jump to navigation

Identitas Minang Kota Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in opini.
2 comments


/ Yulizal Yunus

Era ini, gampang benar orang terpropokasi protes. Demonstrasi dan aksi mogok. Tidak saja portes terhadap sistem perwakilan di DPR, pindah terminal bus (dari Pasar Raya Padang bekas kuburan Belanda itu ke Terminal Bingkuang di Ayia Paca) pun ribut lagi. Mestinya secara rasional perubahan baru memberikan kesegaran. Tapi malah menimbulkan kegoncangan bahkan jadi konflik. Apa sebenarnya yang terjadi? Kadang seperti kehilangan kepribadian. Manalagi identitas Minang Kota?. (lagi…)

ILYAS YA’KUB (1903-1958) Ulama dan Pahlawan Nasional Indonesia Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in islam, sejarah.
1 comment so far

Oleh Yulizal Yunus Datuk Rajo Bagindo[1]

Abstrak

Ilyas Ya’kub (Lahir di Asam Kumbang, Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 1903 — 2 Agustus 1958) ialah seorang ulama besar dan syikh al-Islam dari Minangkabau, Indonesia tamatan Mesir. Ia pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia diangkat dengan SK-Mensos RI Nomor: Pol-61/PK/1968, tanggal 16 Desember 1968 dan dikukuhkan kembali dengan Keputusan Presiden RI (Kepres-RI) Nomor 074/TK/Tahun 1999 tanggal 13 Agustus 1999 serta dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana atas jasanya mempertahankan prinsip-perinsip kemerdekaan dari ancaman kolonialisme Belanda sekaligus menggerakkan kemerdekaan RI dengan reskio ia dibaung Belanda ke Digul (di Papua – Indonesia sekarang) serta beberapa tempat di Malaysia, Singapura, Brunei, Australia dll. Ia pernah memimpin mahasiswa Malaysia-Indonesia di Mesir, juga pendiri Partai Politik PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia, 1932) berbasis pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Beralasan pula dengan kemampuan dan jasanya sebagai ulama, tokoh pendidikan dan politikus Islam di awal kemerdekaan (1948) ia dipercaya pada negeri yang Islam dan semangat melayunya kuat sebagai Ketua DPR Provinsi Sumatera Tengah merangkap penasehat Gubernur.

Pendahuluan

Perjuangan Ilyas Ya’kub sebagai ulama dan tokoh pendidikan Islam banyak mendirikan lembaga pendidikan Islam. Ia juga pernah bekerja sebagai wartawan di samping berjuang mendirikan lembaga pers sejak masa pendidikan di perguruan tinggi di Timur Tengah. Sebagai politikus Islam yang gemilang, ia berjasa mewadahi Islam dan Kebangsaan[2] dengan parpol PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang berbasis pada pendidikan Islam yang ia dirikan bersama teman seperjuangan.

Dengan profesinya sebagai wartawan dan penerbitan pers (pernah sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Medan Rakyat, 1 Pebruari 1931) serta politikus Islam pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia itu, membuatnya tegas dan keras menentang prilaku imperialisme dan kolonialisme Belanda. Sepak terjangnya memperlihatkan karakteristik radikal positif justru mengangkat martabat dan integritas dirinya sebagai tokoh Islam (ulama) dan nasionalis yang kuat menentang penjajah, lalu di pihak Belanda menarik perhatian dan amat diperhitungkan sebagai tokoh Islam dan Nasional itu sekaligus dinyatakan sebagai musuh bebuyutan, lalu dengan segala cara Belanda akhirnya dapat menangkapnya dan dibuang bersama isterinya Tinur ke Bouven Digul (lagi…)

Imam Katik dan Pendayafungsiannya sebagai Da’i di Perkampungan Pariwisata Berbasis Surau) Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in adat minangkabau.
add a comment

/ Drs. Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Imam dan Katik dua unsur dari urang jinih nan-4. Keduanya (bersama dua unsur lainnya yakni bila dan qadhi) dapat didayafungsikan sebagai da’i profesionalis pembina syarak dalam pelaksanaan adat sakato syarak dan pemakmuran hidup banagasi yang berpotensi jadi perkampungan pariwisata berbasis surau sebagai simbol budi ninik mamak. Dalam pelaksananaan tugasnya imam katik membantu malim sebagai salah satu unsur urang nan-4 jinih yang berdiri di pintu agama. Dipercayai Imam Katik sebagai da’i ini dan amat strategis dalam perwujudan otonomi daerah menciptakan masyarakat hadhari (civil society) di Sumatera Barat diperkuat sub kultur Minangnya, kembali ke nagari berbasis surau. (lagi…)

Kesultanan Indrapura Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in sejarah.
1 comment so far

Naskah Ringkasan Penelitian

Oleh: Yulizal Yunus[1]

Indrapura, Kesultanan (Kerajaan Islam Malayu, 1100 1911) terletak di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat sekarang. Pernah jaya abad XVII – XVIII, karena posisinya sebagai kota pantai, pusat perdagangan dengan komiditi unggulan emas dan lada, berbasis pelabuhan Samuderapura dengan armada kuat, ramai dikunjungi kapal dagang dan jadi rebutan pengaruh kekuatan asing (Yulizal Yunus, 2002).

Kesultanan Indrapura berdiri di atas keruntuhan Kerajaan lama Indrapura yakni periode Kerajaan Teluk Air Pura abad IX sm – XII m (80 sm – 1100 m). Kerajaan Indrapura lama didirikan anak cucu leluhur Iskandar Zulkarnaini (356-324 sm, putra Pilipeaus raja ke-2 Masedonia, 382-336 sm). Tidak disebut nama pendirinya kecuali pimpinan adat. Ada disebut tahun 134 sm lahir Indo Juita (keturunan Iskandar Zulkarnaini) kemudian tahun 110 sm menikah dengan Inderajati moyang Indrapura (asal Parsi – Turki) dan melahirkan keturunan raja-raja. (lagi…)

Salido Sejak Kerjaan Lumbung Ameh Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in sejarah.
add a comment

//Yulizal Yunus

Salido kumunitas masyarakatnya pernah (abad ke-17) berbentuk masyarakat kecil multi-nasional antara orang Belanda, Belgia, Jerman, Malagasi, maupun negro dari Afrika Selatan. Bahkan pada pertengahan alaf (milinium/ ribuan tahun) pertama dalam cerita rakyat di lidah tellerhistory (tukang cerita), ada masyarakat Cina, Hindustan, Malaka dan Sri Langka, ketika itu Salido merupakan kerajaan[1] makmur, penuh dengan lumbung tidak saja padi tetapi emas laksana bukit yan berhimpit-himpit. Suatu hal yang menarik bangsa asing datang dan tinggal di Salido di antaranya disebabkan karena Salido pernah bertabur eman dan perak itu, kemudian di daerah ini terdapat tambang emas terbesar di pantai selatan Sumatera bahkan tambang tertua[2] di Sumatera. Orang-orang asing itu boleh dikatakan “demam Salido”. Secara antrpologis Rusli Amran (1981:298) menekankan, kalau ada orang Salido dan Painan yang raut mukanya mau pun ukuran badannya tidak mirip pribumi mungkin itu peninggalan “demam Salido”. (lagi…)

PENYEHATAN IKLIM BUDAYA DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN Mei 29, 2008

Posted by wawasanislam in lingkungan.
add a comment

/ Yulizal Yunus

Pertanian satu di antara sembilan struktur pembangunan di Pesisir Selatan. Pertanian berada pada pilar ekonomi, lingkupnya tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan dan perikanan. Sembilan struktur pembangunan di Pesisir Selatan itu adalah pertanian, pertambangan dan galian, industri dan pengolahan, listrik- gas dan air bersih, bangunan dan kanstruksi, perdagangan – hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan – persewaan dan perusahaan, serta jasa. Dua tahun terakhir pertanian menunjukkan perkembangan signifikan terutama dalam pembukaan lahan baru persawahan rakyat, pemanfaatan lahan tidur, pencarian jenis tanaman yang cocok dan pemberdayaan dalam bentuk penyediaan dana modal pendamping prtanian. Pada kegiatan pembukaan sawah baru itu saja, dipastikan ada amanat pembangunan, penyehatan iklim budaya (prilaku dan sikap mental) masyarakat yang kondusif, setidaknya menyadarkan rakyat, bahwa mereka semakin berkembang, sudah seharusnya (bersikap) mencari dan membuka lahan baru, tidak seharusnya berprilaku mentelantarkan lahan yang ada, sehingga lahan yang ada tidur dan tidak produktif”. (lagi…)

Kegelisahan Masyarakat Irak: Potret Puisi Perang Mei 2, 2008

Posted by wawasanislam in sastra.
3 comments

Oleh Yulizal Yunus

Kalau sastra itu mir’at shafiyah lil-hayah (cermin murni kehidupan), maka Puisi Irak kontemporer tak mustahil dapat merekam kehidupan masyarakat di negara arab yang sedang mengalami disorder pasca agresi AS dan runtuhnya kepemimpinan Sadam Husein itu. Artinya yang runtuh itu kekuasaan Sadam tetapi sastra (cerkan dan puisi) tidak pernah mati meski dihantam harb (perang) dengan ribuan ton bom negara paman sam, sang paman yang tidak ramah itu. (lagi…)