Wako Padangpanjang Membangun Didukung Pusako Tinggi Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in adat minangkabau, opini.8 comments
/ Yulizal Yunus
Cukup banyak pilar-pilar sukses Wali Kota Padang Panjang dr. dr. H. Suir Syam, M.Kes, MMR membangun. Non pisik bidang budaya dan pendidikan, berhasil memfasilitasi penggalian adat budaya yang tumbuh, kembang dan dipakai di salingka 3 nagari Padang Panjang yakni Gunung, Lareh Nan Panjang dan Bukit Surungan, saya satu di antara penulisnya bersama Armen, diterbitkan dalam 6 jilid buku ajar muatan lokal BAM SD-SMP sejak tahun 2004. Plus memfasilitasi penulisan 6 jilid buku Budi Pekerti dan 12 jilid buku bahasa arab yang menceritakan lokal Padang Panjang diajarkan di Pendidikan Dasar dan Menengah. Bidang pisik tercover kecendekiaan Wako bersama masyarakat adat dipimpin penghulu (angku Datuk) diperkuat unsure progresif (stakeholders kebijakan) dan aliansi strategis lainnya (seperti peneliti perguruan tinggi terutama STSI dan aktor pembangunan lainnya) menjadikan pusako tinggi sebagai investasi mendukung pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang monumental di Padang Panjang terakhir setelah Rumah Sakit megah menyusul Kebun Raya. (lagi…)
Penjelasan Pertanyaan Kehadiran Tuhan dalam Sastra Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in sastra.3 comments
/ Prof. Dr. Salmadanis, MA
Seminar Internasional dan Baca Puisi dalam 55 Tahun Taufiq Ismail tanggal 28 Mei 2008 bagi saya amat menarik. Ditayangkan TVRI Sumbar sore itu dalam siaran langsung (live), menambah wibawa event sastra internasional itu.
Apalagi para pembicara dikenal para pakar dan kritikus sastra sekaligus ada di antaranya yang sastawan. Mereka ialah Dr. Ismet Fanany (Deakin University Australia)/ Karya Taufiq sebagai Bahan Pendidikan Sejarah, Dr. Rebecca Fanany (Swinburne University, Australia)/ Karya Taufiq dan Sastra Dunia, Darman Moenir (sastrawan)/ Karya Taufiq dalam Gerakan Pembudayaan Manusia Indonesia, Dr. Ir. Raudha Thaib, MP (Unand)/ Kebesaran Taufiq dan Kecenderungan Budaya Minangkabau serta Yulizal Yunus (Fakultas Adab/ Sastra IAIN IB)/ Karya Taufiq dalam Khazanah dan Perkembangan Kesusasteraan Islam di Indonesia dan dipandu pula sastrawan besar Wisran Hadi. (lagi…)
Tentang Lokal Internasional Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in opini.1 comment so far
Pemikiran Yulizal Yunus
/ Lektor Kepala
1. Lokal Internasional di Fakultas, sebuah gagasan yang bagus. Pertanyaan muncul, apakah gagasan ini sudah ada paradigmanya. Paradigama yang dimaksud adalah Kebijakan Publik (public policies). Setidaknya satu di antara struktur/ hirarchi kebijakan itu yang menjadi legal standing, yakni UU, PP, Kepres, Inpres, Permenag/ Permendiknas, KMA/ Kepmendiknas, SE Depag RI/ Dirjen Dikti Depag/ Diknas atau Keputusan Rektor, Keputusan Dekan atau serendahnya Keputusan Ketua Jurusan?. Apa satu di antaranya sudah ada yang memerintahkan kita?.
2. Kebijakan yang ada local internasional di Indonsia adalah untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah (TK-SD-SMP dan SMA sederajat), dan memang tingkatan itu local, tergantung tempat dan lokasi berdiri. Tapi untuk perguruan tinggi kebijakan yang ada (tapi saya tidak tahu seberapa kuat) hanyalah local khusus seperti pengalaman Fakultas Ushuluddin, itu tidak local internasional. Dari pengalaman ushuluddin, sekarang terasa mana dananya dan bagaimana tempat belajarnya, dan belum lagi pendanaan akademik (dosen dan biaya PBM), kalau tidak bermasalah pasti menimbulkan konflik. (lagi…)
Mahasiswa Indonesia dalam 100 Tahun Bangkitnas dan 10 Tahun Reformasi Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in nasionalisme.add a comment
• Mana ideologinya mempertahankan bangsa?
/ Yulizal Yunus
Ketika mahasiswa cepat berproses, dalam 2 tahun saja lepas dari bangku kuliah yang suaranya masih terngiang, bertanya di dalam PBM dan berteriak di halaman dalam gerakan massa, ada yang sudah menjadi pejabat Negara, anggota DPR, Ketua DPRD, Bupati dan Wakil Bupati dsb. Ini, satu di antara fenomena generasi muda yang menunjukkan masih tingginya tingkat keterpakaian konsep “student to day and leader tomorrow (sekarang mahasiswa besok jadi pemimpin)”.
Dari perspektif historis “tiada episode sejarah tanpa perjuangan pemuda”. Pemerintah menyadari pentingnya peranan pemuda. Banyak semboyan pemerintah membesarkan nama dan memberi reward peranan pemuda di antaranya: pemuda harapan bangsa, di tangan pemuda masa depan bangsa, pemuda ialah pemegang tongkat estapet kepemimpinan bangsa masa depan, ingin merebut masa depan yang cemerlang peranankanlah pemuda dan rebut kekuatan mereka dll.
Pemuda itu konsep. (lagi…)
Karya Taufik Ismail dalam Khazanah dan Perkembangan Kesusasteraan Islam di Indonesia Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in islam, sastra.1 comment so far
Oleh Yulizal Yunus
I. Karya sastra Islam
+ Islam : Seni = nufur dan khisham/ kontroversi
+ Arah dalam berimajinasi :
(1) Surat Syu’ara : imjinasi tak menyimpang dari iman dan keshalehan dalam berkarya
(2) Hadist : imajinasi dalam memenej perasaan (‘athifah) dalam kontrol kata sarat nilai hikmah.
(3) Ta’rif fann Islami : esensi nilai (1) pengajaran yang indah, (2) hikmah, (3) irsyadah (panduan – ke jalan yang haq (benar-lurus dan Tuhan), sair ilallah/ jalan menuju Allah.
(4) Keindah, canel mencapai Tuhan : inn Allah jamal yuhibb al-jamal
(5) Triple-E : (a) Estetika, (b) Erotika dan (c) Etika (vs l’art for l’art)
(6) Ulama dan Sufi/ meta fisik Islam menulis syair – ibadat
II. Karya sastra Taufi Ismail genre puisi terdapat tema dan pesan Islam
+ Sastra Taufik (syi’r munasibat/ occasional poetry) tidak dilihat pada simbol Islam saja : do’a, masjid, sajadah panjang, peci, jilbab/ jlabiyah/ jubbah, mukenah, sarung dst.
+ Lebih banyak dilihat pada kata yang mashunah (sarat) dengan makna, nafas, roh dan nilai Islam.
+ Ulama : Taufiq Ismail (Pujangga lama + Melayu Rendah : A-50an60an +A66-70an+ 80an+ A2000an dan Cybersastra) atau Sastra Materi Ajaran : Sastra Zikir (Nabi saw: nuthqi zikran/ bicara zikir, sumti fikran/ diam berfikir).
Lihat nafas puisi Taufiq, ada nilai tidak menyukai budaya al-khadzb (الكذب /dusta) dalam fenomena hilangnya budi pekerti mulia (al-akhlaq al-mahmudah/ الأخلاق المحمودة ) di bawah payung (tema) iklim budaya politik tak menentu di tanah airnya, pada baitnya dalam “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998) yang mirip syair hija` (هجاء) Arab sbb.: (lagi…)