jump to navigation

Proteksi Kelestarian Eksosistem TNKS Mei 2, 2008

Posted by wawasanislam in lingkungan.
trackback

Masyarakat Pesisir Selatan Kecewa

dengan Konsultan dan Aktivis Lingkungan Hidup LSM

Oleh: Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Ketua KAN Taluk, Pesisir Selatan

Masyarakat Pesisir Selatan dan daerah sekitar TNKS satu sisi patut berterima kasih kepada LSM dengan aktivis lingkungan hidup, konsultan Bank Dunian untuk TNKS dan Konsultan TNKS, karena banyak sedikitnya ada jasa mereka berupaya melakukan proteksi terhadap kerusakan ekosistem TNKS paru-paru dinia itu, yang dapat mengancam keselamatan masyarakat Pesisir Selatan sendiri khususnya dan keselamatan manusia pada umumnya.

Sungguh pun demikian masyarakat Pesisir Selatan juga kecewa, kerena sejak selama ini, masyarakat pedesaan sekitar TNKS selalu dicurigai oleh aktivis lingkungan sebagai biang kerusakan TNKS. Bila ada banjir yang membawa korban jiwa dan harta, masyarakat seperti disudutkan, dikumandangkan sebagai ulah perbuatan mereka membabat hutan. Tuduhan dan kecurigaan itu tidak beralasan kuat. Maka oleh sebab itu, sekali waktu masyarakat komplain, apa memang kami (masyarakat) yang membabat hutan, apa tidak kekuatan lain yang memperbudak?. Dengan berbagai ekspose terakhir sekitar TNKS, malah masyarakat balik mencurigai LSM dan aktivis lingkungan termasuk konsultan TNKS tidakkah mereka menjual kepentingan bangsanya dengan memanfa’atkan isu global tentang lingkungan hidup ini. Artinya citra LSM dan aktivis lingkungan jadi buruk di mata masyarakat dan curiga dengan kode prilaku yang sering menjual isu masyarakat desa sekitar TNKS merusak lingkungan untuk kepentingan sesa’at. Mereka penuh tanda tanya apakah isu itu yang melatarbelakangi adanya bantuan untuk masyarakat sekitar TNKS?. Masyarakat hanya mendapat sedikit dalam citra buruk, sedangkan LSM dan aktivis lingkungan mendapat lebih banyak dengan modal mengorbankan masyarakat dan kepentingan daerah.

Pada akhirnya LSM dan aktivis lingkungan menyadari juga yang lebih banyak merusak itu adalah para pengusaha. Pengakuan itu misalnya terungkap dalam hearing (dengar pendapat) aktivis lingkungan dan konsultan Bank Dunia untuk TNKS Ir. Mas’ud Panjaitan MSc. dengan DPRD Provinsi Sumbar, Selasa, 21 Agustus 2001 sekitar fenomena kontrovesi (bahkan memastikan) PTSA (Sariagrindo Andalas) telah menyerobot TNKS eksplorasi batu bara di Kayu Aro (Sutra) melebar ke Taluk (Batangkapas).

Soal PTSA ini pun mengundang, aktivis lingkungan sudah dapat bukti pasti atau hanya memastikan! (masih persepsi). Sudahkah dicek ke lapangan atau hanya didengar dari laporan yang berkepentingan untuk sesat atau dari isu rekaman satelit sejalan isu global tentang lingkung yang sering menyudutkan negara sedang berkembang seperti Indonesia. Sebab ada kesenjangan informasi, ada isu yang berkembang, dalam deteksi satelit itu, suduik dapua ayek usi (sudut dapur nenek) di kayu Aro termasuk juga kawasan TNKS. Apalagi kawasan eksplorasi 110 Ha dari 348 Ha TNKS. Bagaimana pula itu, menggelikan memang dan menjadi bahan tertawaan masyarakat, dunia penuh distorsi dan spekulasi informasi. Ceklah kelapangan, seperti ajakan Wabup Pesisir Selatan Nasrul Abit. Kalau fenomena hasil deteksi satelit itu begitu, pastilah juga menjadi bahan tertawaan anggota Komisi D DPRD Djufri Hadi, Syukriadi Syukur, Sueb Karsono, Alfian, Ambiar Amir, RP Poernomo, Arius Sampeno), juga akan membuat geli LSM dan avtivis lingkungan hidup dan konsultan Bank Dunia untuk TNKS juga konsultan TNKS sendiri seperti Dr. Merry, Ir. Hayani dan Ir. Firman.

Melestarikan TNKS dan memelihara ekosistem dambaan semua. Harus bersama-sama melestarikan hutan yang seharusnya dikonservasi dan tidak boleh dieksploitasi. Seperti yang diungkap Lukman Ketua DPRD Pesisir Selatan berharap jangan terkotak-kotak dalam melestarikan TNKS itu. Pemda pun sadar dalam pembangunan, tidak tejadi kerusakan lingkungan (unstainabilitas ekologi) di samping unstainabilitas ekonomi dan politik. Tidak enaknya adalah masyarakat dan Pemda seperti tertuduh. Aktivis lingkungan seperti yang berada di LSM, Konsultan TNKS dan Konsultan Bank Dunia untuk TNKS pun balik dituduh ingin ngetop sendiri, teriak ke sana teriak ke sini, hearing ke DPRD dan main menang. Dengan masyarakat desa dan tokoh nagari (ninik mamak) serta Pemda Kabupaten mengambil posisi, sehingga mereka bertanya kapan berjumpa dengan LSM, maka informasinya seperti itu. Sialnya sering menyudutkan, sepertinya jagoan sendiri dan seperti mau selesai saja TNKS itu oleh aktivis lingkungan. Tuduhan seperti ini, pastilah membuat aktivis lingkungan seperti Ir. Mas’ud dan Firman terkesiap dan mikir-mikir strategi recavery citra LSM lingkungan masa depan dengan menawarkan arah kebijakan dan upaya-upaya.

Dirasakan, saatnya LSM tidak berdaya, timbul keluhan, “… tenaga dan pressure kami LSM ini tidak bisa berbuat apa-apa. Kami sudah melakukan berbagai macam cara seperti kampanye tapi amat sulit, ke eksekutif juga sulit”, pernah Mas’us diekspos (MM 22-08-01). Sebuah koreksi untuk LSM, kesulitan itu timbul dimungkin karena sikap datangnya hanya menyalahkan masyarakat dan pemerintah serta mengadakan pressure lewat DPRD. Cobalah bersama-sama, kekuatan apa pula yang tidak dimiliki LSM yang memang diketahui keberadaannya amat penting dan strategis sejalan dengan isu global. Terus terang saja soal PTSA misalnya mengadakan eksplorasi batu bara. Kawasannya 110 Ha yang diisukan menyerobot 348.000 Ha TNKS itu tidak saja di wilayah Kecamatan Sutra di desa Kayu Aro, tetapi juga separohnya berada dalam wilayah Kecamatan Batangkapas tepatnya di desa Taluk Tigo Sakato (Nagari Taluk). Aktivis lingkungan di LSM, Konsultan Bank Dunia untuk TNKS dan Konsultan TNKS menyikapi fenomena PTSA ini sudahkah pernah menjumpai masyarakat Taluk dan melihat kawasan itu ke lapangan eksplorasi, kecuali dengan Pemkab. Pesisir Selatan di kantor. PTSA sendiri pun nyelonong masuk Taluk. Ninik mamak Taluk sebenarnya tersinggung. Setidak-tidaknya dua ketersinggungan mereka, pertama wilayah tambang separohnya adalah nagari mereka namun tidak disebut-sebut nagari mereka, hanya disebut proyek Sultra tidak ada nama Kecamatan Batangkapas yang di dalamnya ada negeri Taluk, kedua PTSA masuk begitu saja ke nagari Taluk.

Nyaris masyarakat mencegat PTSA dengan kasar, syukur saja cepat ditangani pemuka masyarakat (di kampung dan rantau) secara bijak dibuka forum KAN di Taluk dan dibicarakan dan mengambil solusi, anak kemenakan jangan ribut, tunggu hari mainnya. Jadi, kalau mencegat PTSA apa susahnya, jangankan LSM atau Konsultan Bank Dunia untuk TNKS dan Konsultan TNKS, secara lawless society tiga orang saja anak kemenakan ninik mamak mamacik ladiang cangkuk pagi-pagi dapat dipastikan anggota PTSA pontang pantiang (terbirit-birit) lari dan tidak akan bernani lagi mendekat kawasan eksplorasi. Tetapi apakah sikap itu bijak, apakah tidak baik dilihat dulu perkembangannya, apa benar menyerobot TNKS, sementara eksplorasi masih tidak jauh di sudut dapur nenek, di kawasan dulu lalang, kini belukar kecil, tempat dulu mengikat gembalaan lembu, tiga hari berjalan ke hutan belum akan bertemu TNKS. Kalau memang sekali lagi PTSA menyerobot TNKS alangkah beraninya, mencegatnya kami rasanya belum perlu minta bantuan LSM, kami saja orang Taluk sanggup menghentikan mereka, apalagi LSM lingkungan sekarang pengaruhnya luar biasa strategis, belum perlu rasanya LSM minta DPRD Sumbar mengadakan pressure politik kepada aparat dan ekskutif. Beberapa komentar teman itulah sayangnya, Lembaga masyarakat tapi terpisah dari masyarakat, bukankah aneh, apalagi turut membuat citra masyarakat desa buruk terutama berkaitan dengan pelestarian TNKS yang sering terancam prilaku oknum pembabatan hutan secara liar bertameng HPH untuk meraih illegal loging (kayu curian) dan terakhir fenomena penambangan batu bara oleh PTSA yang baru dalam tahap eksplorasi.

Ancaman TNKS bukan dari masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar justeru dikambinghitamkan. Oknum –sekali lagi oknum– pengusaha (kayu dan tambang) justru mengekploitasi masyarakat desa. Masyarakat desa diiming-iming dengan duit, secara tidak langsung mengajak petani miskin beralih kerja menebang hutan secara liar dan disuruh mencuri kayu, dibeli para agen dan dibacking para oknum dengan kuat. Pandai pulalah mereka main kayu. Peluang sawmill pengusaha semakin luas bermain, yang dipersalahkan masyarakat juga. Dihadapkan dengan fenomena seperti ini justru bantuan dunia untuk masyarakat di kaki TNKS seperti terasa sia-sia. Cobalah pahami, kalau masyarakat mengambil kayu meski harus masuk TNKS, ya seberapalah yang terbawa, sebab satu batang kayu saja ditebangnya, tidak selesai 6 bulan, karena alat yang mereka gunakan adalah gesek (arit) tidak akan sebanding kekuatannya dengan sinsaw/ sawmill pengusaha yang dalam waktu relatif singkat bisa keluar berton kubik.

Sekali lagi bukanlah masyarakat pengrusak hutan. Masyarakat pun marah dituduh mencuri kayu. Saking marahnya, mereka pun turut menangkap penebang hutan secara liar di kawasan TNKS mendukung komitmen Pemkab Pesisir Selatan mengamankan paru-paru dunia itu. Peristiwa itu pernah terjadi di desa Koto Pulai Kecamatan Lengayang yang dipelopori tokoh Ulkampai membuat kaget OS Yarli Asir, Sekkab Pesisir Selatan. Sudah demikian upayanya, masyarakat miskin tetap diperas dan dipaksa oleh keadaan iming-iming oknum pengusaha. Makanya pula, masyarakat pun protes dituduh mencuri kayu, sebuah fenomena yang harus dipahami LSM pemerhati lingkungan. Bantahan masyarakat, kami tidak mencuri kayu, kami mengambil kayu dalam hutan ulayat kami. Solusinya soal proferty hutan, mereka ingin diberi tahu di mana batas TNKS dan hutan ulayat masyarakat. Keinginjelasan batas TNKS dan hutan ulayat ini, pernah mencuat sebagai isu penting dalam seminar sehari “Proteksi Hutan dan Peranan Ninik Mamak” April 2001, digagas Kepala Dinas Kehutanan Pesisir Selatan A.Rahim. Saya sebagai salah seorang pemakalah ketika itu dari unsur ninik mamak/ pengamat sospol, pernah merajuk ninik mamak, ayo kita jual saja hutan ini kepada agen. Reaksinya ninik mamak menggelegak dan diskusi menjadi alot, suatu pertanda ninik mamak masih tetap punya responsibilitas terhadap gejala pengrusakan hutan dan illegal loging, selanjutnya ingin tetap berperan dalam upaya proteksi kerusakan hutan terutama TNKS.

Jadi perlu jelas batas TNKS dan hutan ulayat. Diketahui dengan jelas batas TNKS dan hutan ulayat, sebuah alternatif memudahkah pengawasan hutan lindung oleh LSM bersama masyarakat dan Pemerintah serta legislatif. Kalau serba tidak jelas batas itu, pembangunan daerah bisa terhambat. Dengan alasan lingkungan strategis isu global mengenai lingkungan ini saja, jalan kampung saja tidak bisa dibuat, bisa-bisa dituduh merambah hutan lindung atau TNKS, padahal ayek aki (kekek) masih berladang dua tahun lalu di kawasan itu. Lihat contoh kasus membuat jalan ke Mandeh disebut hutan lindung membuat Bupati marah besar, apa iya hutan lindung, kalau jalan Kambang – Muara Labuh bolehlah. Jadi, karena batas tidak jelas batas TNKS-Hutan Ulayat, semua yang berkepentingan sesa’at bermain pada serba tidak jelas itu dan mudah terpicu dan diadu. Akibatnya, lihatlah citra masyarakat dirusak dalam memelihara lingkungan, juga citra pemerintahan daerah dirusak bahkan citra LSM lingkungan pun jadi rusak, sebab terjadi saling tuduh. Janganlah saling bikin ketersinggungan, tidakkah kita membangun untuk kesejahteraan dan keamanan bangsa dan umat mansusia.**

Komentar»

1. Muhammad Nasir - Mei 14, 2008

Ya. wajar bila masyarakat kecewa kepada LSM. Tetapi kekecewaan itu bisa dicari akar masalahnya. Bahwa Lingkungan (termasuk hutan) perlu diselamatkan adalah benar muttafaqun alaih. tetapi bagaimana menyelamatkannya itu yang belum ditemukan strateginya.
berbicara sola strategi, maka disitulah pentingnya frasa partisipasi masyarakat. Menyelamatkan lingkungan merupakan tugas manusia, apakah ia ada di LSM, di masyarakat yang “organized” dan “unorganized”
Dalam konteks Partisipasi, maka seluruh agenda “Save our Environment) mesti diletakkan dalam satu kerangka “Penyelamatan Berbasis Masyarakat”. Pak, karena itu perlu disampaikan kepada LSM agar mengganti peran mereka dari peran “pahlawan” menjadi “invisible hand”. Biarkan masyarakat jadi pahlawan. kata “Inyiak” Lao Tse

datang kepada mereka (masyarakat)
berbicaralah dengan mereka
bekerjalah bersama mereka
bila saatnya pekerjaan usai
dan engkau harus pergi
mereka akan berkata
“kami telah melakukannya”

…jadi bukan LSM

pak bilo sempat kunjungi ambo di nasirsalo.blogspot.com
sekaligus mohon pituah apak untuk ambo
syukran jaziila…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: