Tentang Lokal Internasional Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in opini.1 comment so far
Pemikiran Yulizal Yunus
/ Lektor Kepala
1. Lokal Internasional di Fakultas, sebuah gagasan yang bagus. Pertanyaan muncul, apakah gagasan ini sudah ada paradigmanya. Paradigama yang dimaksud adalah Kebijakan Publik (public policies). Setidaknya satu di antara struktur/ hirarchi kebijakan itu yang menjadi legal standing, yakni UU, PP, Kepres, Inpres, Permenag/ Permendiknas, KMA/ Kepmendiknas, SE Depag RI/ Dirjen Dikti Depag/ Diknas atau Keputusan Rektor, Keputusan Dekan atau serendahnya Keputusan Ketua Jurusan?. Apa satu di antaranya sudah ada yang memerintahkan kita?.
2. Kebijakan yang ada local internasional di Indonsia adalah untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah (TK-SD-SMP dan SMA sederajat), dan memang tingkatan itu local, tergantung tempat dan lokasi berdiri. Tapi untuk perguruan tinggi kebijakan yang ada (tapi saya tidak tahu seberapa kuat) hanyalah local khusus seperti pengalaman Fakultas Ushuluddin, itu tidak local internasional. Dari pengalaman ushuluddin, sekarang terasa mana dananya dan bagaimana tempat belajarnya, dan belum lagi pendanaan akademik (dosen dan biaya PBM), kalau tidak bermasalah pasti menimbulkan konflik. (lagi…)
Mahasiswa Indonesia dalam 100 Tahun Bangkitnas dan 10 Tahun Reformasi Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in nasionalisme.add a comment
• Mana ideologinya mempertahankan bangsa?
/ Yulizal Yunus
Ketika mahasiswa cepat berproses, dalam 2 tahun saja lepas dari bangku kuliah yang suaranya masih terngiang, bertanya di dalam PBM dan berteriak di halaman dalam gerakan massa, ada yang sudah menjadi pejabat Negara, anggota DPR, Ketua DPRD, Bupati dan Wakil Bupati dsb. Ini, satu di antara fenomena generasi muda yang menunjukkan masih tingginya tingkat keterpakaian konsep “student to day and leader tomorrow (sekarang mahasiswa besok jadi pemimpin)”.
Dari perspektif historis “tiada episode sejarah tanpa perjuangan pemuda”. Pemerintah menyadari pentingnya peranan pemuda. Banyak semboyan pemerintah membesarkan nama dan memberi reward peranan pemuda di antaranya: pemuda harapan bangsa, di tangan pemuda masa depan bangsa, pemuda ialah pemegang tongkat estapet kepemimpinan bangsa masa depan, ingin merebut masa depan yang cemerlang peranankanlah pemuda dan rebut kekuatan mereka dll.
Pemuda itu konsep. (lagi…)
Karya Taufik Ismail dalam Khazanah dan Perkembangan Kesusasteraan Islam di Indonesia Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in islam, sastra.1 comment so far
Oleh Yulizal Yunus
I. Karya sastra Islam
+ Islam : Seni = nufur dan khisham/ kontroversi
+ Arah dalam berimajinasi :
(1) Surat Syu’ara : imjinasi tak menyimpang dari iman dan keshalehan dalam berkarya
(2) Hadist : imajinasi dalam memenej perasaan (‘athifah) dalam kontrol kata sarat nilai hikmah.
(3) Ta’rif fann Islami : esensi nilai (1) pengajaran yang indah, (2) hikmah, (3) irsyadah (panduan – ke jalan yang haq (benar-lurus dan Tuhan), sair ilallah/ jalan menuju Allah.
(4) Keindah, canel mencapai Tuhan : inn Allah jamal yuhibb al-jamal
(5) Triple-E : (a) Estetika, (b) Erotika dan (c) Etika (vs l’art for l’art)
(6) Ulama dan Sufi/ meta fisik Islam menulis syair – ibadat
II. Karya sastra Taufi Ismail genre puisi terdapat tema dan pesan Islam
+ Sastra Taufik (syi’r munasibat/ occasional poetry) tidak dilihat pada simbol Islam saja : do’a, masjid, sajadah panjang, peci, jilbab/ jlabiyah/ jubbah, mukenah, sarung dst.
+ Lebih banyak dilihat pada kata yang mashunah (sarat) dengan makna, nafas, roh dan nilai Islam.
+ Ulama : Taufiq Ismail (Pujangga lama + Melayu Rendah : A-50an60an +A66-70an+ 80an+ A2000an dan Cybersastra) atau Sastra Materi Ajaran : Sastra Zikir (Nabi saw: nuthqi zikran/ bicara zikir, sumti fikran/ diam berfikir).
Lihat nafas puisi Taufiq, ada nilai tidak menyukai budaya al-khadzb (الكذب /dusta) dalam fenomena hilangnya budi pekerti mulia (al-akhlaq al-mahmudah/ الأخلاق المحمودة ) di bawah payung (tema) iklim budaya politik tak menentu di tanah airnya, pada baitnya dalam “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) yang mirip syair hija` (هجاء) Arab sbb.: (lagi…)
SEJARAH SINGKAT MESIR Juni 6, 2008
Posted by wawasanislam in sejarah.5 comments
// Yuyu
Sejarah peradaban Mesir membentang sejak tahun 3200 SM, melewati lima periode:
1. Pharaonic (3200-332 SM), melewati 30 dinasti.
Tahun 2690 SM, Piramid Cheops dibangun.
Tahun 2650 SM, Piramid Chepren cibangun.
Tahun 2600 SM, Piramid Mycerirtous dibangun.
Tahun 1391-1353 SM, Temple of Luxor dibangun
2. Yunanl (332-30 SM).
Tahun 323 SM, Kota Iskandariah dibangun.
Tahun 282-246 SM, Pharaos Light House dibangun.
3. Romawi (30 SM – 642 M).
4. Islam (642 M – 19i4), melewati beberaua ninasti yaitu:
Dinasti Thoulouniyah (868-905 M / 254-292 H).
Dinasti Ikhshids (935-969 M / 323-353 H).
Dinasti Fathimiah (969-1171 M /358-667 H). Dimasa ini didirikan Universitas AI-Azhar (21 Juni 972
Dinasti Ayyubiyah (1171-1250 M / 567-648 H).
Dinasti Mamalik (1250-1517 M / 648-922 H).
Dinasti Osmani (1517-1914 M). Dimasa ini Terusan Suez pertama kali dibuka (17 November 1869).
5. Mesir Modern (1914-sekarang): (lagi…)
“ Zaman “ dalam Puisi Arab Mutakhir Juni 6, 2008
Posted by wawasanislam in sastra.2 comments
Oleh : Hidyah Al Ayyubiy
Alih bahasa : Drs.Yulizal Yunus
Pengantar.
Hidyah Al Ayyubiy adalah seorang putri kelahiran Tripoli, Libanon Utara, tahun 1957. LC dalam bahasa Arab Master of Art (MA) dalam sastra Arab, mengusai masalah Inggris, Perancis dan Arab. Sekarang bekerja sebagai Dosen Bahasa Arab di Raudahatul Fiha. Banyak menulis karya ilmiah (hasil penelitian dan kajian) dan banyak menulis puisi serta dipublikasi dalam banyak surat kabar dan majalah di Arab.
Tulisan kebudayaan tentang kritik sastra Arab Mutakhir “Az Zaman Fi Syi’ri “Arabiy Al-Ma’ashir. Zaman di dalam puisi Arab Mutakhir” ini dimuat “Al Faishal”, majalah kebudayaan bulanan, diterbitkan diRiyadh, edisi 43 November – Desember 1980. diterjemahkan Drs.Yulizal Yunus dosen sastra Arab di fakultas sastra Arab (Adab) IAIN Imam Bonjol, di Padang. (lagi…)
“Jujur” Tanpa Bekal Pengalaman Empiris “Jujur” Tanpa Bekal Pengalaman Empiris Juni 6, 2008
Posted by wawasanislam in opini.add a comment
Banyak pengalaman dan pengetahuan menunjukkan, budaya luruih tabuang (“jujur” tanpa bekal pengalaman empiris) tak jaminan dipercayai. Budaya itu suatu kali kalau tidak menciderai (menzalimi) teman, paling tidak dirinya akan terciderai (zhalimun linafsihi/ menzalimi diri sendiri). Karena “jujur” tanpa kontrol pengalaman, suatu kali “jujur”nya (luruih tabuang) itu dimanfaatkan para pihak yang berkepentingan, tak disadari, ia sudah dimasukan ke proses pembusukan.
Dalam perspektif manajemen dan kepimpinan politik, memimpin memerlukan kejujuran yang ditunjang pengalaman. Kejujuran plus pengalaman akan melahirkan enegri keberanian. Artinya memimpin tidak cukup dengan modal “jujur” saja tanpa pengalaman. Ia jujur, lalu diputuskan sepihak: pilih saja dia!, bisa salah menjatuhkan pilihan. Si Dia itu memang pandai dan punya keahlian satu bidang ilmu dan punya gelar akademik yang meyakinkan. Namun si dia itu dalam perjalanan hidupnya tidak pernah punya pengalaman organisasional atau tak pernah berorganisasi. Ia tidak punya pengalaman menejerial yang kuat, tidak punya pengalaman politik atau tidak pernah mengikuti trik-trik politik dalam memenej in group-nya meraih kemenangan dalam suksesi kepemimpinan sebuah lembaga atau organisasi (partai, lsm, lembaga akademik). Kalau minus pengalaman seperti ini, suatu saat terpilih dan menjadi top menejer, ia berpotensi kacau beliau. Integritas pimpinan kolektif tidak akan terurus. Di dalam kolektifitas pimpinan itu akan lahir kelompok-kelompok baru. Kelompok yang tak peduli, tindakannya asal senang saja (abs/ asal bapak senang), di permukaan tetap setia. Yang kurang senang menjarak, bahkan oposisi. Segala usulan dan tindakan top leader dimatikannya, puncaknya pimpinan akan dijadikan permainan para pihak berkepentingan (lagi…)
Identitas Minang Kota Mei 29, 2008
Posted by wawasanislam in opini.2 comments
/ Yulizal Yunus
Era ini, gampang benar orang terpropokasi protes. Demonstrasi dan aksi mogok. Tidak saja portes terhadap sistem perwakilan di DPR, pindah terminal bus (dari Pasar Raya Padang bekas kuburan Belanda itu ke Terminal Bingkuang di Ayia Paca) pun ribut lagi. Mestinya secara rasional perubahan baru memberikan kesegaran. Tapi malah menimbulkan kegoncangan bahkan jadi konflik. Apa sebenarnya yang terjadi? Kadang seperti kehilangan kepribadian. Manalagi identitas Minang Kota?. (lagi…)

