jump to navigation

Surau dalam Sejarah Perjuangan dan Adat Minang di Pesisir Selatan April 30, 2008

Posted by wawasanislam in sejarah.
trackback

(Simbol Budi, Basis Kehidupan Banagari dan Ekonomi Rakyat)


/ Drs. Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

I. Sejarah Surau sebagai Basis Perjuangan
Sejarah Surau untuk Pesisir Selatan di antaranya tercatat paling awal adalah Surau Burhanuddin Painan tahun 1523. Setelah itu menyusul surau Puluikpuluik Bayang. Surau Puluikpuluik ini termasuk basis kuat pengembangan Islam di Pantai Barat Sumatera Tahun 1666. Ulama besar membina surau Puluikpuluik itu ialah Syeikh Buyung Muda, salah seorang dari 6 ulama seangkatan Syeikh Burhanuddin Ulakan belajar dengan Syeikh Abdul Rauf Singkel di Aceh, sa’at berkobarnya Perang Pauh (mulai 28 April 1666). Bayang dengan basis surau ini basis konsentrasi perjuangan rakyat Sumatera Barat melawan Belanda, di antaranya dikenal Perang Bayang berlangsung lebih satu abad (mulai 7 Juni 1663, berakhir dengan Perjanjian Bayang 1771).
Perang Bayang ini sebenarnya berawal dari Sandiwara Batangkapas. Diceritakan ketika itu Indrapura sebagai pusat perdagangan miniatur dunia, amat waspada terhadap ancam pengaruh asing. Kerajaan Indrapura ini di belakang layar untuk mengelabui Belanda terus bermain mata dengan Inggiris dan Aceh serta Banten. Fenomena itu diketahui Belanda dan minta berdamai, demi kepentingan dagang mereka di perairan Indrapura dan pantai barat umumnya. Tahun 1660, Indrapura mengirim utusan ke meja runding perjanjian damai di Sungai Bungin (Batangkapas) dengan agenda penting di antaranya soal perdagangan lada di pantai Barat . Belanda amat merasa kecewa. Belanda menyatakan belum semua lada ke tangannya, Inggiris dan Aceh masih saja mengambil kesempatan dagang gelap. Perjanjian itu kemudian diperkuat dengan perjanjian berikutnya dikenal dengan Sandiwara Batangkapas, tahun 1662 (ada yang menyebut tempatnya di Taluk Kasai ada pula yang menyebut di Taluk Tampuruang). Belanda merasa semakin kecewa malah merasa dipermainkan. Dalam kekecewaan itu Belanda diam-diam membuat kekuatan baru dengtan membangun kekuasaan di pantai barat. Tahun 1962 itu juga Belanda mendirikan Loji VOC di Pulau Cingkuk yang mengundang marah kota-kota pantai barat.
Tahun 1663 terjadi lagi sebuah perdamaian penting disebut Perjanjian Painan (Painansch Contract). Perjanjian yang ditadatangani tanggal 6 Juli 1663 itu, disebut sebagai lajutan Sandiwara Batangkapas (1662). Disebut Sandiwara karena perjanjian itu adalah untuk menyandiwarai Belanda untuk kepentingan mengusir Aceh.

Minangkabau ketika itu tidak mengerti strategi Batangkapasnya sehingga Pesisir ditudung menjuang tanah kepada Belanda. Tetapi kota-kota pantai di bawah pengaruh Indrapura ketika itu, melanjutkan strategi itu, pura-pura berpihak ke Belanda (maling besar) untuk mengusir kekuatan Aceh di Pantai Barat amat terasa di Batangkapas, Indrapura, Tiku dan Padang. Tanggal 23 Juli 1663, pembesar-pembesar delegasi Perjanjian Painan kembali dari Batavia dalam urusan penandatangan Perjanjian Painan, tangal 6 Agustus 1663 delegasi itu singgah dan merapat di bandar Indrapura. Sebelum delegasi sampai kembali di Painan, disambut dengan Perang Bayang (7 Juni 1663) yang membuat pusing Belanda. Perang Bayang itu sebenarnya pergolakan seluruh negeri yang diadu domba Belanda. Dalam Perang se Pesisir itu melahirkan seorang pahlawan dikenal Sidi Rajo. Karena ia pemberontak melawan penjajah, Belanda menyebutnya urang maliang. Kata urang maliang itu bagi Belanda orang yang melawan kekuasaannya, dan bagi rakyat adalah pahlawan.
Abad ke-18 Bayang seperti juga beberapa nagari di Pesisir Selatan, melahirkan banyak ulama besar dan pejuang di pentas sejarah nasional, di antaranya Syeikh Muhammad Fatawi di Pancuang Taba, Syeikh Muhammad Jamil di Kapunjan, Syeikh Abdurrahman (kakek Ilyas Ya’cub pahlawan Nasional asal Bayang), Syeikh Abdul Wahab (Inyiak Kacuang) guru ayah penulis M.Yunus T. Di Tarusan ada Pakih Hud dan Pakih Samun yang muridnya tersukses adalah ayah Buya HAMKA yakni Dr. H. Abdul Karim Amrullah (HAKA). Di Batangkapas dikenal Syeikh Yunus di IV Koto Mudik, Syeikh Batangkapas di Subarang Patai, Syeikh Surau Tanjung di Limau Sundai, dll. Ulama-ulama tersebut mempunyai surau yang diasuh, dibina oleh ninik mamak. Surau bagi ninik mamak adalah simbol budi, untuk membina anak kemanakan berbudi pekerti mulia. Cadiak pandai pun berperan mencerdaskan anak nagari.
Ketika itu nilai dasar ABS-SBK dalam tataran identitas masyarakat Minang sebagai kelompok masyarakat adat dan syarak (Islam) dibentangkan di Surau. Dr. Alis Marajo (2002:2) menyebut 4 nilai pada adat yakni budi, akal, ilmu, mungkin – patut. Empat nilai ini menurut Alis Marajo diambil dari nilai Syarak (Islam) setelah evolusi agama Majusi, Hindu, Budha (dan agama lain disebut Mukhtar Naim Palbegu). Orang Minang melihat Islamlah yang paling cocok dalam memperkuat nilai-nilai dasar Minang. Nilai yang nan-4 pada adat ini dipersandingkan dengan 4 nilai pada syarak (Islam) yakni hakekat, tarekat, ma’rifat dan syaria’t. Kombinasi nilai nan-4 pada adat dan nan-4 pada syarak itu tertuanglah dalam mamang adat : ka hakikat landasan budi/ ka tarekat landasan aka/ ka ma`rifat landasan mungkin dan patuik/ ka syari’at landasan ilmu. Nilai-nilai dasar adat itu disosialisasikan di lembaga-lembaga yang menjadi persyaratan berdirinya nagari, yakni (1) budi di surau (juga di gobah, palanta), (2) akal dibentuk di Balai, (3) Ilmu diuji di Gelanggang, dan (4) mungkin dan patut disosialisasikan di tepian tempat mandi.
Dirasakan betul dahulu sampai awal abad ke-20 surau tidak saja basis perjuangan nasional melawan penjajah, tetapi juga basis kehidupan banagari. Di surau tungku itu tigo sajarangan – tali tigo sapilin (anggo tango/ anggaran dasar, raso – pareso/ undang-undang, alua patuik/ hukum) amat kuat, dijalankan tiga tuanku (penghulu, alim ulama dan cadiak pandai). Fatwa (agama/ syarak) pada (wewenang) ulama, parentah (dijalankan secara adat) pada (wewenang) penghulu dan teliti (melihat tepat atau tidak) pada (wewenang) cadiak pandai. Jadi menegakkan syarak dan adat tiga tuanku itu bersinergi. Artinya salah satu unsur tidak managehkan tuah, santiang dan bagak surang-surang.
Semangat dan nilai sejarah sinergi ulama, penghulu dan cadiak pandai di surau dahulu sebagai basis kehidupan bernagari, perlu digali ulang. Nilai itu amat berguna bagi sukses otonomi daerah di Sumatera Barat (Perda 9/ 2000 – UU 22/99) memakai sistem kambali ke nagari (kembali hidup banagari), basisnya Surau terutama untuk Batangkapas. Kedepan perlu ada surau basis itu. Bagaimana bentuk surau basis dalam kehidupan bernagari Batangkapas. Dapatkah surau dijadikan basis alternatif pemakmuran kehidupan bernagari dalam visi ekonomi di samping sebagai pusat kebudayaan nagari.
2. Potensi Surau Basis Kehidupan Banagari
Kondisi objektif (potensi dan kelemahan) surau pada waktu kini:
Potensin surau (a) ada tekad pemerintah dan komitmen anak nagari jadikan surau basis kehidupan banagari, (b) pranata adat masih kukuh punya institusi surau (meski pisik tidak ada/ ada tidak terawat), (c) surau simbol moral dan budi pekerti anak kemenakan dibina mamak, (d) sejarah surau melahirkan orang alim (cikal bakal ulama), tahu adat, punya ilmu bela diri untuk self-cofident (pe-de) dalam mengembangkan Islam dan adat, (e) surau – masjid marak sekarang dimanfa’atkan sebagai lembaga TPA/TPSA.
Kelamahan surau: (a) eksistensi surau lemah di tengah sistem pendidikan baru (sisdiknas), (b) sejarah surau beralih ke madrasah dan menjadi institusi pilihan dalam pendidikan Islam, (c) surau kehilangan supremasi sebagai lembaga budi ninik mamak, (d) fungsi surau mengalami disintegrasi sosial (fungsi lama yang mapan kabur/ ditinggalkan, fungsi baru diraba dan dianut bahkan belum ditemukan), (e) KAN sebagai institusi adat belum punya solusi kembalikan fungsi surau dan basis kehidupan banagari, (f) Visi pemerintah daerah (termasuk Depag) tentang institusi surau kabur, sering masjid disamakan dengan surau dalam pembentukan basis pada sistem kembali ke nagari sekarang, padahal syarat nagari di antaranya basurau bamusajik dua institusi berbeda, (g) ninik mamak tidak berdaya (power lemah) membina aset surau sebagai simbol budi, (h) surau dibiarkan berjalan tanpa guru (Islam, adat, bela diri) dan kalau ada guru 1 atau 2 dibiarkan dalam tingkat kesejahteraan memprihatinkan dibanding guru dalam berbagai kursus anak-anak bidang studi umum lainnya, (i) responsibilitas anak nagari terhadap fungsi surau dan peranan gurunya mengalami pasang surut di samping merosotnya pemikiran orang Minang.
3. Peluang Surau sebagai Basis kehidupan Bernagari
Pengaruh lingstra (lingkungan strategis: internasional, regional, nasional dan daerah dengan derasnya arus modernisasi era global dan berbagai tantantangan lainnya di samping peluang untuk maju).
Peluang surau: (a) model alternatif basis memakmurkan kesejahteraan kehidupan nagari dan (b) pusat kebudayaan nagari, seperti tempat pemberdayaan berbagai lembaga masyarakat melalui motivasi agama dan pusat informasi serta sosialiasi nilai Islami untuk memperkuat otoritas pemerintah dalam pengentasan kemiskinan (pemberdayaan ekonomi rakyat lewat motivasi agama ) dan pemberantasan dekadensi moral termasuk pekat/ maksiat.
Tantangan surau: (a) kemajuan teknologi vcd (tv, internet) pengaruhi prilaku masyarakat, menantang anak nagari mempersandingkan vcd negatif dengan vcd ajaran Islam (vcd al-qur’an/ hadist, tafsir, fiqhi dan vcd cerita-cerita pendidikan Islam yang menarik dll), (b) sarjana agama yang punya alam pikir modern yang banyak tinggal di masjid pengaruhi alam pikiran tradisional ninik mamak, merubah fungsi/ arsitektur surau jadi masjid raya modrnis dan besar, lenyap dan roboh surau dan hilang kekayaan budaya/ gaya bangunan arsitektur masjid artistic klasik, menantang lahirnya surau modern dengan fungsi dan arsitek baru, (c) prilaku masyarakat terhadap surau – masjid, mendorong masjid dibangun besar, tapi tidak makmur (tidak ramai isinya), siang berfungsi shalat jum’at dan kadang disertai shalat mayat, banyak kosong, malam menakutkan sepi bagai rumah hantu, makanya ada yang pakai untuk bertapa bukannya untuk i’tikaf, bahkan siang terkunci, surau tidak aktif pula, kemana lagi anak kemanakan mau shalat, makanya banyak kemanakan tidak shalat, menantang memfungsikan surau sebagai tempat ibadat, ngaji Islam dan adat serta belajar ilmu bela diri agar percaya diri dan tangguh menghadapi tantangan dalam mengembangkan Islam.
4. Bentuk Surau
Surau, dahulu dapat dibedakan (1) surau nagari, (2) surau suku dan (3) surau paham keagamaan. Surau nagari merupakan institusi agama di samping masjid menjadi persyaratan nagari. Surau suku, dibina penghulu/ ninik mamak suku dalam pembinaan sopan santun anak kemenakan, maka oleh sebab itu surau suku simol budi. Surau paham keagamaan, berbentuk pusat pengajaran dan ibadat suatu paham tarekat, misal surau Pasia Lubuk Nyiur, Surau Tanjung Limau Sundai, Surau Nyaman Taluk dengan ulamanya adalah surau tarekat yang amat berpengaruh.
Surau di nagari diurus penghulu di nagari, secara operasional diolah malim. Kalau di nagari setidaknya ada 4 suku maka suraunya 4 pula. Justeru Nagari punya syarat basurau-bamusajik (masjid) tampek baibadek (beribadat), tempat belajar cari/ uji kecerdasan dan tempat mengajar anak kemenakan berbudi pekerti mulia, di samping balabuah nan golong – bapasa (nan rami) tampek lalu dan malewakan kebesaran penghulu, batapian tampek mandi, babalai tampek bamusyawarah bamupakek, bagalanggang medan nan bapane tempat uji kepandaian.

Urang nan-4 Jinih

Penghulu Manti Dubalang Malim (n) (Andiko/ Adat) Urang Jinih nan-4 Imam Katik Bila Kali (Qadhi)
5. Surau Basis Ekonomi Rakyat
Suaru pada sebuah nagari juga basis ekonomi rakyat. Nagari bapusako (harta). (1) Pusako kabasaran disebut juga pusako martabat, yakni nan-4 jinih: penghulu, manti, malim (dikuatkan dengan urang jinih nan-4: imam, katik, bila dan qadhi), dubalang. (2) Pusako harato, yaitu hutan-tanah, sawah ladang, pandam pakuburan dan lambah, namanya ulayat. Hutan jauh baulangi, hutan dakek bakundano.
Di nagari ada parhinduan. Untuk mensejahterakannya ada harato sarikek (sarikat). Harato sarikek dipegang menurut adat oleh perempuan sulung dan dijago mamak nan tuo/ tunganai. Keduanya memenej harato sarikek seperti mambuek (mengolah) sawah dan mengolah tanah kariang. Fungsi ini sekarang mulai kabur.
Harato yang tidak boleh dijual: rumah tanggo, sandi parumahan, kampuang halaman, pandam pakuburan, tapian dan lubuak, labuah nan golong, balai adat dan balai pakan, surau musajik, galanggang pamedanan, pangkat pusako, banda sawah, tanah ulayat serta kepunyaan kaum, suku dan nagari.
Harato sariket juga tidak boleh dijual. Kecuali membayar hutang adat dalam 4-hal: (1) maik tabujua di tangah rumah, (2) gadih gadang indak balaki, (3) rumah gadang katirisan dan (4) batagak panghulu.
Harato pusako dimanfa’atkan untuk keselamatan nagari dan isi nagari. Karenanya harato pusako perlu di menej. Bentuk manajemennya ada dua alternatif. (1) ditingkat kaum harato sarikek dan (2) di surau – musajik dalam bentuk bait al-maal atau koperasi masjid.
Harato sarikek dimenej oleh perempuan sulungnya dalam kaum dan dijaga tunganai. Bait al-mal di masjid dimenej oleh amil (pengurus) dipilih dari malim (ditambah urang jinih nan-4 dalam nagari.
Sumber harato dari: harato pencaharian pribadi (yang kayo) dan harato nagari serta infak, shadaqah serta zakat.
Harato nagari dari ulayat nagari (penghulu dan rajo) diolah nagari dalam bentuk pengurus dan pengurusan tertetu berdasarkan petua adat. Sejalan adat salingka nagari. Nagari otonom yang setelah merdeka berada dalam kerangka NKRI. Nagari punya kewenangan tanpa lepas hubungan dengan Kabupaten melalui Kecamatan, seterusnya ke Provinsi dan pusat.
Hasil harato yang diurus nagari sepanjang adat salingka nagari (fatwa adat) dalam bentuk bungo: ameh (tambang), tanah, kayu, hutan randah, pasia, ampiang, takuk kayu, pancuang aleh, karang (laut dan perairan), babang pamukatan, solok balanggadai, taluak panjariangan (dalam teritorial rajo), tungku panggaraman (tanah kekuasaan rajo), tali ayam, tokok lantak, lacuik lantak, hak danciang pangaluaran (impor), ubua-ubua gantuang kamudi (perahu yang menjatuhkan sauh), ameh manah (penguatkan pemerintahan nagari) dll.
Ulayat rajo, antaro limbua pasang mudiak dengan bukit nan bakabuik, lalu ka padang nan barumpuik, nan bacapo babilalang, basikaduduak barumpuik-barumpuik, sampai baluka dengan hutan, nan baaka nan bapilin, rotan nan bajalin, bakalumpang nan babaniah.
Ulayat penghulu, sejak dari rumpuik dan salai, jirak nan sabatang, terus ke pasia nan sabutia, bumi nan takasiak bulan, sampai kaawan dan babasuik jantan.
6. Surau dan Arah Kedepan
Surau basis kehidupan nagari, dipegang penghulu nagari bersama malinnya diperkuat surau suku yang dibina ninik mamak suku dengan orang jinih nan-4-nya (imam, khatib, bila dan qadhi). Arah kebijakan, program, kegiatan dan upaya serta strategi pelaksanaannya disesuaikan dengan potensi dan peluang bagi kemajuan surau sebagai basis pemakmuran kehidupan banagari.
Misalnya surau dalam arah kebijakan basis pengembangan harato nagari dan pemberdayaan lembaga ekonomi anak nagari. Di surau dibina kelompok ekonomi lewat motivasi agama, sejalan dengan arah kebijakan lain pembelajaran Islam, adat, ilmu bela diri dan pembentukan prilaku yang beradat dan Islami, pusat budaya nagari serta pusat informasi membantu nagari dalam strategi menoleh keluar bekerjasama dengan dunia luar (vi to vi / village to village/ nagari dengan nagari). Bila harato nagari dan lembaga ekonominya terolah dalam dua manajemen (nagari dan surau basis) sejalan dengan pelaksanaan arah kebijakan lain surau tadi, maka kondisi ideal (yang diharapkan bagi kemajuan surau), rakyat aman (sanang) dan nagari makmur (padi manjadi jaguang maupiah), budi mulia, ibadat kuat, maksiat jauh samo sakali, masyarakat sembuh dari pekat, merupakan bagian dari cita-cita kehidupan banagari.***YY Dt.Rajo Bagindo.

Batangkapas, 12 Januari 2004

Komentar»

1. Thomy - Desember 27, 2008

mantap da

2. yulia afdal - Juni 11, 2009

Aslm…Sanak Awak juo urang padang pasisie tapek nyo urang gae laki2 dari limau sundai urang gae padusi dari pasa kuok…Batang kapeh…Sanang bana raso hati bisa tau silsilah Pasisie…Suku wak Melayu…

3. Surau dalam Sejarah Perjuangan dan Adat Minang di Pesisir Selatan - Maret 16, 2011
4. iwan - April 9, 2013

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
da.. awak anak pasisie juo da…rumah nan tagak di sabalah surau tanjung tuh rumah nenek awak ma.. sampai kini awak masih acok k situ da.. soal nyo kebun awak ado d situ da..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: