jump to navigation

CANANG April 30, 2008

Posted by wawasanislam in adat minangkabau.
trackback

//Yulizal Yunus

Canang (sarana komunikasi tradisional dan salah satu atribut sub kultur Minangkabau, Sumatera Barat). Sa’at canang berbunyi, rakyat segera arif, tanda ada pesan dari penghulu atau rajo di Minangkabau. Artinya canang juga bermakna pesan, mencanangkan berarti menyampaikan pesan.

Canang spesial menggunakan sejenis alat musik pukul, besarnya dua kali sebesar talempong (sejenis alat musik Minang) atau sejenis bonang (sejenis alat musik di Jawa Tengah yakni sejenis salah satu waditra atau salah satu alat gamelan) atau reong (sejenis alat musik trompong di Bali yakni termasuk bentuk pencon-pencon) atau totobuang (sejenis alat musik khas Maluku). Ukurannya agak kecil dari gong (alat paling besar dan berat dalam musik gamelan di Jawa dan di Minang termasuk alat komunikasi tradisional ditempatkan di serambi berfungsi sebagai kode sambung rasa untuk memberitahukan bahwa tamu terhormat (VIP) datang, misalnya sekarang bisa dilihat di Pondok Gurih Is Anwar di Jl. Pramuka, Jakarta, atau terakhir gong digunakan sebagai tanda dibuka/ ditutupnya sebuah acara serimornial di gedung-gedung mewah).
Alat canang ini dibuat dari sejenis logam perunggu atau dari besi. Bentuknya bundar dengan tonjolan pencu di tengah menghadap ke atas.

Terakhir terjadi perubahan bentuk dan bahan produk alat untuk canang dan mencanangkan pesan di Minangkabau. Sepertinya canang berubah menjadi simbol komunikasi rajo (pimpinan adat di wilayah sub kultur Minang Pesisir atau daerah rantau lainnya) atau penghulu (pimpinan adat di wilayah sub kultur Minang Darat seperti di luhak nan tigo yakni Tanah Datar, Agam dan 50 Koto). Kekuatan canang dalam perubahan ini tidak lagi berada pada alat spesial canang, tetapi berada pada kekuatan pesan yang disampaikan (dicanangkan). Trend perubahan bentuk, fungsi dan jenis bahan alat canang itu terjadi sejak tahun 1970-han (Drs. Suhardi, MPd., 2003).

Canang dalam bentuk perubahan itu, terlihat pada alat yang digunakan, tidak hanya menggunakan alat spesial canang, tetapi sudah bisa menggunakan alat apa saja yang pada perinsipnya bisa menimbulkan bunyi nyaring untuk menarik perhatian masyarakat adat (rakyat) di Minangkabau, sebelum pesan disampaikan dengan suara teriakan keras secara oral oleh panggua canang (pemukul canang). Di antaranya alat canang pada masa perubahan ini terakhir misalnya menggunakan kalentong (kentongan) dari kayu atau bambu, punco atau putiang cangkul atau sejenis patahanan bagian pangkal dari besi bekas cangkul (Darwis Djaafar Rajo Suleman, 2003).

Sejak terjadi perubahan nagari menjadi desa tahun 1982 berdasarkan UU No. 5 Tahun 1979, canang sebagai teknik sambung rasa komunikasi tradisional Minang itu sudah tidak digunakan lagi sebagai sarana komunikasi tradisional Minang dalam menyampaikan pesan rajo (raja) atau penghulu misalnya untuk gontoroyong perbaikan kampung, tetapi sudah mulai diganti dengan surat dari Kepala Desa (Camat, Bupati atau Gubernur) prihalnya sejenis seruan, himbauan, pengumuman dll. Bahkan seruan pengganti canang itu sering pula tidak diindahkan (Ibnu Abbas Dt. Rajo Bagindo), karena masyarakat sudah terkontaminasi dengan sikap yang memandang bahwa gontoroyong itu tidak semata tugas masyarakat, karena ketika itu ada dana bandes (bantuan desa). Menanggapi purbasangka masyarakat seperti itu, sering terjadi di beberapa kampung, dipaksa keluar oleh aparat desa bersama aparat kecamatan untuk gontoroyong, misalnya dengan menembakkan senapan ke udara, bila letusan senapan berbunyi segera masyarakat keluar, sebuah fenomena ini banyak terjadi tahun 1980-han. Sekarang dalam era otonomi daerah berdasarkan Perda Sumatera Barat No. 9 Tahun 2000 mengimplementasikan UU 22 Tahun 1999, Sumatera Barat memakai sistem otonomi daerah kembali ke nagari berbasis surau, maka canang sudah mulai digunakan lagi di nagari-nagari sebagai wilayah administrasi pemerintah terendah di daerah Sumatera Barat atau sebagai sub kultur Minangkabau yang vital dalam tataran adat.

Membunyikan canang ada teknik dan cara memukulnya. Canang, dipegang tangan kiri dan pemukul di tangan kanan oleh seorang yang disebut panggua canang (pemukul canang) dari unsur perangkat kaum adat/ pemerintahan di nagari (kampung), lalu dipukul sambil berjalan. Bunyi pukulannya bernada ganda tiga-tiga ketukan. Di akhir pukulan canang, panggua canang meneriakan pesan rajo atau penghulu kepada rakyat (anak keponakan para ninik mamak).
Waktu manggua (membunyikan) canang biasanya saat menjelang maghrib dan ada juga malam hari atau ba’da magrib (banding tjenang dalam M. Thaib ST. Pamoentjak, 1935 : 253).

Pesan canang di kampung-kampung dalam wilayah nagari di Minangkabau, dominan untuk memberitahukan kepada masyarakat (rakyat/ anak keponakan ninik mamak) prihal acara gotong royong bersama (masal) atau kepentingan memobilisasi masa lainnya untuk berkumpul di nagari. Gotong royong bersama merupakan suatu cara dan tradisi kerja sama yang dilakukan oleh masyarakat Minang demi kepentingan orang banyak dan kepentingan perbaikan nagari (kampung). Jenis gotong royong yang dicanangkan itu misalnya gotong royong menggali kepala bandar sebelum memulai ke sawah, berkaul, tolak bala, membersihkan jalan kampung, membuat jembatan sementara, membangun rumah gadang atau balai (bangunan tempat bermusyawarah penghulu adat), surau, masjid dsb.

Teks oral (lisan) pesan canang itu berbeda pada setiap wilayah (darat, pesisir atau rantau Minang) tetapi esensinya sama. Di 50 Koto (Rusdi Ramli, 2003) pesan canang itu berbunyi: “Ooiiiiiii….. Ninik Mamak basa batuah, agia tau kapanakan, besuak kito gotong royong basamo-samo!” (Oi… Ninik mamak, beri tahu keponakan, besok kita gotong royong bersama). Di Pesisir Selatan lain pula bunyinya : Oiii sanak ambo di kampuang nanko, sabalah ka lawik sabalah ka darek, kaciak indak basabuik namo, gadang indak babilang gala, besuak kito gotong royong basamo-samo! (Oi.. dunsanak aku di kampung ini, yang tinggal sebelah ke laut, sebelah ke darat, kecil tidak disebut nama, dewasa tidak disebut gelar, besok kita gotong royong bersama-sama!). Seruan penggua canang itu disahuti sepontan oleh masyarakat yang duduk di lapau (kedai) atau di rumah-rumah, serempak : yooooo! (yaaa!).
Tegasnya canang lebih dominan fungsi komunikasi disanding alat spesial canang yang digunakan. Canang, mencanangkan berarti menyampaikan pesan*** Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo.

Rujukan
Dt. Rajo Bagindo, Ibnu Abbas,
2003 Wawancara. Taluk: YDRB.
Rajo Suleman, Drawis Djaafar,
2003 Wawancara. Balaiselasa: YDRB
Rusydi, Ramli, Drs.,
2003 Wawancara. Balaiselasa: YDRB
Yunus, Yulizal dan Suhardi,
2001 Komunikasi Sambung Rasa Masyarakat Nagari di Minangkabau. Padang: Studio Sastra.

***Yulizal Yunus, Dekan Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol, juga Ketua KAN Taluk Batangkapas Pesisir Selatan.
E-mail: yy_datuk@yahoo.com

Komentar»

1. farukh fakih - Mei 28, 2008

barangkali dari ini ya berawal kata canang, mencanangkan..atau ..

2. chelsea - Desember 4, 2008

goblok bgt buatnya

3. iren cintagghh aannn - September 11, 2009

.anehhnya dueh !!!!!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: