jump to navigation

SEJARAH SINGKAT MESIR Juni 6, 2008

Posted by wawasanislam in sejarah.
5 comments

// Yuyu
Sejarah peradaban Mesir membentang sejak tahun 3200 SM, melewati lima periode:
1. Pharaonic (3200-332 SM), melewati 30 dinasti.
 Tahun 2690 SM, Piramid Cheops dibangun.
 Tahun 2650 SM, Piramid Chepren cibangun.
 Tahun 2600 SM, Piramid Mycerirtous dibangun.
 Tahun 1391-1353 SM, Temple of Luxor dibangun

2. Yunanl (332-30 SM).
 Tahun 323 SM, Kota Iskandariah dibangun.
 Tahun 282-246 SM, Pharaos Light House dibangun.

3. Romawi (30 SM – 642 M).

4. Islam (642 M – 19i4), melewati beberaua ninasti yaitu:
 Dinasti Thoulouniyah (868-905 M / 254-292 H).
 Dinasti Ikhshids (935-969 M / 323-353 H).
 Dinasti Fathimiah (969-1171 M /358-667 H). Dimasa ini didirikan Universitas AI-Azhar (21 Juni 972
 Dinasti Ayyubiyah (1171-1250 M / 567-648 H).
 Dinasti Mamalik (1250-1517 M / 648-922 H).
 Dinasti Osmani (1517-1914 M). Dimasa ini Terusan Suez pertama kali dibuka (17 November 1869).

5. Mesir Modern (1914-sekarang): (lagi…)

“ Zaman “ dalam Puisi Arab Mutakhir Juni 6, 2008

Posted by wawasanislam in sastra.
2 comments

Oleh : Hidyah Al Ayyubiy
Alih bahasa : Drs.Yulizal Yunus

Pengantar.

Hidyah Al Ayyubiy adalah seorang putri kelahiran Tripoli, Libanon Utara, tahun 1957. LC dalam bahasa Arab Master of Art (MA) dalam sastra Arab, mengusai masalah Inggris, Perancis dan Arab. Sekarang bekerja sebagai Dosen Bahasa Arab di Raudahatul Fiha. Banyak menulis karya ilmiah (hasil penelitian dan kajian) dan banyak menulis puisi serta dipublikasi dalam banyak surat kabar dan majalah di Arab.
Tulisan kebudayaan tentang kritik sastra Arab Mutakhir “Az Zaman Fi Syi’ri “Arabiy Al-Ma’ashir. Zaman di dalam puisi Arab Mutakhir” ini dimuat “Al Faishal”, majalah kebudayaan bulanan, diterbitkan diRiyadh, edisi 43 November – Desember 1980. diterjemahkan Drs.Yulizal Yunus dosen sastra Arab di fakultas sastra Arab (Adab) IAIN Imam Bonjol, di Padang. (lagi…)

“Jujur” Tanpa Bekal Pengalaman Empiris “Jujur” Tanpa Bekal Pengalaman Empiris Juni 6, 2008

Posted by wawasanislam in opini.
add a comment

/ Yulizal Yunus

Banyak pengalaman dan pengetahuan menunjukkan, budaya luruih tabuang (“jujur” tanpa bekal pengalaman empiris) tak jaminan dipercayai. Budaya itu suatu kali kalau tidak menciderai (menzalimi) teman, paling tidak dirinya akan terciderai (zhalimun linafsihi/ menzalimi diri sendiri). Karena “jujur” tanpa kontrol pengalaman, suatu kali “jujur”nya (luruih tabuang) itu dimanfaatkan para pihak yang berkepentingan, tak disadari, ia sudah dimasukan ke proses pembusukan.

Dalam perspektif manajemen dan kepimpinan politik, memimpin memerlukan kejujuran yang ditunjang pengalaman. Kejujuran plus pengalaman akan melahirkan enegri keberanian. Artinya memimpin tidak cukup dengan modal “jujur” saja tanpa pengalaman. Ia jujur, lalu diputuskan sepihak: pilih saja dia!, bisa salah menjatuhkan pilihan. Si Dia itu memang pandai dan punya keahlian satu bidang ilmu dan punya gelar akademik yang meyakinkan. Namun si dia itu dalam perjalanan hidupnya tidak pernah punya pengalaman organisasional atau tak pernah berorganisasi. Ia tidak punya pengalaman menejerial yang kuat, tidak punya pengalaman politik atau tidak pernah mengikuti trik-trik politik dalam memenej in group-nya meraih kemenangan dalam suksesi kepemimpinan sebuah lembaga atau organisasi (partai, lsm, lembaga akademik). Kalau minus pengalaman seperti ini, suatu saat terpilih dan menjadi top menejer, ia berpotensi kacau beliau. Integritas pimpinan kolektif tidak akan terurus. Di dalam kolektifitas pimpinan itu akan lahir kelompok-kelompok baru. Kelompok yang tak peduli, tindakannya asal senang saja (abs/ asal bapak senang), di permukaan tetap setia. Yang kurang senang menjarak, bahkan oposisi. Segala usulan dan tindakan top leader dimatikannya, puncaknya pimpinan akan dijadikan permainan para pihak berkepentingan (lagi…)