jump to navigation

Tentang Puasa April 30, 2008

Posted by wawasanislam in islam.
trackback

Puasa dan Kesucian

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-1)

Puasa itu dapat mensucikan tubuh dari hal-hal yang dapat meracuni pertumbuhan pisik (gemuk – cepat tua) dan psikis (ketidakpedulian). Kata Nabi saw: …likulli syai’in zakatun, zakat al-badan al-ju` / …segala sesuatu ada zakatnya, zakat badan adalah menahan lapar”. Demikian pula diperingatkan la tumayyitu l-quluba (jangan matikan hati) dengan makan dan minum yang banyak. Hati itu bagaikan al-zar`u (kebun), tanamannya akan mati bila direndam genangan air.

Puasa dimaknai imsak (menahan) dalam interval waktu mulai terbit fajar sampai terbenam mata hari. Yang ditahan itu makan dan minum serta segala yang membatalkan puasa. Menahan lapar bernilai menzakatkan badan. Nilai ini bisa jadi i’tibar praktek orang gemuk yang gelisah ingin kurus. Ia diet setidaknya mengurangi makan. Orang diet sudah sadar, banyak makan, perut kenyang, biasa mata mengantuk. Sering tidur dalam kenyang, berat badan bertambah dan gemuk lagi, setidaknya setelah bangun badan tidak sehat. Rasakanlah di waktu sahur, perut kenyang sehabis shalat subuh, terror kantuk datang tak ketulungan. Rasa mau runtuh semua kekuatan badan kalau tidak ditidurkan.

Rasa kantuk biasa memaksa pikiran sehat membenarkan pola laku tidur setelah makan kenyang. Padahal setelah makan kenyang itu akal sehat menasehati tidak boleh tidur karena bisa merusak badan dan jiwa seperti juga nasehat dokter. Yang jelas dalam praktek tidur di waktu perut kenyang, ketika bangun badan terasa angkik-angkik/ tidak segar, otak tidak encer – tidak cemerlang dan jiwa jadi kusut. Adalah benar, dalam badan yang sehat terletak otak yang sehat -cerdas. Karenanya Nabi saw menyuruh: “shumu tashihhuu/ puasalah kamu agar sehat”.

Tegas, berlapar-lapar dalam puasa, itu menyehatkan badan dan jiwa. Kalau kenyang dan penidur, perhatikanlah peringatan Nabi saw: “man syaba’a wa nama, qasa qalbuhu…/ siapa yang dalam keadaan kenyang lalu tidur, kesat hatinya”. Kesat hati mengesankan, jiwa rusak. Implikasinya dalam kehidupan: cuek, tak acuh/ tak peduli penederitaan orang lain seperti orang miskin. Tidak ada kepekaannya bahkan tidak tersentuh untuk menyahuti jeritan si miskin dan meredam kelaparan mereka.

Imsak (menahan) dalam puasa, bukan sekedar merubah jadwal sarapan pagi dan makan siang dan malam. Tetapi justru mengurangi dan menyederhanakan menu dan memperbaikan pola dan volume makan. Ketika Ramadhan datang diingatkan Nabi saw. puasa itu “…sufidat al-syayathin/ merantai setan”. Dalam diri manusia ada symbol setan ialah nafsu. Imsak/ puasa bukanlah membunuh nafsu tetapi juga diet, menekan kehendak nafsu yang tidak berpangkal dan tidak berujung (tidak pernah ada kepuasan). Kalau membunuh nafsu, manusia jadi malaikat. Itu tak mungkin. Aplikasinya, penenakanan nafsu dalam makan minum bukan berarti tidak boleh makan. Silakan (memaknai ayat Al-Qur’an) “…kulu wasyrabu wala tusrifu/ makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan”. Yang menyakit itu berlebihan. Kalau berlebihan, tindakan itu versus imsak dan memasuki ambang kegagalan dalam pengekangan nafsu yang tadi disebut simbol setan dalam diri manusia. Dalam keadaan ini puasa tidak berfungsi menzakatkan badan dan menyehatkan jiwa.***

Puasa dan Kebersamaan

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-2)

Orang yang puasa penuh rasa keimanan dan ihtisab (penuh perhitungan dan sabar) implikasinya melahirkan budaya mampu mengendalikan diri dan disiplin. Justru imannya yang kuat, berfungsi dapat menangkal segala godaan. Imannya akan mengekang rong-rongan hawa nafsu sebagai symbol setan dalam dirinya.

Dengan keimanan yang kuat, akan membebaskan diri dari sikap individualis. Iman orang puasa mengajak untuk menolong orang setidaknya memotivasi memberi perbukaan. Motivasi itu diisyaratkan: siapa yang memberi pebukaan kepada orang puasa, maka pahalanya sama dengan pahala orang yang puasa itu. Dengan imannya ia didorong berbagi pikir, ilmu dan pengetahuan seperti motivasi: “mandalla `ala khairin falahu ajri fa`ilihi/ siapa yang menunjuki kebaikan sesorang maka baginya pahala sebesar pahala orang yang melakukannya”. Boleh jadi dipahami puasa itu dapat meruntuhkan sikap keakuan dan membangung budaya baru di atas keruntuhan keakuan dan keruntuhan egoisme sektoral itu yakni sikap togetherness (kerbesamaan) dan suka ta’awun (saling tolong, bekerjasama) dalam kerja yang benar.

Karenanya pantas didengar seruan, jaddidu imanaku (imanmu perbaharuilah). Orang dapat melakukan puasa pasti disebabkan dasar imannya yang kuat. Allah swt pun hanya mengajak orang beriman untuk melakukan puasa. Puasa dilaksanakan dengan iman (penuh keimanan anti kemusyrikan) dan dengan ihtisab (pernuh perhitungan, sabar) pasti akan diampuni dosanya seperti yaumun walathu ummuhu (suatu hari yang saat itu ia dilahirkan ibunya) dalam keadaan suci seperti kertas putih (al-abyadhu min al-danas).

Ketika puasa, kita tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seks suami isteri dll. di siang hari, inti ajarannya adalah mengajak manusia menahan diri. Dalam kalimat lain seorang beriman tidak dibolehkan makan minum dan berhubungan seks suami isteri di siang hari, meski miliknya sendiri, halal dan tayyibah (baik), artinya kalau milik sendiri saja tidak boleh dimakan dan diminum, karena sa’at itu dilarang, bagaimana mungkin orang yang sudah pernah melaksanakan puasa itu mau memakan milik orang lain yang sudah jelas-jelas dilarang oleh agama dan aturan sosial atau adat istiadat. Karenanya siapa yang ingkar juga, keparatlah.

Orang yang mampu menahan diri dan merantai nafsunya akan menadapat nikmat iman dan terhidar dari prilaku kefarat. Prilaku adalah perangai yang bila orang melihatnya amat memuakan. Keparat (kafir) berseberangan dengan iman. Sikap keparat dalam masyarakat dilihat tidak lebih baik dari sampah dan pelakunya dinyatakan sebagai sampah masyarakat, ia akan dipencilkan masyarakat dan terbuang.***


Puasa dan Kepatuhan Sosial

/ Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-3)

Puasa dengan paradigma menahan implikasinya mendidik prilaku tahu diri dan melahirkan kepatuhan sosial. Orang puasa akan punya kesempatan tadabbur (merenungkan) dirinya dan tahu diri, buat apa berbangga-bangsa toh asalnya dari tanah (baca QS. al-Hajj 22:5). Orang puasa dengan basis imannya, yakin dari tanah manusia diciptakan menjadi ahsan taqwim (ciptaan tarbaik) yang tugasnya di bumi menjadi pemimpin (khalifah). Setiap pemimpin akan bertanggungjawab apa yang dipimpinnya. Yang dipimpin dari imannya lahir sikap kepatuhan sosial dan mematuhi pemimpin, di samping ta’at kepada Allah swt dan RasulNya. Athi`ullaha wa athi`u l-Rasul wa ulil amri minkum (ta`atlah pada Allah, Rasul dan pemimpinnya).

Kalau keta’atan (kepatuhan – loyalitas) dan kesalehan sosial itu sudah menjadi prilaku, maka beragama dan beribadat itu tidak berat. Apalagi kegiatan ibadahnya sudah didasari iman dan ilmunya yang kuat, maka perinsip-perinsip ibadahnya akan menjadi jelas. Puasa dari shaum awal mula dari fenomena pohon shaum Arab yang meranggas (tidak berdaun) dan Ramadhan dari ramadha (terik mata hari), biasa puasa Ramadhan itu terjadi iklimnya panas. Sa’at terik, orang puasa dibolehkan mandi, bahkan bisa menyirami kepala dengan air. Artinya, kalau sudah tahu dan mau, maka puasa tidak susah. Dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan sekalipun pasti ada rukhshah (dispensasi/ keringanan) yang membolehkan berbuka, dan puasanya dibayar (qadha’ al-shaum) pada hari lain. Seperti itu pula ada rukhshah bagi hubla (ibu hamil) dan murdhi` (ibu menyusukan) kalau takut puasanya berakibat buruk pada anaknya boleh berbuka plus membayar fidyah. Justru siapa yang tanpa alas an kuat tidak mengambil keringanan puasa itu dalam sebuah perjalan Rasul saw dengan sahabat disebut sebagai `usha (durhaka).

Diriwayatkan, Nabi saw pernah berbuka dalam perjalanan. Ada yang tidak berbuka bersama Nabi saw dalam perjalanan yang melelahkan, mereka dicap sebagai ula’ika l-`ushah (mereka itu pembangkang/ durhaka) atau tidak ta’at. Orang yang bisa berpuasa tetapi tidak kuat, pun diperbolehkan tidak puasa, tapi setiap hari puasanya diganti dengan fidyah (memberi makan orang miskin, sama banyak dengan makannya sehari). Tapi kalau kalau masih tersisa kekuatannya untuk puasa, maka an tashumu khirun lakum /puasa lebih baik bagi kamu.

Kalaulah tidak kerena keta’atan, alangkah terasa berat puasa. Orang kuat sekalipun bisa tidak sanggup puasa. Tidakah ada fenomena (kejadian/ peristiwa) dalam masyarakat, orangnya kuat, tapi tampak lebih lemah dari orang tua, sudah tidak bisa puasa tidak pula membayar fidyah, juga sepertinya lebih lemah dari ibu hamil dan menyusukan. Dibilang agama yang berat dan sulit, ternyata dirinya yang keberatan lantaran keta’atan kurang dilatari keimanan yang rapuh atau memang ketidaktahuan. Kalau memang tidak tahu, belajar. Islam tidak membenarkan umat pembangkang atau jadi pak turut/ taqlid buta karena kebodohannya.***


Puasa dan Kecintaan Belajar

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-4)

Di hari-hari puasa Ramadhan terutama qiyam al-lail (mengisi malamnya), disuruh mengaji Al-Qur’an disebut tadarus (belajar). Tadarus pun sudah menjadi bagian budaya malam ramadhan, hanya saja yang dipertanyakan instensitas tadarus itu meningkatatau menurut.

Dalam praktek tadarus ada makna cinta belajar. Belajar diawali dari sumber utama Islam Al-Qur’an, adalah sumber ilmu dan prilaku. Bagi Rasul saw. al-Qur’an akhlaquhu (Al-Qur’an adalah prilakunya). Karenanya, orang beriman berpuasa yang terbaik itu adalah banyak membaca Al-Qur’an. Pahalanya dilipatgandakan, satu huruf saja pahalanya diberi 10. Tidak sekedar itu, akan lebih baik lagi bagi yang dapat ta’allum (belajar) dan ta’lim (mengajarkan) Al-Qur’an itu.

Perinsip Qur’an mengangkat tinggi derjat orang berilmu plus beriman. Bahkan ilmu itu dalam suatu hadis Rasul saw, disebutkan mengangkat citra pekerjaan (amal). Amal minus ilmu (bekerja tanpa ilmu) akan mengantarkan orang bersikap tah (bingung) dan tidak akan mendapat taufik (perinsip-perinp dasar) pekerjaan, akhirnya menjebak diri ke neraka, setidaknya menemukan kebuntuan hidup. Tetapi amal (pekerjaan) plus ilmu, maka waratsahullahu `ilma maa lam ya`lam (Allah swt akan menambah ilmu yang belum diketahuinya), bertambah pengetahuan empiris sekaligus akan menemukan perinsip-perinsip kerja plus memasuki kawasan sorga.

Yang pasti saja sorga ilmu itu dalam suatu hadist Rasul saw. ditunjukan ilmu yang banyak manfa’at. Manfaat ilmu itu (1) al-anis fi l-wahsyah (teman di kala sepi), (2) al-shahib fi l-ghurbah (kawan di perantauan), (3) al-muhaddast fi l- khulwah (mitra dialog/ kawan bicara di kala sendirian), (4) al-dalil `ala al-sarra’ wa l-dharra’ (penuntun arah di kala duka dan suka), dan (5) al-salam `ala l-a`da’ (pendamai persiteruan) dll.

Karenanya Al-Qur’an disuruh untuk dipelajari dan menjadikannya sumber utama ilmu dan prilaku. Nabi saw menjadikan Al-Qur’an jadi akhlaknya (sumber prilakunya). Bagi orang puasa, prilaku yang baik nilai plus baginya. Dari sumber hadist, orang yang puasa plus berakhlak baik misal senang tetangganya dengan perangainya ia dinyatakan masuk sorga. Sebaliknya orang puasa minus akhlak dinyatakan masuk neraka. Karenanya perlu tadabbur (perenungan) Al-Qur’an dan jadi prilaku, misalnya dalam bicara layyinun (lembut) memenuhi persyaratan ma’ruf (baik, tahu dengan identitas lawan bicara), karimah (kemuliaan, tidak menjatuhkan martabat dan kemuliaan) dan sadid (pembicaraan yang baik dan benar menyejukan).***


Puasa dan Bicara yang Jernih

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-5)

Betapa indah didikan puasa. Kalau tidak bisa berbicara jernih, lebih baik tidak berbicara seharian seperti diceritakan pengalaman hamba Allah Maryam. Apalagi bicara itu qaul al-zur (bicara penuh kepalsuan) atau lagha (bicara yang kehilangn kearifan dan tak bermakna) atau rafas (bicara kotor), sebiknya di bulan puasa ini ditinggalkan.

Dalam praktek keseharian, kalau tidak menyikapi pendidikan puasa itu, betapa banyak orang puasa, bicaranya masih jelek. Ada nada marah, ada term menikam kawan seiring dan menohok kawan seiring atau menggunting dalam lipatan, ada esensi fitnah, suka mengulas informasi jelek yang sebenarnya masalahnya belum diketahui secara pasti dsb.

Tentang ulas mengulas informasi/ berita buruk ini, tanpa disadari sudah menjadi akar budaya. Mudah benar memutar lidah dan berprasangka buruk. Duduk berdua, cerita bercerita dan ota maota, satu dan dua masih bagus, yang ketiga sudah mencla-mencle. Tak karuan, kalau bertiga enam mengorbankan teman yang ketiganya atau orang ketiga yang didengarnya bermasalah. Meski tak tahun maslahnya, masalah kecil dibesar-besarkan, dari sejengkal ke sehasta dan sedepa (budaya bicara hiperbol).

Prilaku dalam merespon langsung miring ketika membaca berita miring seperti tuduhan korupsi, skandal atau berita amoral lainnya hampir merambah semua kalangan. Ada yang awam, ada yang tahu dan apalagi yang pasik (ia tahu tapi pengetahuannya belum menjadi prilaku yang baik dan sering melanggar norma pengetahuannya yang baik itu) langsung mencap salah, tanpa tabayyun/ check and re check. Komentar lepasnya sudah kemana-mana, belum putus dalam sidang pengadilan di ujung lidangnya sudah selesai perkaranya. Tak ada baginya pra duga tak bersalah. Semua yang diberitakan itu langsung divonis dan dijatuhi hukuman telak di lidahnya disertai kebencian yang melaut. Tapi bila ditanya betul, ia pun tak tahu esensi dan substansi kasus yang diberitakan dan yang dikutuk dan didemonya itu.

Pasik itu namanya, ia rajin puasa, tapi ia rajin pula berbuat buruk, seperti ia tahu disuruh berkata dan berprasangka baik, tapi bicaranya seperti benang kusut dan bikin keruh juga. Banyak bicara banyak salah, bisa terjebak al-kazibah (dusta). Memang lidah mudah memutarnya, meski resikonya berat. Mulut kamu harimau kamu/ akan menerkam kepalamu. Taseleo kaki kisa diurut/ tasaleo lidah susah. Ada empat hal yang buruk berakar dari lidah, yakni, (1) al-kazibah (dusta), (2) al-ghibah (gosip, gunjing), (3) al-namimah (propokasi, hasud) dan (4) al-yaminu l-kazibah (kesaksian bohong). Bila empat hal itu dilakukan orang puasa, ia berarti telah berbuka sebelum minum makan.

Karenanya remlah Lidah tidak bertulang. Lidah bisa penuh janji dusta, tinggi gunung seberibu janji. Sulit menahan lidah. Kata orang arif, lidah kalau sudah talonsong (terdorong) lebih berat dari mobil. Lidah itu kecil dan beratnya 0,5 ons. Mobil besar dan beratnya 4 ton. Tapi menge-rem mobil tidak susah, menge-rem lidah setengah mati juga tidak bisa. Kalau bulan puasa sudah membiasakan meng-rem lidah, maka lebaran yang penuh dengan mobilitas spiritual akan menjaga konsistensi prilaku memelihara lida dan tidak membiarkan lidah biasa terseleo usai puasa.***


Pakaian Baru atau Bersih

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-6)

Minggu-minggu terakhir puasa ramadhan sesuatu ironis sering terjadi. Secara sepintas bukan lagi terlihat berpuasa tetapi berpuas. Pasar rami membeli makanan dan pakaian persiapan lebaran ‘idulfitri. Bernafsu ingin serba baru. Pada hal puasa tidak mesti serba baru, yang lusuh/ lama pun lebih disuruh diperbaharui. Watsiyabaka fatahhir (pakaianmu bersihkan). Karena jamil al-tsiyab (sebagus-bagus pakaian) adalah ihsan (Allah hadir dalam kehidupan di mana dan kapan saja). Kalau Tuhan hadir setiap sa’at dalam kehidupan, pastilah tumbuh prilaku takut berbuat salah.

Kalau didikan puasa ini tidak dihayati, maka di lebaran `id al-fithri (yang berarti kembali berbuka), segera pula pola konsumtif menguasai kehidupan sehari-sehari. Bisa-bisa ‘idulfitri memperlihatkan corak mobilitas materiil. Makan dan minun bukan saja tidak terkendali, yang dapat merusak dan meracuni tubuh kembali, akal pun jadi suntuk, hati tidak cemerlang, jiwa kasar lagi bahkan tidak pernah lagi merasakan kepahitan hidup orang kelas bawah dan dhu`afa (orang lemah). Padahal Allah swt telah mengingatkan lewat wasiat Rasul saw, al-qashdu fi l-qhida wa l-faqri (tetap sederhana/ hemat sa’at kaya dan sa’at fakir/ orang yang masih membutuhkan). Juga diwasiatkan agar bisa menyisakan belanja sehingga punya kelebihan yang bisa disumbangkan kepada orang yang membutuhkan bantuannya, sebagai bentuk kehalusan dan kepekaan pribadi terhadap jeritan orang lemah.

Kalau pola konsumtif lahir dalam bentuk mobilitas materiil, maka akan lahir penyakit sosial baru yang suka menumpuk harta, kikir dan bermegah-megah dengan harta serta kedudukannya yakni, (1) humazah (mengumpat orang miskin harta tapi status sosialnya tinggi, kenapa tidak bisa kaya sepertinya), (2) lumazah (suka mencela orang miskin harta dan status sosial tinggi, lihatlah terhormat ya, tapi miskin) dan (3) sikap takatsur (berbangga-bangga dengan harta) atau tafakhur (bermegah-megah dengan status sosial yang tinggi) yang Allah swt memperingatkan akan alhakum al-takatsur hatta zurtum al-maqabir (mentelantarkannya sampai ke liang lahad).

Jika di bulan puasa semua ajaran itu disampaikan dalam seruan humanistik spiritual yang memancar dari mimbar masjid, maka yang harus dijaga adalah konsistensi prilakku itu pada momentum idulfithri dan masa selanjutnya tersosialisasi dalam kehidupan.***


Zakat Fitra dan Kasih Sayang

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-7)

Ashila man qatha`aniy (aku sambung hubungan silaturrahmi dengan orang yang suka memutus hubungan) wasiat Rasul. Hubungan yang harmonis terlihat dalam seringnya interaksi antar pribadi dan kelompok sosial. Sikap santun dan pengasih tumbuh. Terasa sekali man rahima ruhima (siapa yang mengasihi dikasihi). Salah satu wujud kasih itu bisa dilihat dari sikap suka memberi dan suka menerima.

Dalam pembinaan hubungan sosial diperlukan pengembangan sikap suka memberi. Rasul memberi wasiat dalam salah satu bentuk prilakunya, u`thiya ma haramaniy (ku hadiahi orang yang suka menghalangiku). Suka memberi meski pun musuh, merupakan aplikasi nilai Islam yang mengajarkan sikap kasih sayang yang tidak pernah pupus meski teman punya kesalahan.

Rasa sayang dan senasib sepenanggungang di bulan puasa menonjol. Seolah puasa mengajarkan sikap memberi. Pemberian di bulan ramadhan dimotivasi nilai Islam, pahalanya berlipat ganda. Pemberian perbukaan saja misalnya kaana lahu mistlu ajrihi (pahalanya sama dengan pahala puasa orang puasa yang diberi perbukaan itu).

Konsistensi prilaku suka memberi dan mengasihi orang itu diajarkan Islam tetap berlanjut usai ramadhan. Event menjelang idulfithri diharuskan setiap orang puasa membayar zakat fithrah. Dianjurkan selambat-lambatnya khatib naik mimbar untuk khotbah idulfithri, zakat fithrah sudah dibayar.

Fungsi zakat fithrah itu untuk thu`mah lil-masakin (memberi makan orang miskin). Artinya dengan zakat fithrah tidak ada orang miskin yang tidak makan hari itu, seperti itu juga para fakir dan mu’allaf, gharim (yang berhutang), budak dan orang yang berada pada perjalanan (ibnu sabil) serta dalam fi sabilillah. Lebih jauh makna zakat itu, ada pengajaran yang indah di dalamnya, yakni supaya merasakan kesulitan orang lain yang lemah (dhu`afa) dan tidak menyusahkan orang lain.

Untuk mengatasi kesulitan orang lain itu, kita diajar mengeluarkan harta kita yang di dalamnya ada milik orang yang kesulitan dan membutuhkan itu sebagai manifestasi keadilan sosial. Kalau nilai ini tersosialisasi dan menjadi sikap hidup, mana mungkin orang bisa mencuri, merampok dan memotong hak orang lain, lalu dinikmatinya secara tidak sah dan sudah sejak awal dilarang agama dan etika sosial.

Pada idulfithri ini pun, tidak boleh orang miskin bersedih, apalagi tetangga atau anggota masyarakat kita. Hari itu berbagi kebahagiaan. Idulfithri tidak pada libas (berpakaian) dan markub (kenderaan) dan yang serba baru, tetapi hari raya itu dapat memberi makan orang miskin. Orang miskin dan dhu`afa di sekitar harus merasakan kebahagiaan.

Ketika puasa kita sudah diajar merasakan lapar. Dipaksa untuk merasakan betapa sulitnya bagi orang dhu`afa itu menahan lapar dalam ketiadaanya. Bila perasaan ini tertanam dalam di sanubari, mustahil orang bisa melakukan korupsi (KKN) yang memungkinkan akibatnya membuat banyak orang bisa kelaparan.***


Puasa, ‘Id dan Ajaran Memberi Maaf

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-8)

Memasuki lebaran muncul budaya meminta maaf. Medianya ada lewat kartu lebaran sekarang didominasi SMS di samping langsung berjabatan tangan. Sebenarnya Islam mengajarkan memberi maaf, bukan meminta maaf. `Afwu man zhalamani (aku ma’afkan orang yang suka menzhalimi/ jahat padaku), salah satu sikap Rasul saw. Meminta maaf dimulai dari orang yang paling dimuliakan dan yang terdekat seperti orang tuan dan saudara, bukan orang di seberang lautan yang harus dahulu.

Sikap suka memberi ma’af tanpa harus diminta, adalah inti ajaran sosial dalam Islam. Ajaran ini juga menjadi esensi/ inti dari malam mulia di bulan ramadhan, yakni malam Qadar. Malam yang dianjurkan mendapatkannya pada malam ganjil 10 hari terakhir yakni malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, malam 29, dapat beribadat malam itu sama artinya dengan beribadat 1000 bulan.

Inti ibadat malam qadar itu adalah do’a. Inti do’anya adalah kema’afan. Do’anya, meminta kema’afan Allah, bukan meminta kekayaan atau hanya yang bersifat duniawi, yakni allahumma innaka `afwun tuhibbu l-`afwa fa`fu `anni (ya Allah, sesungguhnya Engkau pema`af, karenanya ma`afkanlah aku). Dari do’a yang dianjurkan malam qadar ini, bermakna, bahwa kita disuruh di samping mencari kema’afan Allah juga disuruh memberi ma’af bukan meminta ma’af. Biasakah memberi ma’af seperti wasiat Rasul tadi.

Cara mengembangkan sikap pema’af dan mudah mendapat kema’afan ada resepnya dalam Al-Qur’an. Resep itu terkandung dalam firman Allah swt dalam sistem penciptaan manusia yang suka berkelompok dan bersuku bangsa. Manusia berkelompok, gunanya li ta’arafu (untuk saling mengenal). Ta’arafu itu akar katanya ta’aruf (saling berkenalan). Saling berkenalan dimaksud, saling mengtahui identitas orang dan kelompok orang. Kalau sudah berhasil mengenal identitas seseorang atau kelompok orang, apapun sikap dan prilakunya pasti akan dipahami. Kalau sudah dipahami, pasti menumbuhkan sikap tasamuh (toleran), tidak akan pernah marah, apapun yang dibuat orang yang identitasnya sudah kita kenal, justru akan tersenyum dan dapat dengan mudah mema’afkannya.

Dalam suasana pergaulan misalnya orang yang identitasnya sudah dikenal maka tumbuh sikap saling mengerti serta toleran, pastilah akan lahir setiap sa’at rasa pema’af, tidak akan ada kamus tiada ma’af bagimu bahkan akan memudahkan kita mendapat kema’afan orang dan Allah swt. Psychologinya, bila kita mendengar orang kasar, kita tahu identitasnya kasar, sebenarnya patut dikasihani, mungkin karena sejak dari sononya kasar, atau kasar karena belum mendapat nur ilahi –belum tahu agama atau pembawaannya kasar hatinya lembut. Bagaikan mu’allaf (patutut diberi kasih sayang), ya harus disentuh hatinya. Bahkan mu’allaf cara menyentuh hatinya diberi zakat, supaya tumbuh kasih sayang di hatinya.

Karenanya patut dihayati nash: man rahima ruhima(siapa yang menyayangi orang, pasti ia disayangi). Pribadi yang halus selalu sayang pada orang, ia pun membutuhkan kasih sayang (rahmat) dari arhama l-rahimin (yang amat pengasih penyayang) yakni Allah swt.***.


‘Idulfitri, Jangan Ada Duka di antara Kita

/Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo

(Bagian ke-9)

Pagi idulfithri, seharusnya jangan ada duka di antara kita. Karena ‘idulfitri itu hari berbuka, perasaan bahagia, badan dan jiwa suci, kembali kefitrah yang bersih seperti baru dilahirkan ibu. Karenanya berbahagialah!. Nyalakan semangat, hangatkan perasaan sambil merenung anugerah ilahi di bawah kumandang syahdu kalimat takbir, tahmid, tasbih dan tahlil sejak malam mulai terbenam matahari sampai pagi hari raya ‘idulfitri.

Renungan berarti adalah, mengingat apa arti dan makna Ramadhan yang telah kita puasakan. Apakah sekedar rutinitas formal saja bagi kita setiap tahun. Tahun dulu puasa, tahun ini puasa, puasanya seperti itu juga, tidak merubah, apakah intensitas ibadah itu sudah dapat merubah tingkah laku.

Dari masjid di setiap malam-pagi selama ramadhan penuh dengan seruan nilai humanistik spiritual (ruh al-insani/ nilai kemanusiaan), sebenarnya dapat mengantarkan kita memasuki idulfithri yang penuh dengan mobilisasi spiritual sebagai modal membina keharmonisan sosial masyarakat lingkungan dan menghindari diri dari kecemburuan dan konflik sosial.

Allahuakbar. Kalau di dalam masyarakat masih banyak kecemburuan sosial, konflik, tata pergaulan tidak harmonis, patut momentum idulfithri ini dijadikan event mengembangkan usaha pembinaan keharmonisan dalam masyarakat. Pastilah, bagi orang yang puasa dan idulfithrinya penuh mobilitas spiritual (gerakan nilai moral Islami) akan bermakna menyuckan badan dan jiwa dan terwujud hakekat kembali ke fithrahnya yang suci seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya dulu, bahkan akan melahirkan fiqh al-bathin (kode prilaku) masyarakat yang mampu mengendalikan diri, kepatuhan sosial, cinta belajar, bicara jernih, baso indah, suka memberi ma’af dsb.

Kita menjadi sadar, bahwa sebenarnya puasa dan lebaran kita bukan sekedar rutinitas formal tahunan atau bukan hanya hendak mendapat keampunan dan masuk sorga/ bebas dari neraka, atau secara pisik hendak ingin mendapat kesehatan badan, tetapi harus diresapi bahwa semua ibadah itu dikerja sebagai amal shaleh yang dikerjakan berdasarkan keimanan untuk melaksanakan perintah Allah swt.

Hal yang sangat substansial dalam pelaksanaan ibadah atas perintah Allah adalah menjadi insan al-kamil, secara vertikal terjalin hablun min Allah dan rela menyembah Allah dan pandai bersyukur atas nikmat dan secara horizontal berkembang hablun min al-nas sebagai peluang berbuat ihsan (sikap bahwa Tuhan hadir dalam hidup di mana dan kapan saja) dan ma’ruf (baik) tanpa memandang suku, agama, ras, ideologi, pangkat/ jabatan dll., tahu mana miliknya dan mana hak orang lain dan berbudi mulia sebagai modal menciptakan keharmonisan di dalam masyarakat. Kiranya masyarakat kita menjadi masyarakat yang rukun, damai dan harmonis. ***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: