jump to navigation

Imam Katik dan Pendayafungsiannya sebagai Da’i di Perkampungan Pariwisata Berbasis Surau) Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in adat minangkabau.
trackback

/ Drs. Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Imam dan Katik dua unsur dari urang jinih nan-4. Keduanya (bersama dua unsur lainnya yakni bila dan qadhi) dapat didayafungsikan sebagai da’i profesionalis pembina syarak dalam pelaksanaan adat sakato syarak dan pemakmuran hidup banagasi yang berpotensi jadi perkampungan pariwisata berbasis surau sebagai simbol budi ninik mamak. Dalam pelaksananaan tugasnya imam katik membantu malim sebagai salah satu unsur urang nan-4 jinih yang berdiri di pintu agama. Dipercayai Imam Katik sebagai da’i ini dan amat strategis dalam perwujudan otonomi daerah menciptakan masyarakat hadhari (civil society) di Sumatera Barat diperkuat sub kultur Minangnya, kembali ke nagari berbasis surau.

1
Otonomi daerah di Sumatera Barat (Perda 9/ 2000 – UU 22/99 dalam tahap direvsi) memakai sistem kambali ke nagari (kembali hidup banagari). Basisnya Surau. Bagaimana bentuk surau basis kembali kepada kehidupan bernagari. Dapatkah surau dijadikan basis alternatif pemakmuran kehidupan bernagari dalam visi dan misi pemakmuran kehidupan bernagari seperti pengembangan ekonomi anak kemenakan dengan motivasi agama (syarak) di samping sebagai pusat kebudayaan nagari. Kalau nagari itu berpotensi sebagai perkampungan pariwisata, bagaimana peranan imam katik di samping malim dalam perangkat urang nan-4 jinih (penghulu, manti, malim dan dubalang) berbasis surau sebagai simbol budi dan mendidik anak kemenakan bataratik dari sisi adat dan syarak dalam koordinasi penghulu melalui malim yang berdiri di pintu agama (syarak).
2
Kondisi objektif (potensi dan kelemahan) nagari dan suraunya kini:
Potensin nagari dan suraunya (a) sejarah nagari (budaya dan alamnya) dilirik jadi perkampungan pariwisata, (b) pariwisata berbasis syarak dan boleh dilaksanakan masyarakt adat ada 5 manfaat yakni (tafarukhu l-hammi/ refreshing, iktisab ma’isyah/ bisnis, memperkuat al-‘ulum/ ilmu, adab/ membentuk peradaban dan suhbat al-majid/ memperbanyak mitra- teman yang baik-baik), (c) dalam sejarah surau pernah tidak saja jadi basis dakwah Islam bahkan jadi basis da’i pahlawan dalam perjuangan membela tanah air dengan menentang penjajah didorong oleh nilai Islam membela tanah air bagian dari iman, (d) sekarang ada tekad pemerintah dan komitmen anak nagari menjadikan surau sebagai basis kehidupan banagari, (e) pranata adat masih kukuh punya institusi surau (meski pisik tidak ada/ ada tidak terawat), (f) surau simbol moral dan budi pekerti anak kemenakan dibina mamak, (g) sejarah surau melahirkan orang alim (cikal bakal ulama), tahu adat, punya ilmu bela diri untuk cofident (pe-de) dalam mengembangkan Islam dan adat, (h) surau – masjid marak sekarang dimanfa’atkan sebagai lembaga TPA/TPSA.
Kelamahan nagari dan suraunya: (a) pola kehidupan bernagari dan nilai sejarah kegemilangan surau masih kabur dan eksistensinya sekarang lemah di tengah sistem pendidikan baru (sisdiknas), (b) sejarah surau beralih ke madrasah dan menjadi institusi pilihan dalam pendidikan Islam, sementara madrasah tidak pula kuat dibanding lembega pendidikan umum, (c) surau kehilangan supremasi sebagai lembaga budi ninik mamak, (d) fungsi surau mengalami disintegrasi sosial (fungsi lama yang mapan menjadi kabur dan ditinggalkan, fungsi baru diraba dan dianut bahkan belum ditemukan), (e) KAN sebagai institusi adat belum punya solusi kembalikan fungsi surau dan basis kehidupan banagari di samping isu terjadinya disfungsi (kurang berfungsinya) adat dan ninikmamak, (f) Visi pemerintah daerah (termasuk Depang) tentang institusi surau kabur, sering masjid disamakan dengan surau dalam pembentukan basis pada sistem kembali ke nagari sekarang, padahal syarat nagari di antaranya basurau bamusajik dua institusi berbeda, (g) ninik mamak tidak berdaya (power lemah) membina aset surau sebagai simbol budi, (h) surau dibiarkan berjalan tanpa guru (Islam, adat, bela diri) dan kalau ada guru 1 atau 2 dibiarkan dalam tingkat kesejahteraan memprihatinkan dibanding guru dalam berbagai kursus anak-anak bidang studi umum lainnya, (i) responsibilitas anak nagari terhadap fungsi surau dan peranan gurunya mengalami pasang surut di samping merosotnya pemikiran orang Minang.
3
Pengaruh lingstra (lingkungan strategis: internasional, regional, nasional dan daerah dengan derasnya arus modernisasi era global dan berbagai tantantangan lainnya di samping peluang untuk maju).
Peluang nagari dan surau: (a) nagari dan kampung sudah punya akses multi media, berpotensi pengembangan pengajaran agama berbasis multimedia, aksessibiliti informasi pemakmuran kesejahteraan kehidupan nagari dan (b) pusat kebudayaan nagari dan kampung, seperti tempat pemberdayaan berbagai lembaga masyarakat melalui motivasi agama dan pusat informasi serta sosialiasi nilai Islami untuk memperkuat otoritas pemerintah dalam pengentasan kemiskinan (pemberdayaan ekonomi rakyat lewat motivasi agama ) dan pemberantasan dekadensi moral termasuk pekat/ maksiat.
Tantangan nagari dan surau: (a) kemajuan teknologi vcd (tv, internet) pengaruhi prilaku masyarakat, menantang anak nagari mempersandingkan vcd negatif dengan vcd ajaran Islam (vcd al-qur’an/ hadist, tafsir, fiqhi dan vcd cerita-cerita pendidikan Islam yang menarik dll), (b) sarjana agama yang punya alam pikir modern yang banyak tinggal di masjid pengaruhi alam pikiran tradisional ninik mamak, merubah fungsi/ arsitektur surau jadi masjid raya modrnis dan besar, lenyap dan roboh surau dan hilang kekayaan budaya/ gaya bangunan arsitektur masjid artistic klasik, menantang lahirnya surau modern dengan fungsi dan arsitek baru, (c) prilaku masyarakat terhadap surau – masjid, mendorong masjid dibangun besar, tapi tidak makmur (tidak ramai isinya), siang berfungsi shalat jum’at dan kadang disertai shalat mayat, banyak kosong, malam menakutkan sepi bagai rumah hantu, makanya ada yang pakai untuk bertapa bukannya untuk i’tikaf, bahkan siang terkunci, surau tidak aktif pula, kemana lagi anak kemanakan mau shalat, makanya banyak kemanakan tidak shalat, menantang memfungsikan surau sebagai tempat ibadat, ngaji Islam dan adat serta belajar ilmu bela diri agar percaya diri dan tangguh menghadapi tantangan dalam mengembangkan Islam.

4
Surau, dahulu dapat dibedakan (1) surau nagari, (2) surau suku dan (3) surau paham keagamaan. Surau nagari merupakan institusi agama di samping masjid menjadi persyaratan nagari. Surau suku, dibina penghulu/ ninik mamak suku dalam pembinaan sopan santun anak kemenakan, maka oleh sebab itu surau suku simbol budi. Surau paham keagamaan, berbentuk pusat pengajaran dan ibadat suatu paham keagamaan, misal Surau Tanjung Limau Sundai Batangkapas, surau Air Haji yang gurunya pernah mendapat pendidikan Makkah seperti juga surau Syeikh Abdul Wahab di Calau Sijunjung, surau Syeikh Buyung Mudo di Puluik-puluik, surau Pakih Hut di Siguntur tempat bergurunya ayak Buya Hamka dan ada yang khususnya surau tarekat, bagi naqsyabandi untuk suluk, bagi satari shalat 40 dst.
Surau di nagari diurus penghulu di nagari, secara operasional diolah malim. Kalau di nagari setidaknya ada 4 suku maka suraunya 4 pula. Justeru Nagari punya syarat basurau-bamusajik (masjid) tampek baibadek (beribadat), tempat belajar cari/ uji kecerdasan dan tempat mengajar anak kemenakan berbudi pekerti mulia, di samping balabuah nan golong – bapasa (nan rami) tampek lalu dan malewakan kebesaran penghulu, batapian tampek mandi, babalai tampek bamusyawarah bamupakek, bagalanggang medan nan bapane tempat uji kepandaian.
5
Imam dan Katik dua unsur urang jinih nan-4 (dua lainnya bila dan qadhi) ada pada setiap kampung. Kampung itu dekat dengan pengertian suku. Lihatlah ada kampung kampai (bahkan sampai ke Seremban Malaysia ada Kampung Kampai), kampuang malayu, kampung panai, ada kampung jambak, kampung sikumbang, kampung caniago dll. Di kampung itu urang jinih nan-4 (imam,katik, bila, qadhi) membantu urang nan-4 jinih (penghulu, malim, manti, dubalang). Strukturnya sbb:

Urang nan-4 Jinih

Penghulu Manti Dubalang Malim (n)
(Andiko/ Adat)
Urang Jinih nan-4

Imam Katik Bila Kali (Qadhi)

Diliaht dari perspekti (sudut pandang) nagari bapusako (harta). Ada, (1) Pusako kabasaran disebut juga pusako martabat, yakni nan-4 jinih : penghulu, manti, malim (dikuatkan dengan urang jinih nan-4: imam, katik, bila dan qadhi), dubalang. Artinya urang jinih-4 adalah pusako kabasaran Minang, di samping ada (2) Pusako harato, yaitu hutan-tanah, sawah ladang, pandam pakuburan dan lambah, namanya ulayat. Hutam jauh baulangi, hutan dakek bakundano.

Di nagari ada parhinduan. Untuk mensejahterakannya ada harato sarikek (sarikat). Harato sarikek dipegang menurut adat oleh perempuan sulung dan dijago mamak nan tuo/ tunganai. Keduanya memenej harato sarikek seperti mambuek (mengolah) sawah dan mengolah tanah kariang. Fungsi ini sekarang mulai kabur.
Harato yang tidak boleh dijual: rumah tanggo, sandi parumahan, kampuang halaman, pandam pakuburan, tapian dan lubuak, labuah nan golong, balai adat dan balai pakan, surau musajik, galanggang pamedanan, pangkat pusako, banda sawah, tanah ulayat serta kepunyaan kaum, suku dan nagari.

Harato sariket juga tidak boleh dijual. Kecuali membayar hutang adat dalam 4-hal: (1) maik tabujua di tangah rumah, (2) gadih gadang indak balaki, (3) rumah gadang katirisan dan (4) batagak panghulu.
Harato pusako dimanfa’atkan untuk keselamatan nagari dan isi nagari. Karenanya harato pusako perlu di menej. Bentuk manajemennya ada dua alternatif. (1) ditingkat kaum harato sarikek dan (2) di surau – musajik dalam bentuk bait al-maal atau koperasi masjid.
Harato sarikek dimenej oleh perempuan sulungnya dalam kaum dan dijaga tunganai. Bait al-mal di masjid dimenej oleh amil (pengurus) dipilih dari malim (ditambah urang jinih nan-4 dalam nagari.
Sumber harato dari: harato pencaharian pribadi (yang kayo) dan harato nagari serta infak, shadaqah serta zakat.

Harato nagari dari ulayat nagari (penghulu dan rajo) diolah nagari dalam bentuk pengurus dan pengurusan tertetu berdasarkan petua adat. Sejalan adat salingka nagari. Nagari otonom yang setelah merdeka berada dalam kerangka NKRI. Nagari punya kewenangan tanpa lepas hubungan dengan Kabupaten melalui Kecamatan, seterusnya ke Provinsi dan pusat.
Hasil harato yang diurus nagari sepanjang adat salingka nagari (fatwa adat) dalam bentuk bungo: ameh (tambang), tanah, kayu, hutan randah, pasia, ampiang, takuk kayu, pancuang aleh, karang (laut dan perairan), babang pamukatan, solok balanggadai, taluak panjariangan (dalam teritorial rajo), tungku panggaraman (tanah kekuasaan rajo), tali ayam, tokok lantak, lacuik lantak, hak danciang pangaluaran (impor), ubua-ubua gantuang kamudi (perahu yang menjatuhkan sauh), ameh manah (penguatkan pemerintahan nagari) dll.

Ulayat rajo, antaro limbua pasang mudiak dengan bukit nan bakabuik, lalu ka padang nan barumpuik, nan bacapo babilalang, basikaduduak barumpuik-barumpuik, sampai baluka dengan hutan, nan baaka nan bapilin, rotan nan bajalin, bakalumpang nan babaniah.
Ulayat penghulu, sejak dari rumpuik dan salai, jirak nan sabatang, terus ke pasia nan sabutia, bumi nan takasiak bulan, sampai kaawan dan babasuik jantan.
Dalam perkembangan modern, nagari sebagai basis ulayat tadi akan berpotensi menjadi sumber kekayaan ekonomi internasional. Semakin maju dunia ini, nagari berpotensi jadi perkampungan wisata. Suku akan mengglobal. Bukan semakin maju suku akan hilang tidak. Lihat Jepang, semakin maju sukunya semakin mendunia (mengglobal) seperti suku Honda, Zuzuki dsb. Nagari sebagai basis ekonomi jasa dalam perkampungan wisata (perkampungan suku akan menjadi menarik jasa wisatawan) lantaran kekayaan sejarah budaya (suku, tradisi, sejarah dsb) di samping kekayaan alam yang dimiliki. Justeru sekarang muncul triple-T (3T) globalisasi yang berpeluang bagi pertumbuhan ekonomi jasa. 3T itu, Tourism (maju pariwisata, olah perkampungan wisata berbasis adat sakato syarak ), Transportasi (maju transportasi berpeluang buka usaha travel), Telekomunikasi (maju telepon, multimedia buka wartelnet/ arung telepon dan intenet) dsb.
Tetapi dampak pasti ada, yang positif banyak dan yang negatif banyak. Tadi Islam (syarak) menganjurkan pariwisata untuk refresh (penyegaran), usaha, ilmu, peradaban dan mencari teman, semua positif. Lihat konsep Islam tentang pariwisata sbb:

Tapi negatifnya penyimpangan, mencari teman yang baik-baik disimpangkan mencari teman bermalam di hotel bergaul bebas dsb. Ya salah. Dalam mengantisipasi yang negatif ini, di sini fungsi dakwah yang perlu memerankan urang jinih nan-4 di kampungnya, agar masyarakt (kaum suku di kampung itu) tidak terperdaya.

6
Imam dan Katik termasuk Bila dan Qadhi (P3N) berpotensi didayagunakan sebagai da’i. Imam dalam lingkungan sosial masyarakat adat di kaumnya, mengimami kaumnya. Katik dalam lingkungan sosial masyarakat adat di kaumnya, selalu memberi nasehat/ pengajaran dan menunjukan arah warga kaumnya ke jalan yang benar.

Imam di mana dan kapan saja ia menjadi panutan dan penuntun kiblat kaumnnya. Ia menjadi ikutan dalam beribadat, menjadi rujukan arah dalam beradat yang tidak melanggar ajaran Islam. Tetapi kalau imamnya benar yang salah dan menunjukkan sikap tidak baik, apalagi terperangkap dalam keseharian yang tidak bisa jadi teladan, duduk di lapau main domino dengan alasan obat pusing dsb. maka masyarakatnya tidak lagi bakal mengikutinya sebagai imam.
Katik di mana dan kapan pun harus bisa ngoceh memberi nasehat/ ajaran, hikmah dan arah yang baik kepada kaumnya. Waktu shalat lima waktu masuk atau shalat jum’at, suara azan bergema, ia mengingatkan kaumnya, segera shalat, tinggalkan sementara pekerjaan, tinggalkan sementara perhelatan dsb. Tetapi kalau katik sendiri, sewaktu shalat masih duduk di lapau, atau masih bekerja, apalagi sempat berkata, ndak ba’a do talambek saketek, ndak baa do kalau main domino di lapau kalau tidak bataruah, pastilah kacau kaumnya. Pada gilirannya bicara katik tidak akan diikuti, meskipun berkhitbah di surau adatnya atau surau basis nagarinya.
Kearah pendayafungsikan imam katik sebagai dai profesional dan berpengalaman, diperlukan upaya pemberdayaan (empowering) mereka baik dalam bidang agama maupun adat. Empowering imam katik, dimulai dari penyadaran potensi dan peranannya, pembekalan dengan diklat intensif, sampai kepada pendampingan dengan mengkonsul pelaksanaan adat dan agama (syarak) secara konprehensip dan pendamping dengan pendanaan kegiatan dakwahnya, baik untuk suraunya maupun kesejahteraannya dalam mengangkat martabatnya. Di sini tidak hanya tugas pemerintah (Binsos dan Depag) tetapi juga lembaga sosial dakwah dan basis kegiatannya yakni surau dan masjid yang mereka bina atau disekolah oleh kaum adat di nagari mereka dipasilitasi pemda.

7
Di Surau Basis bagi kehidupan nagari yang pembinaannya otoritas penghulu pimpinan urang nan-4 Jinih di nagari bersama malinnya diperkuat surau suku yang dibina ninik mamak suku dengan urang jinih nan-4-nya (imam, khatib, bila dan qadhi) yang boleh difungsikan sebagai da’i berpengalaman. Arah kebijakan, program, kegiatan dan upaya serta strategi pelaksanaannya disesuaikan dengan potensi dan peluang bagi kemajuan surau sebagai basis pemakmuran kehidupan banagari.
Ada dua arah kebijakan surau pertama pembinaan adat dan syarak, kedua pengembangan ekonomi kaum. Pembinaan adat dan syarak, mejadi bagian tugas yang diemban urang jinih nan-4 dikoordinasikan oleh malim. Ketika itu nilai dasar ABS-SBK dalam tataran identitas masyarakat Minang sebagai kelompok masyarakat adat dan syarak (Islam) dibentangkan di Surau. Dr. Alis Marajo (2002:2) menyebut 4 nilai pada adat yakni budi, akal, ilmu, mungkin – patut. Empat nilai ini menurut Alis Marajo diambil dari nilai Syarak (Islam) setelah evolusi agama Majusi, Hindu, Budha (dan agama lain disebut Mukhtar Naim Palbegu).
Orang Minang melihat, Islamlah yang paling cocok dalam memperkuat nilai-nilai dasar Minang. Nilai yang nan-4 pada adat ini dipersandingkan dengan 4 nilai pada syarak (Islam) yakni hakekat, tarekat, ma’rifat dan syaria’t. Kombinasi nilai nan-4 pada adat dan nan-4 pada syarak itu tertuanglah dalam mamang adat : ka hakikat landasan budi/ ka tarekat landasan aka/ ka ma`rifat landasan mungkin dan patuik/ ka syari’at landasan ilmu. Nilai-nilai dasar adat itu disosialisasikan di lembaga-lembaga yang menjadi persyaratan berdirinya nagari, yakni (1) budi di surau (juga di gobah, palanta), (2) akal dibentuk di Balai, (3) Ilmu diuji di Gelanggang, dan (4) mungkin dan patut disosialisasikan di tepian tempat mandi. Khusus membina budi (taratik) di surau di samping pelaksanaan syarak dalam seluruh aspek kehidupan anak kemanakan (nikah, penyelenggaraan kematian, mengimami anak kemenakan dan memberi fatwa kepada anak kemenakan dll.) merupakan tugas mendasar unsur imam katik ini.
Dalam arah kebijakan pengembangan harato nagari dan pemberdayaan lembaga ekonomi anak nagari surau merupakan basis dan imam katik. Di surau imam katik yang berdaya boleh membina kelompok ekonomi kaumnya lewat motivasi agama sebenarnya sejak dulu sudah jalan. Upacara merangsang arah pengembangan ekonomi kaum ini terselip dalam makna seruan mambao buah sarugo ke surau atau masjid atau seperti memakan nasi dulang pada surau suku di swl/ Sjj. Pembinaan dimaksud sejalan dengan arah kebijakan lain pembelajaran Islam, adat, ilmu bela diri dan pembentukan prilaku yang beradat dan Islami, pusat budaya nagari serta pusat informasi membantu nagari dalam strategi menoleh keluar bekerjasama dengan dunia luar (vi to vi). Bila harato nagari dan lembaga ekonominya terolah dalam dua manajemen (nagari dan surau basis) sejalan dengan pelaksanaan arah kebijakan lain surau tadi, maka kondisi ideal (yang diharapkan bagi kemajuan surau basis imam katik), maka rakyat aman (sanang) dan nagari makmur (padi manjadi jaguang maupiah), budi mulia, ibadat kuat, maksiat jauh samo sakali, masyarakat sembuh dari pekat. Besar harapan imam katik bisa menjadi dai berangkat dengan pangalaman besarnya dalam masyarakat adatnya***YY Dt.Rajo Bagindo.

Painan, 22 Mei 2006

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: