jump to navigation

Akhlak Mulia dan Pembangunan Padang April 30, 2008

Posted by wawasanislam in budaya.
trackback

// Yulizal Yunus

Iklim budaya yang tidak sehat termasuk sikap mental yang tidak baik, menghambat kemjuan ekonomi di Indoensia, ungkap HJ Boeke (1910, dalam Koentjaraningrat, 1969). Rusak adab, lenyaplah bangsa, kata adagium Arab. Padang di bawah kepemimpinan paket Wako Fauzi Bahar dan Wawako Yusman Kasim sepertinya menyadarinya, perlu mengambil kebjikan peningkatan pendidikan akhlak dan moral generasi muda secara terus menerus demi kemaslahatan daerah. Tentu saja kebijakan ini mendapat dukungan banyak.

Padang sejak 3 tahun lalu (18 Febr. 2004) dipimpin paket Fauzi dan Yusman, terdapat sejumlah kebijakannya yang menuai pujian. Di antaranya perang terhadap maksiat termasuk pemberantasan togel, peningkatan pesantren ramadhan, busana muslim di sekolah, peningkatan pendidikan akhlak mulia dan moral generasi muda bagian dari wujud pengajaran agama dan mempelopori peningkatan pelaksanaan zakat sehingga menjadi pilot project tingkat nasional seperti juga diungkap Montosori (Padek, 19/2/2007:7). Mochtar Naim (DPD RI) menyebut pantas Padang menjadi pilot project, karena kota ini dirasakan sebagai pelopor.

Pelaksanaan pemberantasan maksiat dan pendidikan akhlak – moral generasi muda di nilai Ketua DPRD Padang Hadison (dalamMontosori/ Padek, 19/2/2007:7) sebagai prestasi Padang sejak 3 tahun terakhir di bawah kepemimpinan Fauzi – Ysman.

Wako Fauzi bertekad ke depan pendidikan akhlak dan moral generasi muda terus menjadi perhatian dan didukungan dengan upaya peningkatan anggarannya. Wako beralasan pendidikan akhlak ini signifikan menjadi modal utama dalam mewujudkan kemaslahatan daerah dan warga ke depan (Fauzi dalam Montosori/ Padek, 19/2/2007:7)

Dalam pengertian lain, Padang membangun (pisik dan pisik) diyakini, kesuksesannya tergantung pada iklim budaya termasuk sikap mental yang baik. HJ.Boeke Guru Besar Universitas Leiden (Belanda) dalam disertasinya (1910) pernah pesimis dengan kasus Timur termasuk Indonesia, di mana sikap mentalnya menghambat kemajuan ekonomi. Karenanya kalau ada dalam pembangunan kritik yang tidak konstruktif, misalnya kata Wako Fauzi baru saja ada rencana masuk investor, seperti terakhir PT.OCS Indonesia untuk membangun terowongan Pegambiran-Bungus, Reklamasi Pelabuhan Teluk Bayur dan Padang Bay City, ada saja pengamat dari pakar, unsur legislatif bahkan unsur eksekutif yang menakut-nakuti, maka Wako jangan lupa, fenomena ini bagian dari iklim budaya termasuk aspek sikap mental yang menjadi bagian dari pendidikan akhlak dan moral yang harus terus dididik. Untuk tahap awal bolehlah Wako bersikap, menjadikannya sebagai sebuah pertimbangan sekaligus tantangan. Namun yang perlu ditekankan para pelaksana pembangunan termasuk penyelenggara peningkatan pendidikan akhlak, harus memulai dari dirinya sendiri, untuk berakhlak mulai sehingga menjadi ikutan. Wako jangan segan-segan menindak aparat yang melanggar akhlak mulia dan mendidikan aparat yang kurang baik sikap mentalnya sehingga terwujud moral pembangunan dan tercipta iklim budaya yang sehat dan sikap mental yang baik sebagai daya dorong kuat bagi suksesnya seluruh aspek pembangunan.
Kebijakan pembangunan pendidikan akhlak mulia dan moral generasi muda dari Wako Padang, seperti tanpa disadari mendapat penguatan Provinsi Sumatera Barat bahkan secara Nasional, yang pendidikan akhlak akan dijadikan indikator kelulusan di sekolah. DPRD Provinsi Sumatera Barat menekankan, urgens (mendesak) pelaksanaan pendidikan akhlak mulia dimulai dari para siswa pendidikan dasar dan menengah di Sumatera Barat dengan sebuah pedoman yang jelas dan terarah. Merespon pemikiran DPRD itu Gubernur melalui project Dinas Pendidikan tahun 2006 merumuskan dan menulis BP3AM (Buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Akhlak Mulia) untuk Pendidikan Dasar dan Menengah). Buku ini penting sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan akhlak mulia (PPAM) di sekolah-sekolah (pada kegiatan intra/ ekstra ekstra kurikuler) dan di luar sekolah (rumah tangga dan masyarakat). Tentu saja buku ini juga menjadi pedoman dalam pendidikan akhlak mulia dan moral generasi muda di Padang bersama daerah otonom lainnya di Sumbar sejalan dengan upaya pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ke arah pengembangan kemampuan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa di daerah.*

*** Yulizal Yunus, Dekan Fakultas Ilmu Budaya – Adab IAIN Imam Bonjol, dan mahasiswa PPs. Unand Padang.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: