal 85 Ha dan di Ampang Tulak – Basa Ampek Balai 36 Ha. Tahun 2008 ini akan buka sawah baru 215 Ha.

3. Menyediakan modal pendamping berupa kredit lunak KPER bagi petani yang tergabung dalam koperasi.

4. Memberdayakan masyarakat tani dalam bentuk penyadaran dengan kegiatan penyuluhan bahkan juga dalam bentuk pembekalan dengan kegiatan pelatihan, yang kinerjanya diharapkan SDM petani dapat menguasai teknologi pertanian modern, dll.

Upaya pertama pencarian jenis tanaman yang cocok bagi petani, sebenar kegiatan ini akan mempunyai impact, menyentuh iklim budaya (prilaku) masyarakat tani dalam bertani, ingin merubah paradigma yang memandang, hanya padi satu-satunya yang bisa menghidupkan, beralih ke jenis tanaman lain yang juga menguntungkan melebihan hasil padi. Upaya kedua, secara tidak langsung merubah prilaku masyarakat sadar, anggota keluarga tetap bertambah, sawah perlu ditambah di samping tidak boleh beprilaku mentelantarkan lahan yang ada sehingga tidak produktif serta berdampak ancaman kemiskinan keluarga pemilik lahan terlantar itu. Ketiga menyentuh prubahan prilaku, yang selama ini terjebak dalam lagu, ya dana ya dana, tak ada modal dengan apa harus bekerja tani?. Sekarang disediakan modal, mampu apa tidak memacu produksi dan jujur apa tidak mengembalikan kredit sebagai modal usaha tani itu?. Keempat menyentuh prilaku, masyarakat tani segera setiap saat menyadari kekuatan potensi dirinya didukung teknologi pertanian dalam memacu ekonominya sebagai masyarakat tani.

Tak kalah pentingnya ditawarkan konsep, Diperta, kembali menemukan jenis tanaman yang cocok, rubah paradigma lama hanya padi (sawah – ladang). Seperti juga menemukan jenis tanaman holtikultura dan tanaman lain bagi perkebunan rakyat. Dalam sejarah kebesaran ekonomi Pesisir Selatan masa Banda X, tidakkah Indrapuran dan Pulau Cingkuk serta 10 bandar (kota pantai/ kota dagang) di Pessel dikenal dengan pelabuhan lada di samping pelabuhan emas, yang memancing Belanda, Inggiris dan sebelumnya Cina berambisi menguasai pelabuhan pantai Barat Sumatera di Pesisir Selatan ini?. Merubah paradima hanya padi itu, dimungkinkan menciptakan skema langkah yang praktis dengan flowchart yang pasti, alternative dilakukan operasi door to door, mengoperasionalkan staft, penyuluh pertanian dan kelembagaannya yang ada plus ninik mamak penghulu suku, ajak rakyat/ kapanakan ninik mamak rubah paradigma hanya padi tapi juga tanaman pangan lain yang hasilnya juga besar. Yang telah berubah dari paradigma hanya padi contohnya di Lusi dan mungkin juga di Bayang. Operasi door to door itu, secara matematis dibagi rumah tangga, seluruh rumah tangga itu apakah dapat dijangkau dalam masa waktu lima tahun misalnya? Semua RTM terhubungi dan temotivasi untuk beralih dari paradigma hanya padi di samping memperbaiki iklim budaya (prilaku) RTM masyarakat tani itu secara luas dalam sistim pertanian.

Dengan berbagai upaya pengembangan pertanian dengan perbaikan iklim budaya masyarakat tani, Pessel tetap surplus gabah. Sejak dulu gemilang, ketika dikembangkan varetas unggulan sokan, ir-42, batang piaman dll. dengan hasil 4,5 ton/ Ha. Pernah Pessel menjadi lumbung beras organic di Sumbar. Sekarang dengan kemampuan lahan pertanian Pessel antara 54-55 Ha/ tahun (Catata Arpen), Pessel masih surplus gabah mencapai 50.000 – 60.000 ton pertahun setara dengan 30.000 ton beras.***

***Penulis, mahasiswa PPs PWD Unand Padang dan Lektor Kepala pada Fakultas Ilmu Budaya – Adab IAIN Imam Bonjol.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: