Pesisir Selatan Maret 9, 2009
Posted by wawasanislam in nasionalisme, opini.8 comments
PENYEHATAN IKLIM BUDAYA
DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
/ Yulizal Yunus
Pertanian satu di antara sembilan struktur pembangunan di Pesisir Selatan. Pertanian berada pada pilar ekonomi, lingkupnya tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan dan perikanan. Sembilan struktur pembangunan di Pesisir Selatan itu adalah pertanian, pertambangan dan galian, industri dan pengolahan, listrik- gas dan air bersih, bangunan dan kanstruksi, perdagangan – hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan – persewaan dan perusahaan, serta jasa. Dua tahun terakhir pertanian menunjukkan perkembangan signifikan terutama dalam pembukaan lahan baru persawahan rakyat, pemanfaatan lahan tidur, pencarian jenis tanaman yang cocok dan pemberdayaan dalam bentuk penyediaan dana modal pendamping prtanian. Pada kegiatan pembukaan sawah baru itu saja, dipastikan ada amanat pembangunan, penyehatan iklim budaya (lagi…)
Jampi-jampi Lagan Maret 9, 2009
Posted by wawasanislam in adat minangkabau, budaya, islam.add a comment
antara Tauhid, Mistik dan Sastra
Pengantar Yulizal Yunus untuk Bakri Dusar
Jampi-jampi, one of the Indonesian words for putting
a curse on someone, has been severely criticized especially by strict Moslem. However, the use of it
in protecting life still perpetuate including among Moslem. One of the cases in question is that which occurs in Lagan, a village in the sub-district of Ranah Pesisir. Under
the influence of Islam, jampi-jampi – in the form of prayings – is not only used for protecting life, but also
for helping realize the will of people.
Hadirnya jampi-jampi secara sosiologis ada kaitanyan dengan sikap budaya masyarakat tradisional pedesaan dalam pola hidup sehat, sejahtera dan aman.
Sikap budaya hidup sehat penduduk pedesaan itu dipolakan dalam konsep-konsep tentang penyakit, konsep esksistensi (keberadaan) manusia dalam macro cosmos di samping konsep sebab akibat dari tindakan baik atau buruk.
Jampi-jampi mempunyai kekuatan magis dan super natural (lagi…)
Sistim Kepemimpinan Minangkabau Maret 6, 2009
Posted by wawasanislam in adat minangkabau, budaya, opini.2 comments
Oleh: Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo[1]
I. Pemimpin dan Nagari Minang
Dari perspeltif menejerial, leadership (kepemimpinan) adalah kemampuan dan seni seorang leader (pemimpin) dalam memotivasi dan mengkoordinasikan personal/ kelompok dalam melaksanakan tupoksi, kewenangan dan tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama.
Leader terkemuka di Nagari (desa Minang sekarang) pihak penyelenggara pemerintahan adalah Wali Nagari dan Bamus dan dari pihak subkultur (budaya khusus masyarakat) adat Minangkabau adalah KAN. Trio (tiga) pemimpin nagari ini sebenarnya berpotensi mengambil posisi trias politika seperti yang ditunjukan dalam sejarah kepemimpinan di nagari Minang dahulu ketika pemerintahan nagari itu setangkut dengan pemerintahan adat. Pembagian kekuasaannya: (1) Wali Nagari sebagai kepala pemerintahan berfungsi eksekutif, (2) Bamus sebagai legislatif lembaga musyawarah pihak pemerintah bersama lembaga musyawarah pihak masyarakat adat KAN, sedangkan (3) KAN sendiri difungsikan kembali seperti KN (Kerapatan Nagari) dulu berfungsi sebagai lembaga yudikatif (lembaga penegak hukum) di nagari. Bamus dan KAN bisa-bisa saja seperti kabinet dua kamar di Australia yakni majeis rendah dan majelis tinggi. (lagi…)
Pemahaman tentang Nagari Maret 6, 2009
Posted by wawasanislam in adat minangkabau, budaya, islam, opini, sejarah.2 comments
/ Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo[1]
I. Pendahuluan
Kebijakan “kembali ke nagari” sebagai strategi pelaksanaan otonomi daerah di Sumatera Barat mengundang pembicaraan hangat publik. Tidak saja pasalnya disebut-sebut implementasinya setengah hati, bahkan disebut sebagai “lebih parah”, paradoksal dan dehumanisasi. Parodoksal, teramati, dulu ketika pemerintahan desa melaksanakan UU 5/1979 dan Perda Sumar No.13/ 1983, nagari tidak pecah dan kelembagaan adat esksis, sekarang di era otonomi daerah melaksanakan UU 22/ 1999 diganti dengan UU 32/ 2004 plus UU 08/2005 dan Perda 09/2000 direvisi Perda 02/2007, justru nagari lama menjadi pecah (lagi…)
Melaksanakan Kembali Hidup Banagari Berbasis Surau dan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Maret 6, 2009
Posted by wawasanislam in adat minangkabau, budaya, islam.add a comment
Oleh Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo[1]
Nagari ketika berubah menjadi Desa, otomatis janji orang Minang jadi usang malah lupa. Janji itu “syarak mangato adat mamakai” implementasi falasafah “Adat Basandi Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK). Tak cukup Perda Sumatera Barat No.13/1983 menguatkan apalagi memenuhinya. Apakah otonomi daerah di Sumatera Barat sekarang dengan sistim “kembali ke Nagari berbasis Surau” sebagai implementasi UU No.22/ 1999 dan Perda Sumatera Barat No.9/ 2000 mampu mengisi janji itu?.
ABS-SBK dari catatan Mestika Zed (2002:4) sering muncul dalam perbagai istilah yang bergonta ganti: sebagai falsafah atau pandangan hidup sebagai kebudayaan, tradisi, visi, identitas atau adat itu sendiri dll. Sejauh diikutinya tidak satupun yang membahasnya dalam pespektif perbandingan istilah (cross terminology), meski pun sudah cukup banyak lembaga yang menyeminarkannya dan dicatatnya. Pada bagian lain Mestika Zed (2002:6) mencoba menyimpulkan gagasan ABS-SBK dari pendapat berkembang, pertama doktorin sosial orang Minangkabau, kedua mempunyai fungsi patokan value (nilai), ketiga sebagai doktorin sosial tidak statis. Ia juga menjebut sebagai efistomologi pemikiran Minangkabau yang sarat dengan cara pandang filosofis. Pemikiran ini mengajak berfikir lebih dalam lagi mendekati adat Minang dalam kaitan dengan Islam. Sebab satu sisi adat lebih banyak mengambil contah pada alam dibanding kepada Islam, meskipun Islam sejak awal turunnya menawarkan perintah iqra’ yang dapat dimaknai sebuah perintah membaca alam.
Terlepas dari pro kontra memaknai ABS-SBK ini, ada baiknya menetapkan sikap menyebutnya sebagai doktrin sosial orang Minangkabau, yang dalam tataran ini orang Minang masa lalu merumuskan dirinya sebagai kelompok masyarakat beradat, keluar dari diktum ini seperti yang disebut Mestika Zed mengutip Taufik Abdullah berarti keluar dari ke-Minangkabauannya. Satu hal yang menjadi pemikiran, kalau istilah masih tidak dimengerti dan terjebak dalam perdebatan panjang, kapan lagi mau mensosialisasikannya, sebagai sebuah janji (di Bukit Marapalam) oleh para pemuka adat dan Islam.
Pengkhianatan (meminjam istilah Wisran Hadi) (lagi…)
Wako Padangpanjang Membangun Didukung Pusako Tinggi Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in adat minangkabau, opini.8 comments
/ Yulizal Yunus
Cukup banyak pilar-pilar sukses Wali Kota Padang Panjang dr. dr. H. Suir Syam, M.Kes, MMR membangun. Non pisik bidang budaya dan pendidikan, berhasil memfasilitasi penggalian adat budaya yang tumbuh, kembang dan dipakai di salingka 3 nagari Padang Panjang yakni Gunung, Lareh Nan Panjang dan Bukit Surungan, saya satu di antara penulisnya bersama Armen, diterbitkan dalam 6 jilid buku ajar muatan lokal BAM SD-SMP sejak tahun 2004. Plus memfasilitasi penulisan 6 jilid buku Budi Pekerti dan 12 jilid buku bahasa arab yang menceritakan lokal Padang Panjang diajarkan di Pendidikan Dasar dan Menengah. Bidang pisik tercover kecendekiaan Wako bersama masyarakat adat dipimpin penghulu (angku Datuk) diperkuat unsure progresif (stakeholders kebijakan) dan aliansi strategis lainnya (seperti peneliti perguruan tinggi terutama STSI dan aktor pembangunan lainnya) menjadikan pusako tinggi sebagai investasi mendukung pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang monumental di Padang Panjang terakhir setelah Rumah Sakit megah menyusul Kebun Raya. (lagi…)
Penjelasan Pertanyaan Kehadiran Tuhan dalam Sastra Juni 11, 2008
Posted by wawasanislam in sastra.3 comments
/ Prof. Dr. Salmadanis, MA
Seminar Internasional dan Baca Puisi dalam 55 Tahun Taufiq Ismail tanggal 28 Mei 2008 bagi saya amat menarik. Ditayangkan TVRI Sumbar sore itu dalam siaran langsung (live), menambah wibawa event sastra internasional itu.
Apalagi para pembicara dikenal para pakar dan kritikus sastra sekaligus ada di antaranya yang sastawan. Mereka ialah Dr. Ismet Fanany (Deakin University Australia)/ Karya Taufiq sebagai Bahan Pendidikan Sejarah, Dr. Rebecca Fanany (Swinburne University, Australia)/ Karya Taufiq dan Sastra Dunia, Darman Moenir (sastrawan)/ Karya Taufiq dalam Gerakan Pembudayaan Manusia Indonesia, Dr. Ir. Raudha Thaib, MP (Unand)/ Kebesaran Taufiq dan Kecenderungan Budaya Minangkabau serta Yulizal Yunus (Fakultas Adab/ Sastra IAIN IB)/ Karya Taufiq dalam Khazanah dan Perkembangan Kesusasteraan Islam di Indonesia dan dipandu pula sastrawan besar Wisran Hadi. (lagi…)