jump to navigation

Jangan Mengumbar Aurat April 30, 2008

Posted by wawasanislam in islam.
trackback

Hnr (Singgalang, 31 Desmber 2005:19)

PADANG. Cara kawula muda Minangkabau menyambut tahun baru dengan berbagai cara yang banyak meniru budaya asing merupakan fenomena menunjukkan kemunduran budaya yang harus segera diperbaiki. Bagaimanapun juga adat dan agama Islam mempunyai norma dalam menata hubungan lain jenis dengan aturan yang dapat mengangkat kehormatan lelaki dan perempuan.

Menurut Yulizal Yunus Dekan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, dalam kondisi sekarang diperlukan terus menerus pencerahan dengan sosialisasi nilai adat dan agama dalam mengadopsi budaya asing, agar lebih jauh tidak berdampak merusak sendi-sendi kehidupan anak muda.

Remaja yang banyak mengumbar aurat seperti gadis-gadis yang berbusana memperlihatkan pusat, berprilaku bebas terutama dalam pesta penyambutan tahun baru, ketika itu mereka bukan tidak beradat dan berbudaya tetapi adat (sistim) budaya (prilakunya) tidak berakar pada budaya Minangkabau yang basandikan syarak (Islam), kata Yulizal kepada singgalang dalam wawancara lewat phone-selnya Sabtu sore(30/12).

Menurut Yulizal Yunus juga, datangnya tahun baru syah-syah saja diperingati masyarakat Islam sebagai sebuah perubahan. Karena setiap peringatan itu dari nilai Islam ada manfa’atnya (innafa’ati dzikra), setidaknya bermanfaat sebagai penyadaran diri dan membangkitkan semangat serta spirit mengahadapi masa depan yang lebih baik. Tetapi kalau penyambutan tahun baru itu dilakukan dengan cara-cara dan budaya yang tidak baik, tidak berakar pada budaya kita seperti dengan menghalalkan pergaulan bebas, berpakaian buka-bukaan mengumbar aurat dan merangsang, itu jauh dari makna peringatan dan perubahan yang diamanatkan Islam itu.

Dalam Budaya Islam dalam seni termasuk penampilan berpakaian (seni pakai) ada tiga unsur yang perlu diperhatikan, kata Yulizal yang ahli dalam disiplin ilmunya Seni Islam dan Sastra Arab. Pertama estetika (keindahan), kedua erotika (erotis) dan ketiga etika (menentukan baik atau buruk dari keindahan dan erotis). Kalau keindahan saja seperti l’art for l’art (fan li fan) dan ditambah pula erotis, akan terjebak kepada kebebesan seni berekspresi tanpa aturan bahkan erotis akan menjebak ke dalam prilaku fornograpi.Karenanya unsur etika diharapkan berfungsi mengontrol estetika dan erotika dalam alternatif mana yang baik dan mana yang buruk.

Menyinggung seni berekspresi Islam tidak melarangnya. Allah swt itu maha indah dan suka kepada yang indah. Namun kalau seni tari memperlihatkan gerak erotis yang merangsang itu berarti mengabaikan etika. Masih banyak gerak yang indah yang tidak mengumbar aurat dan tidak merangsang, silakan saja. Islam memang tidak mengatur secara teknis dan tidak menetapkan pola seni termasuk seni tari (gerak) yang ditawarkan Islam adalah nilai. Asal kreasi seni itu tidak bertabrakan dengan nilai Islam, selama itu pula seni termasuk seni tari dibolehkan etika Islam, kata Yulizal Yunus akhirnya.Hnr

Komentar»

1. eta - Mei 24, 2008

Be The Best Not Beasa

2. yudha - Mei 27, 2008

pak, kok singkat amat tulizane…yang setail dong pak. saya mau bikin tugas tentang ini. boleh ngutip gak pak?

3. pernikahan adat - Januari 9, 2010

Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: