jump to navigation

Pasang Surut Pemikiran Minang April 30, 2008

Posted by wawasanislam in opini.
trackback

//Oleh: Yulizal Yunus

Masihkah intelektual Minangkabau mempunyai pola pikir jalinan sentetikal tiga unsur budaya agama, adat dan sain (iptek). Dahulu terasa jalinan budaya tiga unsur itu memberikan landasan filosofis berfikir rasional, egaliter dan terbuka. Kenyataan sejarah, pemikiran Minang ini terlihat jelas dari percikan perenungan dan tulisan-tulisan tokoh-tokoh Minang (lihat Mochtar Naim, 1990) seperti Tan Malaka, H.Agussalim, Moh.Hatta, Mohd. Yamin, Mohd. Safe’i, Mohd. Nasir, Hamka termasuk tokoh agama generasi ayah Hamka serta guru generasi tua itu, tercatat sebagai penyambung mata rantai pembaharuan pemikiran Islam dua abad yang lalu.

Sekarang meski pun ada banyak tokoh akademisi bidang sain (iptek), tokoh agama dan pemuka adat dalam berbagai status seperti politisi, ekonom, budayawan, sosiolog dll. yang lahir dengan taraf pendidikan dan keilmuan setingkat doktor serta taraf kematangan berfikiran setingkat kepangkatan profesor, namun masih didengar suara minor, quo vadis masyarakat Minang. Dari suara minor itu, sepertinya Minang tinggal kenangan, yang sering terjebak nostalgia cerita menarik anak cucu dan apologia pembelaan terhadap kebesaran yang pernah diraih masa lalu. Bahkan pernah Gus Dur melemparkan pernyataan yang mengundang polemik tentang ketokohan orang Minang yang berada pada tahap tidak lagi ditemukan level yang bisa berbicara pada tingkat nasional. Fenomena ini, di mana inti persoalannya. Memerlukan diskusi kritis.

Secara kategoris, ada purbasangka dan pelecehan terhadap tokoh Minang, namun dengan jiwa besar, semua itu kiranya menjadi cemeti dan kalau perlu harus diretas. Meretas purbasangka persoalan Minang hari ini (memasuki abad ke-21), sebenarnya penting dan patut dihargai prakarsa forum ini, diawali gerakan Yayasan Alam Takambang Jadi Guru St. Zaili Asriel (undangan pertama di Padang Ekspres, 17 Desember 2000) yang pembicaraan tidak saja secara oral tetapi ditindaklanjutan dengan penulisan analisis persoalan Minang yang menjadi essensi penerbitan Saga, Majalah Budaya. Sepuluh tahun yang lalu, upaya serupa disadari dan diikuti dengan penulisan potret Islam Sumatera Barat dulu, kini dan akan datang oleh Islamic Centre, tetapi entah di laut mana karamnya, tidak diketahui. Syukur saja terakhir (2002) ada kelanjutan penulisan tentang tokoh agama (ulama) Minang setelah gerakan penulisan pertama dilakukan tahun 1981.

Penulisan tentang potret pemikiran Minang sekarang serta profil tokoh dulu, kini dan yang akan datang akan dapat menjadi jawaban alternatif mengetahui, hendak kemana masyarakat Minang. Karena diakui, di samping maraknya pertumbuhan media cetak dan maju media elektronik di era cyber sekarang ini, pihak luar masih mencari referensi tentang orang Minang sekarang. Pernah di LIPI, saya ditanyai seorang teman peneliti dari luar, di mana boleh mendapatkan buku wanita Minang dulu, kini dan potret ke depan. Saya hanya bisa tunjuk era awal berkifrah Fachrul Rasyid di antaranya hasil penelitian Fatimah Yulinas, dkk. dan buku Perjuangan Ulama diterbitkan Islamic Centre era Zaili Asriel, dkk, peneliti tahun 1981 dan era Mestika Zed sekarang sebagai ketua bidang penelitian di Islamic Centre. Saya pikir itu pun masih terasa miskin, saya merasa itu asal jawab sebagai apologetik pembelaan sesa’at terhadap Minang. Artinya referensi ke-Minangkabau-an sekarang diakui terasa kurang. Fenomena ini bukan pula berarti orang Minang sekarang kurang menulis, malah masih lumayan sekarang dibanding dengan budaya oral dulu, yang wacana Minang hanya ada dari mulut ke mulut. Tetapi persoalannya adalah esensi dan subtansi Minang yang menggambarkan perkembangan sejarah pemikiran Minang, yang orang luar boleh tahu pada tahap mana orang Minang sekarang berfikir, masih berfikir maju atau memang sedang mengalami pasang surut yang memperlihatkan fenomena fluktuasi pemikiran Minang hari ini.

Orang Minang dan pemikirannya sekarang dalam pandangan sepihak dari luar bahkan dari dalam sendiri, menggambarkan citra surut kebelakang. Malah cara pandang dan pemikiran tokoh minang kontemporer tentang dirinya serba tidak jelas kepastian arah. Seperti terakhir muncul wacana, pelaksanaan syari’at Islam di Sumbar. Apa komentar pihak luar, bahkan tokoh dalam sendiri menyebut gagasan itu menunjukkan fenomena surut ke belakang yakni suatu masa, sa’at perumusan awal Pancasila dahulu. Bahkan ada yang lebih keras dari Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif (tokoh Minang juga) menyebut sebagai dagangan politik. Kalau dagangan politik-2004 sudah dapat dipastikan hanya kepentingan sesa’at, tidak dalam perspektif jalinan sintetikal agama dan adat yang tidak pernah dapat dipisahkan di Minang. Sebuah pertanyaan menyusul, apakah Minang tidak akan menjadi dirinya, apa mengikut Aceh begitu saja yang telah duluan menggagas tentang itu.

Esensi pemikiran pelaksanaan syaria’t Islam ditawarkan di Sumbar itu sebenarnya dapat dipahami dan esensinya (bukan bahasanya) pasti banyak yang setuju meskipun datang dari politisi. Tetapi yang menjadi persoalan adalah bahasanya itu sudah pernah muncul sejak lama awal perumusan Pancasila dulu, dan dengan bahasa itu pula Aceh telah lebih dahulu menggagas dan melaksanakannya. Apakah Minang menjadi Pak turut, meniru Aceh. Dahulu Minang yang jadi kiblat, nah terjebak apologetik lagi, memang. Sebenarnya itu bukan sekedar gengsian, tetapi Minang sebenanya sudah puya bahasa yang sudah cukup mengakar dan secara pilosofis melandasi pemikiran orang Minang, yakni syarak mangato adat mamakai, sebagai cara implemetatif dari adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS SBK) di Minangkabau.

Syarak mangato adat mamakai itu pun sudah merupakan janji lama, sebenarnya kalimat itu sudah menaruh gagasan untuk melaksanakan Islam di Sumatera Barat. Karena Islam di Minang terjalin terjalin dengan adat secara sintetik tidak sinkretik. Cara integrasi adat dan Islam itu dulu, Minang menjadi Minang dan modern. Karenanya, patut dipahami sampai sekarang Janji lama dengan kalimat itu saja belum terisi atau tidak terlaksana-laksana juga, sekarang dibuat pula janji baru lagi dengan kalimat baru stok lama. Apa tidak kebanyakan janji.

Apa yang terjadi di Minang sekarang, cara pandang dan pemikiran sepertinya dalam citra kurang memperlihatkan satu kesatuan dalam seluruh AKM (aspek kehidupan minang). Aspek itu mungkin hukum, ekonomi, agama, politik, budaya, pendidikan, pembangunan nagari dan ketahanan Minang sebagai sub kultur yang dari sisi pandang geopolitik lebih luas dari wilayah Sumatera Barat.

Aspek hukum dan politik, dalam satu kesatuan sub kultur Minang, sebenarnya terlihat pada kekuatan undang. Undang ini di Minang, merupakan integrasi budaya Minang dan Nasional. Makanya produk hukum, harus mencerminkan sintetik unsur budaya Minang dan Nasional itu. Mengapa ketika lahir Perda tentang maksiat terjadi polemik. Dimungkinkan esensinya belum memperlihatkan jalinan sintetik itu. Kesannya hanya produk politik dan menyentuh jender, misalnya ketika perempuan terjebak di luar waktu jam malam yang sebenanrnya tidak boleh keluar pada waktu itu, kalau jam itu diganggu lelaki, seberapa besar hukuman buat lelaki itu. Karena di barat itu, melirik perempuan saja kelamaan dan ia curiga, sudah bisa sang lelaki yang tertarik dengan kening licin itu ditangkap polisi.

Aspek agama dan budaya dalam kesatuan sub kultur Minang, sesungguhnya integrasi Islam dan adat dengan dua kelarasan pada tahap awal. Lihat implementasinya secara relistik, apakah memang terlihat citra jalinan sintetik Islam dan adat itu. Justeru sebaliknya, kentara sekali memicu persoalan adat dan Islam, adalah ketika terjadi proses upacara perkawinan. Tradisi lama nikah di berbagai nagari, pelaksanaannya di waktu pagi. Mempelai lelaki dijemput malam, membawanya penuh perdebatan adat sampai pagi. Mempelai diarak dengan dendang disebut badampiang. Shalat subuh lenyap di tengah jalan dalam arena damping. Ironis upacara adat dan Islam ini (menikah), mempelai tidak sempat shalat subuh. Itu juga terjadi pada proses arak-arakan mempelai laki dan perempuan, sering shalat zhohor dan ashar serta maghrib tercecer dalam proses prosesi adat. Dalam tradisi baru misalnya juga demikian, tidak diketahui kenapa misalnya sang KUA membuat pantangan agama dan adat mempersandingkan anak dara dengan mempelai sa’at menjelang perkawinan. Belum menikah sudah bersanding, bagalanggang mato urang banyak. Padahal dulu, anak dara disembunyikan walinya di dalam kamar dan sebelum dinikahkan meminta persetujuannya, ada jawab sikap diam tanda suka, ada jawab dengan tangis tanda haru, ada jawaban dengan mengangguk rada-rada malu padahal mau.

Dalam aspek ekonomi dan pendidikan. Orang Minang sekarang terkesan berfikir homo ekonomicus. Untuk kepentingan pengembangan lembaga pendidikan sekalipun, sulit menghadirkan para pengurus atau panitia sejumlah yang diundang. Sepertinya mau menghadirkan 20 orang harus mengundang 200 orang. Alasannya sederhana, rapat ke rapat saja berhabis waktu dan duit. Fenomena ini satu di antara penyebab runtuhnya madrasah. Sehingga banyak madrasah tidak saja berubah nama, meniru Pondok Pesantren Jawa, bahkan kepemilikan dan sistem pengelolaanya berubah termasuk kurikulum disebut madrasah ala modern, pelajarannya umum plus agama seperti Podok Pesantren Modern Hamka yang tidak agama plus umum.

Aspek pembangunan nagari, otonomi, sumber daya alam merupakan hal penting dalam sub kultur Minang. Nagari esensinya adat dan Islam, karena itu basisnya surau. Nagari-nagari dibentuk. Namun rumusan nagari model dan surau masa depan sebagai basisnya di tingkat kabupaten dan kota masih dalam versi contoh yang berbeda. Seminar hampir di tiap lembaga, kadang topang tindih, dengan dana yang sama acara sama, tetapi rumusan masih sepihak. Sementara persoalan geopolitik dengan fokus wilayah batas nagari sudah mulai menjadi fenomena konflik sosial nagari. Bisa-bisa nagari jadi ajang politik. Kasus Agam dan Bukittinggi satu di antara fenomena. Dalam konflik wilayah batas itu, esensinya bisa soal sumber daya alam yang masa depan menjadi aset ekonomi nagari masing-masing berfungsi sebagai kekuatan Minang yang dapat menjamin keberlangsung hidup sub kultur ini. Ya seperti hutan dengan bunga kayunya, air dengan bunga pasirnya di samping aset mata airnya sebagai sumber mineral masa datang yang bisa menjadi inceran negara tetangga dsb.

Banyak fenomena sesungguhnya memperlihatkan citara Minang dalam pasang surut pemikiran. Tidak sekedar purbasangka pola pikir intelektual Minang jalinan agama, adat dan sain (iptek) seperti terhenti tersosialisasi, tetapi juga krisis tokoh dan referensi Minang dalam perspektif ke depan. Rasanya forum ini satu di antara bentuk kesadaran baru dan berharap event ini jadi awal kembangkitan kembali Minangkabau. Tergantung kita semua.YY12-04-02***

Komentar»

1. Salnuddin di Ternate - September 12, 2012

aslm. Wr Wb

saya sangat respek dengan opini ini, hal yang sama saya rasakan juga di negeri Maluku Kie Raha dengan adat dan kebudayaan islam yang sangat kental oleh 4 kesultanan besar. keinginan melakukan riset dengan orientasi masuk pada “aspek agama” sangat tinggi. kendala utama bagi saya adalah minimnya teman-teman yang mau memasuki rana riset tersbut dengan alasan bahwa rana agama tsb (topik) masuk adalah aspek rahasia (tarekat), sehingga konsep ilmu rahasia tetaplah rahasia bagi informannya. adapun untuk mendapatkannya mememerlukan waktu yang lama (tidak sabar) karena kitanya (peneliti) harus masuk/mempelajari aspek “rahasia” tsb. (uraian ini adalah kekurangan saya sendiri)

wawasanislam - Januari 26, 2013

persandingan agama dan adat topik menjanjikan untuk diteliti. banyak sponsor yang mau mendanai. aspek yang diteliti lebih baik diarah ke social movement orang adat dan orang agama, dan atau diarahkan kepada daily life orang adat dan agama di sentaranya masing-masing. soal rahasia dan atau mudah-sulitnya mendapatkan bahan/ informasi, tergantung kepiawaian peneliti. ada peneliti, baru dia berkenalan dengan informannya seperti sudah berkenalan 20 tahun yang lalu dan mudah mendapat bahan. ajak teman-teman benar-benar bersikap jadi peneliti, netral dan bangga dengan kerahasiaan ajaran dan keindahan adat mengatur kehidupan sosial dan atau seperti di Minang adat adalah pelaksanaan dari Islam, tak adat Minang namanya kalau bertentangan dengan Islam, kalau ada rupa-rupa yang bertentangan, itu bukan adat namanya, tapi prilaku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: